Ucapan

SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!

Selasa, 21 Februari 2012

Pergi ke Pesantren, Anak Hilang

Pontianak – Devi, warga Gang Baru 3, Siantan Tengah sampai saat ini kebingungan. Putra sulungnya, Arisuratna, 14 menghilang ketika berangkat menuju pesantren tempatnya mondok di Desa Parit Surabaya, Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Diceritakan Devi, kejadian bermula, Aris pulang ke rumah lantaran sakit cacar. Sekitar sebulan beristirahat di rumah, Aris pun bermaksud sekolah lagi. Walaupun siswa kelas 1 SMP ini belum sembuh benar.
Jumat (10/6) sekitar pukul 08.00, Devi mengantar anaknya ke dermaga di Siantan. Menggunakan motor air, Aris menuju pesantren tempatnya menimba ilmu.
“Saya pun lupa nama pesantrennya. Yang pasti pesantren tersebut di Parit Surabaya, Sungai Ambawang,” ujar Devi ketika dihubungi Equator via selular, Sabtu (11/6) siang.
Usai motor air tumpangan anak kesayangannya berangkat, Devi pun pulang. Namun sore harinya kakak sepupu Aris yang juga mondok di pesantren tersebut menelepon Devi. Dia menanyakan mengapa Aris belum juga sampai.
Terang saja Devi terkejut. Sebab dia sendiri yang mengantar putranya ke dermaga untuk naik motor air. Devi berusaha mencari keberadaan Aris. Bahkan pihak keluarga teman-teman Aris sudah dihubungi, namun tidak juga mendapatkan informasi mengenai keberadaan Aris.
Dikatakan Devi, saat berangkat Aris mengenakan baju warna hitam dan celana pramuka. Ia pun membawa uang Rp600 ribu untuk keperluan biaya pendidikannya tersebut. Sementara ciri-cirinya, seluruh tubuh Aris penuh luka cacar. “Saya juga sudah bertanya kepada orang-orang di dermaga Parit Surabaya. Katanya tidak ada Aris berhenti di dermaga Parit Surabaya,” ujarnya.
Hingga saat ini Devi terus berusaha mencari putra kesayangannya tersebut. Dia mengharap bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan anaknya itu agar dapat menghubunginya.
“Bagi warga yang mengetahui keberadaan anak saya agar dapat menghubungi ke nomor saya, yaitu 081352561553. Dapat juga diantar langsung ke Gang Baru 3 RT 003 Rw 025, Siantan Tengah atau melaporkan ke aparat kepolisian terdekat,” pintanya. (arm)

Kiki, Pulanglah

Kiki Nurhaliza
Istimewa
Kiki Nurhaliza
Nanga Pinoh – Sudah hampir seminggu Kiki Nurhaliza, 14, warga Nanga Pinoh menghilang. Siswi kelas 3 SMP Negeri 1 Nanga Pinoh ini menghilang sejak Senin (30/1) silam.
Menghilangnya anak pertama dari dua bersaudara itu membuat orang tuanya panik. Telah dicari ke mana-mana, namun tanpa hasil. “Keberadaan Kiki tidak diketahui semenjak Senin lalu,” kata Yunita, ibunda Kiki saat bertandang di kantor Biro Harian Equator Melawi, kemarin.
Selama ini Kiki tinggal bersama Sri Yani, bibinya di Nanga Pinoh. Sementara Yunita sendiri tinggal di Sintang. Sore Senin sebelum menghilang, Kiki ke rumah Yunita di Sintang. Kiki meminta uang dan HP kepada ibundanya. Setelah keperluannya terpenuhi, Kiki pamit pulang.
“Sore Senin Kiki dari Nanga Pinoh ke Sintang. Dia sangat tergesa-gesa ke rumah saya. Hanya sebentar saja. Langsung pulang lagi. Namun, sampai hari ini masih belum ada kabarnya,” cerita Yunita sedih.
Berbagai daya dan upaya dilakukan Yunita dan suaminya. Mulai mencari ke kediaman sanak famili bahkan ke rumah teman-temannya. Termasuk meminta Harian Equator untuk menginformasikan kehilangan Kiki. Harapannya, agar Kiki bisa kembali dalam keadaan sehat.
“Siap saja yang mengetahui keberadaan Kiki agar bisa memberi tahu kami di nomor 082152967477. Kiki, pulanglah, Nak,” ungkap Yunita mengusap air matanya. (aji)

Menghilang Sejak Malam Valentine

Deli Marni
Antonius Sutarjo
Deli Marni
Ngabang – Sejak malam Valentine, Selasa (14/2) lalu, Deli Marni, 16, putri sulung Anton tidak pulang ke rumah. Kedua orang tua Deli menantikan kedatangan anaknya. Perasaan cemas menghantui Anton dan istrinya semenjak putrinya menghilang.
“Jika Deli Marni ini pulang, saya tidak akan memarahinya. Malah saya akan menaburkan beras kuning sebagai ungkapan syukur kembalinya Deli ke rumah,” kata Anton, warga Desa Pawis, Kecamatan Jelimpo, Kamis (16/2).
Ayah enam anak ini mengakui dirinya sedikit keras dalam mendidik anak-anaknya. Anton mengira Deli takut pulang karena akan dimarahi. “Saya sangat sayang sama anak. Saya janji jika Deli pulang saya tidak akan marah,” ungkapnya.
Pria yang sehari-harinya hanya bertani ini mengungkapkan, Deli waktu pergi dari rumah tidak pamit. Saat itu Anton dan istrinya tidak ada di rumah. “Saya panen padi di sawah yang jauh dari kampung. Pada saat itulah Deli pergi,” ujar Anton.
Siswi kelas dua SMPN Pawis, Kecamatan Jelimpo ini pergi dari rumah Selasa (14/2) pagi. Kata tetangga yang melihat kepergiannya, gadis tersebut naik angkutan umum arah Ngabang. Padahal Deli tidak punya uang. “Mungkin untuk bayar ongkos angkutan tidak bisa,” jelas Anton.
Amelia, bibi Deli, mengatakan keponakannya sedikit pendiam. Kalau pergi ke Ngabang untuk belanja biasanya pakai celana jeans panjang warna biru dan membawa tas kecil berwarna merah.
“Ciri-cirinya, rambutnya pendek sebahu, kulit kuning langsat, tinggi badan sekitar satu setengah meter, suka membawa tas kecil merah kalau ke Ngabang, orangnya sedikit pendiam,” kata Amelia.
Ayah dan bibinya sudah mencari ke mana-mana. Beberapa rumah temannya juga sudah didatangi. Bahkan rumah keluarga di Pontianak dan Banyuke. “Hotel-hotel yang ada di Ngabang sudah saya cek satu per satu, tapi juga tidak ditemukan,” jelas Amelia.
Rencananya Anton dan Amelia akan melaporkan kehilangan Deli ke kantor polisi. Siapa melihat ciri-ciri yang sudah disebutkan, harap menghubungi ke nomor HP Anton 085750136851 dan Dana 085250898948. (tar)

Senin, 20 Februari 2012

Salah Kaprah Valentine Day

Pontianak – Valentine Day identik dengan ungkapan kasih sayang. Celakanya, hari bernuansa pink itu sudah diselewengkan sebagian generasi muda kita dengan ungkapan seks bebas.
“Seharusnya umat Islam tidak perlu merayakan hari tersebut. Karena mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya. Masih banyak yang perlu dicontoh terutama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW,” tutur Dr KH Zuhri Maksudi Msi, Pimpinan Pondok Pesantren Walisongo Pontianak.
Amat disesalkan bahwa makna kasih sayang Valentine berubah menjadi seks bebas, telah memberikan wajah lusuh remaja kita. “Kita mulai dari rumah tangga, harus memberikan fondasi dan pengetahuan agama yang kuat untuk anak-anak. Sehingga anak-anak sudah siap jika keluar rumah,” kata Zuhri.
Hal senada diungkapkan oleh Pendeta Ir Iwan Luwuk. Kasih sayang harus diungkapkan setiap saat tanpa perlu momen tertentu seperti Valentine Day. Jika ungkapan kasih sayang Valentine dilakukan dengan seks bebas, jelas menyimpang. Kasih sayang harus diungkapkan dengan hal-hal yang baik.
“Pada dasarnya Valentine Day merupakan suatu yang baik. Menanamkan rasa kasih sayang satu sama lain. Hanya sekarang ini generasi muda kita salah artikan. Mengungkapkan kasih sayang itu dengan hal-hal yang negatif sampai melakukan seks bebas dengan pasangannya yang belum sah,” ungkap Ketua Lab Mikro Konseling STAIN Pontianak, Dra Hj Fauziah MPd, kepada Equator, Sabtu (18/2).
Menurutnya, padahal kalau Valentine Day diungkapkan dengan hal-hal yang positif tidak ada masalah. Justru manusia dianjurkan untuk menanamkan sifat saling mengasihi dan menyayangi. Jangan sampai karena sayang yang berlebihan mengorbankan kehormatannya.
“Oleh karena itu, makna Valentine Day jangan diselewengkan. Para remaja dan generasi muda harus paham apa makna sebenarnya. Tanamkan betul bahwa di setiap manusia diperintahkan untuk saling mencintai dan melindungi. Tetapi bukan direalisasikan dengan hal-hal yang negatif,” jelas Fauziah yang juga Pembina Pusat Informasi Konseling Mahasiswa (PIK M) STAIN Pontianak ini.
Fauziah menyarankan, bagi yang memperingati Valentine Day mestinya dengan kata-kata yang memotivasi. “Saya menyarankan kepada orang tua untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Valentine Day. Selain itu juga perlu mengontrol pergaulan anak. Jangan sampai pergaulan bebas tanpa norma agama lagi,” sarannya.
Guru-guru yang ada di sekolah pun harus mewanti-wanti kepada siswa tentang Valentine Day. “Kalau ada siswa yang terjebak pada pergaulan yang salah jangan langsung disalahkan dan diberi hukuman. Tetapi yang paling penting berikan dulu mereka pemahaman, sehingga tidak lagi disalahartikan,” harapnya.
Fauziah juga menambahkan, dalam Alquran Surat Ar-Rahman banyak menjelaskan tentang kasih sayang. Di sana digambarkan bagaimana Allah menyayangi hamba-hambanya melalui berbagai ciptaannya. Seperti buah-buahan dan nikmat lainnya yang tidak terbatas.

Tak perlu momen

Lantas, apa sih yang dipahami siswa-siswi SMP maupun SMA di Kota Pontianak tentang Valentine Day? Sarif Mah Afandi, siswa SMKN 2 Kota Pontianak mengatakan Valentine Day itu tidak seharusnya melakukan perbuatan zina dan sebagainya.
“Yang namanya Hari Kasih Sayang itu kan sebenarnya dilakukan setiap hari, dan tidak perlu merayakannya menunggu momen. Jangan merayakannya dengan cara berlebihan, cukup kita baik dan sayang sama orang tua itu sudah luar biasa,” kata Sarif, kepada Equator, (18/2).
Menurutnya, bagi umat Islam sudah pasti haram merayakan hari Valentine itu. “Kalau ada umat Islam yang merayakan Valentine berarti dia sudah melakukan dosa besar. Karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk merayakan Hari Valentine,” ucapnya.
Sarif menambahkan, kalau non-Islam ya sila-silakan. Tapi kami yakin tidak mungkin agama lain mengajar kepada umatnya merayakan malam V-day harus melakukan perbuatan menyimpang dari agama.
Husein, siswa SMP 20 Kota Pontianak, juga mengatakan Hari Valentine itu kan Hari Kasih Sayang. Jadi Hari Kasih Sayang itu sebenarnya sudah kita lakukan setiap hari jadi tidak perlu merayakannya.
“Apalagi merayakan Hari Valentine itu harus dengan seks bebas, cukup saja kita sayang sama orang tua dan sama teman-teman kita yang wajar. Kalau udah melakukan perbuatan yang melanggar agama sih tidak boleh,” ujarnya.
Sarif berharap, para remaja tidak salah gunakan dari hari valentine itu karena bisa memberikan kesan Hari Valentine itu jadi jelek.
“Padahal Hari Valentine itu bagus untuk non-Islam. Karena di hari itu mengajarkan kasih sayang sama umatnya. Kalau Islam sih memang setiap hari yang namanya kasih sayang,” ungkapnya.
Salah satu siswa SMP Abdi Wacana kelas VIII, Desi, menilai Hari Valentine adalah Hari Kasih Sayang dan spesial, romantis sama seseorang yang dicintai. Memperingatinya tidak seperti anak-anak saat harus dengan berhubungan seks dan sebagainya.
Valentine Day itu sebenarnya bertukar kado sesama teman maupun pacar. Seperti, tukar cokelat dan hadiah dan lainnya. “Kalau berhubungan seks sih sudah keterlaluan, dan sudah melanggar aturan agama,” ujarnya.
Berbeda, Sari Rahmadaniah, siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak kelas X, mengatakan bahwa Valentine Day itu tidak diajarkan dalam agama Islam karena tidak mesti hari kasih sayang itu dilakukan hanya Hari Valentine. “Kalau menurut agama lain, ya sah-sah saja. Karena sesama makhluk hidup itu harus saling menyayangi di mana pun dan kapan pun,” katanya.
Begitu juga dengan Ahmad Arif Lisetya, siswa SMKN 4 Pontianak, Valentine Day itu bukan perayaan umat muslim, karena datangnya dari Barat dan membawa dampak tidak baik bagi generasi muda.
“Jadi kita tidak usah merayakannya dengan apa-apa. Bila perlu dihapus Hari Valentine itu. Apalagi generasi muda banyak yang salah artikan mengungkap kasih sayang dengan melakukan sek bebas,” tegasnya. (kie/fiq/hak)

Cokelat dan Kondom di Hari Valentine

Pontianak – Tidak ada larangan merayakan Valentine Day di Indonesia, di Kota Pontianak, atau di dusun ujung Kalbar. Di hotel-hotel, kafe, atau karaoke di ibu kota provinsi ini sejumlah remaja dan orang dewasa menggelar pesta hari kasih sayang itu. Mereka berbagi kasih lewat bunga, cokelat, atau kado lainnya yang bernuansa pink.
Entah bagaimana jalannya, Valentine Day menjadi gaya hidup yang katanya modern itu, berbuntut mesum. Revolusi teknologi informasi sejenis internet, telah menebarkan paham seks bebas di hari kasih sayang. Cokelat pun telah tersusupi kondom. Dan para remaja, bahkan yang masih bawah umur, mengabsahkan seks bebas di malam Valentine.
Benarlah, sejumlah petugas Satpol-PP Kota Pontianak bersama jajaran polisi dan TNI berhasil menjaring 15 pasangan mesum dalam kamar hotel dan di rumah indekos. Rata-rata belasan tahun, terutama putrinya.
“Malam Valentine biasanya remaja pesta seks, sehingga kami perlu melakukan razia di indekosan dan hotel. Kami razia atas informasi masyarakat. Dan memang berhasil mengamankan pasangan muda-mudi tanpa surat nikah itu,” ungkap Ir H Sy Saleh Alkadrie, Kepala Satpol-PP Kota Pontianak, Selasa lalu (14/2).
Ternyata mereka ada yang masih sekolah. Di Hotel Guest House ditemukan pasangan belia tidur berpelukan hanya mengenakan celana dalam. Dua bungkus kondom tercecer di lantai dan ada yang sudah digunakan.
Dari 15 pasangan itu–kebanyakan bawah umur–diakui Satpol PP yang menggelandang dan memeriksa identitas mereka berupa kartu pelajar. Begitu pun di Hotel Patria Jalan HOS Cokroaminoto, seorang anak SMA dipergoki tanpa busana.
Petugas juga menggerebek pasangan mesum di Indekos Puri Kencana. Pasangan seks bebas yang masih berusia belasan itu ditemukan hanya bercelana dalam. Ketika digerebek petugas, pasangan wanita itu tersipu malu sambil menutup bagian vital tubuhnya. Berlanjut di indekos Jalan Imam Bonjol, satu pasangan mesum berpakaian dalam malu-malu menunjukkan identitasnya. Tanpa maaf mereka digiring Satpol PP ke markasnya untuk diidentifikasi.
“Mereka yang terjaring langsung dikenakan tipiring dan petugas memanggil orang tua untuk menjemput anaknya. Mereka yang terjaring kebanyakan bilang sama orang tua mau belajar ke tempat teman. Kenyataannya bersama pasangan melakukan seks bebas,” ungkap Syarif Saleh.
Tentu tak hanya pelaku belia yang dikenakan tipiring. Pemilik hotel dan tempat indekos pun akan kena sanksi. “Apalagi kalau tempat-tempat yang tidak ada izinnya, akan kita berikan peringatan kalau tidak mengindahkan akan kita tutup saja. Kita akan bekerja sama dengan dinas terkait,” katanya.
Ketua P3 Satpol-PP Kota Pontianak Kus Panca Diarto, meneruskan kasus mesum 15 pasangan yang terjaring itu bekerja sama dengan pihak pengadilan. “Nah, mereka ini akan terkena pasal 44 ayat 1 Perda 1 Tahun 2010. Bahwa setiap orang dilarang menggunakan tempat untuk perbuatan mesum dan bukan suami istri yang sah. Sanksinya lumayan, ancaman 3 bulan kurungan dan denda Rp 50 juta,” ungkapnya. (hak)

Jual Dua Gadis, Diringkus

Pontianak – Satuan Reserse dan Kriminal Umum Sub Unit Remaja Anak dan Wanita Polda Kalbar mengungkap jaringan prostitusi anak yang beroperasi di hotel-hotel Kota Pontianak.
Pelaku penyalur berinisial AA alias Al, 22, ditangkap polisi di salah satu hotel Jalan Imam Bonjol, Kamis (2/2) dini hari. “Kini pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk kepentingan penyelidikan,” kata AKBP Mukson Munandar, Kabid Humas Polda Kalbar, Jumat (3/2).
Warga Jalan Merdeka Pontianak tersebut berperan menghubungi anak bawah umur. Kemudian dijual untuk melakukan praktik prostitusi. “Diduga modus tersebut sudah lama dijalankan tersangka,” jelas Mukson.
Gadis bawah umur yang dijual AA yang diketahui baru dua orang, berumur 16 dan 18 tahun. Keduanya dijual untuk melayani penikmat dunia prostitusi yang telah menunggu di hotel. Tarif untuk melayani tamunya juga ditentukan AA. “Korban mendapat imbalan sesuai kesepakatan yang dibuat tersangka,” ungkap Mukson.
Tersangka memasang tarif tinggi untuk menikmati sang gadis, rata-rata Rp 1,7 juta. Kemudian wanita tersebut hanya mendapatkan Rp 700 ribu. Aksi menjual anak untuk terlibat dunia prostitusi disinyalir sudah lama AA lakukan.
Mukson mengatakan AA ditangkap saat sedang menjual gadis bawah umur di hotel Jalan Imam Bonjol, Pontianak. Bahkan korban sudah berada di kamar hotel bersama pemesan. Penangkapan dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari masyarakat. “Tersangka ditangkap setelah melalui penyelidikan secara intensif,” kata mantan Kabag Bin Ops Ditnarkoba Polda Kalbar.
Belum sempat mencicipi tubuh gadis bertubuh mungil tersebut, pria hidung belang bersama korban dan AA digelandang ke Mapolda Kalbar. Mereka diminta keterangan. Bahkan pengelola hotel juga bakal diperiksa terkait keberadaan anak bawah umur bisa masuk kamar hotel secara bebas.
“Kita mensinyalir tidak hanya satu hotel tempat tersangka menjalankan aksi prostitusi anak,” ungkapnya.
Apalagi, kata Mukson, modusnya tersangka selalu menghubungi korban melalui telepon. Meminta korban datang ke hotel dan tersangka menunggu di sana. “Kemudian pelaku mengantar korban untuk menemui tamu yang sudah berada di kamar hotel,” jelas Mukson seraya mengatakan tersangka bakal dijerat UU Nomor 23/2002 pasal 88 tentang Perlindungan Anak atau UU Nomor 21 tentang Perdagangan Orang. (sul)

Prostitusi Anak, Kentalnya Kepentingan Orang Dewasa

Pontianak – Dari 277 laporan kekerasan terhadap anak yang diterima Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Kalbar pada 2011, yang memiriskan ternyata 179 berupa prostitusi anak dengan 98 kasus kekerasan seksual.
“Begitu juga data terakhir tahun 2012 yang masuk terdapat 43 anak yang terlibat prostitusi dan positif mengidap infeksi menular seks (IMS) sebanyak delapan orang,” ungkap Devi Tioman, Ketua YNDN kepada Equator, Sabtu (18/2).
Tegas-tegas Devi mengungkapkan bahwa pelakunya prostitusi maupun korban kekerasan seksual masih di bawah umur. Bahkan masih duduk di bangku SMP dan SMA. “Memang pelaku prostitusi ini anak umur dari 14 sampai 18 tahun. Sedangkan kekerasan seksual kebanyakan dilakukan oleh pihak keluarganya,” ujar Devi.
Dampak prostitusi anak sangat menyedihkan dan paling mengerikan adalah tertular penyakit kelamin. “Mereka kebanyakan mengidap IMS dan tiga di antaranya tertular HIV. Bahkan tahun 2011 satu orang yang meninggal akibat HIV/AIDS. Sedangkan pada 2012 baru satu anak yang ditemukan mengidap HIV. Dan sampai sekarang masih aktif menjajakan seks,” ungkap Devi.
Negara dan Pemerintah Indonesia belum mampu membangun sistem perlindungan anak permanen. Keinginan untuk menjamin perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak sebagaimana tertuang dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang sudah memasuki usia 10 tahun, juga masih belum terjamin.
“Pelanggaran terhadap hak-hak anak tiap tahun malah menunjukkan trend yang meningkat kualitas dan kuantitasnya. Bahkan pelanggaran juga didominasi oleh institusi negara, yang harusnya menjamin perlindungan dan pemenuhan hak anak. Seperti pendidikan, lembaga pengasuhan, lembaga penegak hukum, dan pelanggaran yang dilakukan oleh keluarga dan orang tua,” urai Devi.
Pelanggaran yang dilakukan oleh institusi dan keluarga menurut Devi sering ditutupi. Bahkan nyaris tidak tersentuh hukum, karena kentalnya kepentingan orang dewasa.
“Padahal dampak bagi anak sangat memprihatinkan dan sering berakhir dengan keputusasaan. Ini membuktikan bahwa negara, masyarakat, dan keluarga telah gagal mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan terhadap anak sebagai bagian dari masa depan bangsa. Selayaknya pemerintah sudah mengupayakan sistem pemenuhan dan perlindungan anak mulai dari pusat hingga ke daerah guna mewujudkan masa depan yang lebih baik,” tegas Devi.
Tahun 2011, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar menangani 30 kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Kebanyakan kasusnya terkait prostitusi dan cabul. “Kami hanya mendampingi dan melakukan pemantauan kasus ini sampai ke proses hukum,” ungkap Alik R Rosyad.
Perlu keprihatinan khusus agar anak-anak bawah umur ini bisa dilepaskan dari kasus hukum. Jangan sampai mereka putus sekolah dan tetap menikmati pendidikan. “Jika ABH tetap diproses hukum tentunya memberi peluang untuk melakukan tindak kejahatan,” tambah Alik
Kebanyakan yang ditangani KPAID kasus cabul maupun prostitusi yang dilakukannya dengan cara pengaduan karena faktor ekonomi. “Ini memang fakta yang tidak bisa dimungkiri. Baik dari faktor ekonomi anak itu sendiri atau orang tuanya. Selebihnya lingkungan yang memengaruhi si anak,” ujarnya. (sul)

Sabtu, 18 Februari 2012

BROOM

Kartu Indosat Internet Broom adalah solusi untuk akses internet dengan menggunakan jaringan 3.5G Indosat. Tersedia dengan beragam paket yang ditawarkan, didukung oleh kenyamaan quota, speed dan jaringan berkualitas dari Indosat.

Paket Indosat Internet Broom, terhitung tanggal 1 Februari 2012:
PAKET QUOTA
SPEED
MASA AKTIF
50 ribu
500 MB
384 Kbps
30 hari
100 ribu
2 GB
384 Kbps
150 ribu
3 GB
1 Mbps
200 ribu
5 GB
2 Mbps

Catatan:

  • Paket-paket tersedia dalam bentuk Kartu Indosat Internet Broom.
  • Tarif diatas sudah termasuk PPN.
  • Pengaktifan kartu dan penggunaan hanya di wilayah Indonesia.
  • Isi ulang paket dapat dilakukan dengan voucher Indosat elektrik, fisik dan ATM dengan mencantumkan nomor Customer ID (0814 xxx).
  • Pelanggan lama dapat menikmati paket secara otomatis pada saat melakukan perpanjangan layanan, sisa quota tidak dapat digabungkan dengan paket perpanjangan.
  • Program Bonus Quota untuk pelanggan lama Broom masih tetap berlaku yaitu 20% untuk Februari 2012 dan 20% untuk Maret 2012.

Pegawai Karaoke Koleksi Adegan Mesumnya

Surabaya: Seorang pegawai sebuah tempat karaoke di wilayah Surabaya, Jawa Timur, merekam adegan mesumnya dengan seorang perempuan. Pelaku bernama Dedy Widyagiri serta Yayan ditangkap Kepolisian Sektor Gubeng ketika sedang melakukan razia kamar hotel, Kamis (16/2).

Polisi mendapati Dedy (34) dan Yayan (23) dalam kondisi telanjang bulat di dalam kamar hotel. Diduga keduanya usai melakukan hubungan layaknya suami istri. Polisi menemukan sebuah telepon genggam berisi adegan panas layaknya suami istri. Video porno berdurasi lima menit.

Di depan penyidik, keduanya mengaku baru pertama kalinya merekam hubungan intim. Mereka berniat mengabadikan adegan mesumnya sebagai koleksi. Polisi langsung mengamankan keduanya. Mereka dijerat pasal 34 Undang-undang Pornografi dengan ancaman empat tahun penjara.(JUM)

Warga Sebadok Pulang, Sario Masih Shock

Warga Sebadok pulang dikawal polisi
Antonius Sutarjo
Warga Sebadok pulang dikawal polisi
Ngabang – Sejumlah pengungsi Dusun Sebadok di Gedung Swadaya tampak tersenyum, kendati ada juga yang lelah. Orang tua dan anak-anak diperiksa kesehatannya oleh tim medis Dinas Kesehatan dan RSUD Landak, Rabu (15/2).
Tak kurang 500 pengungsi yang ketakutan oleh kematian beruntun yang akhirnya resmi dinyatakan akibat keracunan, kemarin dipulangkan ke kampung halamannya.
“Sekarang sudah boleh pulang. Tidak ada lagi yang perlu kalian takuti di sana. Semua tim dari Dinas Kesehatan sudah memastikan bahwa penyakit itu bukan menular,” kata Wakil Bupati Herculanus Heriadi SE saat melepas kepulangan warga.
Dia berpesan, sesampai di kampung nanti jangan terpancing lagi dengan pembicaraan yang simpang siur. “Walaupun jenis penyakit belum diketahui tetapi yakinlah tidak menular. Tim medis dapat menjadi acuan. Kalau ada yang mengembus isu-isu tidak benar jangan didengar,” ingatnya.
Tampak melepas juga Plt Kadis Sosial Tenaga Kerja Alexsius Asnanda, Kepala BPBD Landak Wibersono L, Kasat Pol PP Banda Tolaga.
Pemkab tetap memantau perkembangan warga dan telah menerjunkan tim medis untuk menginap di Sebadok beberapa hari untuk observasi. Aparat keamanan juga akan menginap dan sudah koordinasi.
Selain itu, ubahlah tata cara hidup yang kurang sehat sebelumnya, setelah sampai di kampung nanti bersihkan rumah masing-masing, karena sudah lama ditinggal mungkin ada kotoran tikus yang terkena perabotan dapur, karena itu juga dapat menebarkan penyakit, pesan wabup.
Pantauan Equator di lapangan, warga dikawal oleh Pol PP bersama Kasat Banda Tolaga, Kepala BPBD Wibersono L.Jdait. Camat Jelimpo, sejumlah petugas keamanan, perwakilan dari kodim serta petugas dari kesehatan juga ikut serta sampai ke Dusun Sebadok. Empat unit truk dikerahkan mengangkut pengungsi dari kodim satu unit, polisi satu unit, pemda dua unit.
Menempuh jarak 15 km dari simpang Kelawar dengan kondisi jalan tanah serta tanjakan terjal, tiga jam perjalanan sampai ke Sebadok. Sudah ada aktivitas warga yang membersihkan rumah. Tapi kediaman David Budai, 63 ketua RT 06 masih terkunci. Begitu juga rumah Atek ayah Ego juga masih terkunci.

Masih shock

Equator menyempatkan diri mengunjungi Sario, korban selamat yang melayat ke rumah Atek. “Sesampai di rumah Atek saya memberikan uang titipan kepada Atek. Sebagian warga lagi masak-masak di halaman. Saya tidak makan anjing dan ayam yang sudah masak itu. Hanya minum segelas kopi,” tutur Sario.
Setelah empat orang meninggal hampir bersamaan, warga panik dan disuruh menutup pintu rumah masing-masing. “Melihat warga lari ke gereja kami pun pergi ke Berinang dusun sebelah. Dalam perjalanan tiba-tiba badan saya dingin kepala pusing. Saya terjatuh di kerumunan warga namun tidak ada yang menolong karena takut menyentuh badan saya,” ungkap Sario.
Karena sakit dia memilih tinggal di kampung bersama beberapa keluarga korban. “Namun sekarang setelah makan obat rasanya sudah membaik. Tapi ingatan saya masih kurang juga sekarang,” akunya (tar).

Kamis, 16 Februari 2012

Kota-Kota Terbaik untuk Tempat Tinggal



Singapore

Berdasarkan Mercer 2011 Quality of Living Survey, berikut ini adalah kota-kota dengan kualitas hidup terbaik di Asia Pasifik.


Lima kota terbaik didominasi oleh kota-kota di Australia: di urutan kedua ada Sydney (urutan 11 secara internasional), Melbourne (18) di urutan keempat, dan Perth (21) di urutan kelima.
Meskipun demikian, kota di urutan teratas di Asia Pasifik adalah Auckland (3), Selandia Baru. Kota lain di Selandia Baru yang masuk urutan lima besar di Asia Pasifik adalah Wellington (13).
Kota-kota yang berada di urutan berikutnya adalah Singapura (25), Tokyo (46), Hongkong (70), Kuala Lumpur (76), Seoul (80), dan Taipei (85).
Untuk jelasnya, berikut ini 11 kota terbaik di Asia Pasifik:
  1. Auckland,
  2. Sydney,
  3. Wellington,
  4. Melbourne,
  5. Perth,
  6. Singapura,
  7. Tokyo,
  8. Hongkong,
  9. Kuala Lumpur,
  10. Seoul, dan
  11. Taipei.
Singapura terdaftar di urutan 8 sebagai kota dengan keamanan terbaik di dunia, diikuti oleh Auckland dan Wellington di urutan 9. Canberra, Perth, Melbourne, dan Sydney bersama-sama di urutan 25. Tokyo, Kobe, Nagoya, Osaka dan Yokohama berada di urutan 31.
(Baca: 10 Daerah Terfavorit di Jabodetabek)
“Australia, Selandia baru, dan Singapura mendominasi karena terus-menerus berinvestasi dalam infrastruktur dan layanan publik,” jelas Slagin Parakatil, peneliti senior Mercer.
Meskipun memiliki kota-kota di urutan teratas, beberapa kota Asia terdaftar di urutan bawah. “Sebagian besar karena ketidakstabilan kondisi sosial, politik, bencana alam, dan tak layaknya infrastruktur,” kata Parakatil.

Warga Sebadok Keracunan

Cornelis: Bukan karena Gas

Pengungsi Sebadok di SMPN 02 Behe
Antonius Sutarjo
Pengungsi Sebadok di SMPN 02 Behe yang masih bertahan hingga kemarin. Rabu (15/2) pagi dipulangkan ke rumah masing-masing.
Ngabang – Walaupun belum ada hasil pemeriksaan lab sampel organ dari Jakarta, akhirnya Dinas Kesehatan Kabupaten Landak resmi menyatakan bahwa tewasnya enam warga Dusun Sebadok secara beruntun, Sabtu (11/2), karena keracunan.
“Penyakit yang dianggap virus menular oleh warga Sebadok itu tidak benar. Yang ada hanya keracunan,” tegas Magdalena Nurayni Sitinjak, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Landak, Selasa (14/2).
Di hadapan ratusan warga Sebadok yang mengungsi di Gedung Swadaya dan sejumlah titik pengungsian lainnya, Magdalena mengungkapkan sejumlah alasan berdasarkan gejala penderita sebelum meninggal.
“Gejalanya kejang-kejang dengan mulut berbuih. Salah seorang penderita yang hidup, yakni Sario, ketika diperiksa dr Pius, di kerongkongannya terdapat tanda biru. Sario diduga tidak terlalu banyak termakan racun, makanya dia selamat,” ucap Tinjak.
Karena itu Sitinjak menyarankan warga bisa pulang ke kampungnya karena apa yang ditakuti tidak terbukti. “Hanya saja, warga Sebadok perlu memikirkan cara hidup sehat,” kata Tinjak yang belum tahu jenis racun yang ditelan warga dusun malang itu.
Dinas Kesehatan setempat juga mengambil beberapa sampel sisa makanan dari rumah Atek, yang anaknya Ego dan istrinya Marina tewas. Sampel berupa mi timbang dan nasi. “Sampel sudah dikirim ke Pontianak, kita tinggal menunggu hasilnya,” kata Tinjak.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar dr Andy Jap MKes juga yakin penyebab kematian enam warga dusun itu murni karena keracunan. “Jangan panik dengan isu virus dan sebagainya. Kita anggap musibah yang disebabkan oleh keracunan,” ungkap Andy Jap kepada Equator, Selasa (14/2).
Rabu (15/2) pagi ini, 700 warga Dusun Sebadok, Desa Temahar, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak akan meninggalkan tempat pengungsian. Kemarin mereka diberikan penyuluhan serta pemulihan psikis oleh tim dinas kesehatan, dinas sosial, kepolisian, dan TNI di Gedung Swadaya. Kepala RSUD Landak drg Krisman, mengatakan selama di pengungsian warga berobat gratis. “Jika ada yang sakit silakan datang,” ujarnya.
Sebenarnya kemarin menurut Alxesius Asnanda, Plt Kadis Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, warga dipulangkan. Namun masih ada pantangan dari ketua adat yakni Adat Nyapat Bala.
“Karena itu murni keracunan, bukan virus sampar seperti yang kalian takuti. Pelaksanaan ritual setelah warga pulang akan ada ritual adat Nyapat B di tengah-tengah kampung Sebadok secara besar-besaran,” kata Alexs.
Warga Berinang malah sudah duluan dipulangkan karena dusunnya selamat tidak ada yang meninggal, selain ketakutan belaka. “Seratus warga Dusun Berinang Selasa (14/2) sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya warga Sebadok bertahan di SMPN 02 Behe sampai besok,” kata Sanam dihubungi Equator kemarin.
Wakil Bupati Landak Herculanus Heriadi SE mengatakan mobilisasi kepulangan 700 warga dikoordinasi Kadis Perhubungan. Untuk pemulangan hari Rabu, armada yang siap dari kepolisian dan armed. “Saya mewakili Pemkab Landak mengucapkan terima kasih kepala Dinas Sosial Provinsi dan Gubernur Cornelis yang banyak membantu warga yang terkena musibah,” katanya.

Sedang diteliti

Dari Pontianak, Gubernur Cornelis mengimbau warga Sebadok pulang ke rumahnya. “Bagi yang mengungsi segera pulanglah. Apalagi kalau sudah tidak ada makanan lagi di tempat mengungsi,” kata Cornelis di Pontianak, Selasa (14/2).
Gubernur juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya enam warga Dusun Sebadok secara mendadak. “Saat ini sedang diteliti oleh dokter kita, apakah benar keracunan. Tapi bukan karena gas, seperti yang saat ini beredar,” kata Cornelis yang juga putra daerah Landak ini.
Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kalbar Muhammad Ridwan SH MH mengatakan tim medis dari pemprov sedang turun memeriksa. “Pemprov Kalbar saat ini yakinkan warga, bahwa tempat kediaman aman. Tim medis pun sedang dalam proses penyelidikan, mengidentifikasi racun,” katanya.
Terpisah, Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Mukson Munandar mengatakan autopsi salah satu jenazah korban telah dilakukan oleh dua dokter tim forensik dari RS Polri bersama tim forensik Polda Kalbar dan Dinas Kesehatan setempat.
Mukson menambahkan, situasi di lokasi relatif kondusif. Pihaknya bersama tokoh masyarakat dan pemuka adat telah menjelaskan bahwa kematian keenam warga bukan karena roh jahat. (tar/sul/kie/dna)

Cornelis-Christiandy Pecah Kongsi

Pontianak – Pendaftaran calon gubernur dan wakil pada Pilgub 2012 tinggal dua setengah bulan lagi. Kabar burung merebak, Drs Cornelis MH, calon tunggal PDI Perjuangan, pecah kongsi dengan Drs Christiandy SE MM yang bernaung di bawah bendera Partai Demokrat.
Benarkah atau sekadar konsumsi politik di warung kopi? Belum dapat jawaban pasti karena Cornelis sendiri tidak gampang untuk dikonfirmasi. Namun pernyataannya di sejumlah media lokal cukup menarik di hangatnya situasi politik.
Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar ini menyatakan jika Partai Demokrat tidak mau berkoalisi, Christiandy Sanjaya bisa saja tidak menjadi wakilnya pada Pilgub 2012.
Sementara, Sekjen DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo kepada JPNN di Jakarta, Rabu (28/12) menyatakan bahwa PDIP telah memutuskan untuk kembali mengusung pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya. Namun Tjahjo mengaku belum ada surat keputusan resmi dari DPP PDIP tentang pencalonan pasangan itu.
Ditemui usai paripurna di gedung DPRD Kalbar, Selasa (14/2), Christiandy Sanjaya menepis kabar santer tentang pecah kongsi antara dirinya dengan Cornelis menghadapi Pilgub 2012 mendatang.
“Tidak ada pecah kongsi, bagi saya tidak ada istilah itu. Berbagai kemungkinan politik bisa terjadi. Semua masih dalam tahapan-tahapan. Di Demokrat ada tim 9. Tim 9 ini yang akan menjaring, setelah itu ada survei. Jadi masih prematur, masih jauh biarin saja,” tegas Christiandy dengan senyum khasnya.
Christiandy yang baru-baru ini masuk dalam kepengurusan DPD Partai Demokrat Kalbar juga menegaskan kabar burung itu adalah konsekuensi partai.
“Makanya saya dari awal selalu ditanya ya jalanin aja. Aturan untuk maju tidaknya sudah jelas. Melalui partai politik apa melalui jalur independen. Dan sampai saat ini kan belum ada koalisi,” kata dia.
Sementara itu, Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar Suryadman Gidot, terkait siapa yang akan diusung Partai Demokrat diserahkan kepada mekanisme partai. Setelah selesai pendaftaran awal Maret nanti akan ada tiga nama yang diusulkan ke DPP untuk selanjutnya ditetapkan oleh DPP.
“Kita serahkan kepada survei, DPP yang menentukan. Paling banyak tiga nama yang dipertimbangkan di DPP. Mudah-mudahan nama saya masuk,” kata Gidot yang siap maju.
DPD juga melakukan survei sebelum diusulkan tiga nama ke pendaftaran calon. “Saya rasa, siapa yang kita lihat punya peluang, kalau ada yang mampu nomor satu, kenapa harus nomor dua,” ungkap Gidot yang juga Bupati Bengkayang ini.

Koalisi atau pisah

Pengamat politik dari Universitas Tanjungpura Jumadi SSos MSi mengatakan untuk membangun koalisi harus ada kesepakatan dan komitmen yang kuat. “Kalau Demokrat tidak berkoalisi dengan PDIP, wajar Cornelis berbicara seperti itu. Ya begitulah etika politik,” katanya.
Jumadi berandai-andai, jika Partai Demokrat ternyata tidak mengusung Christiandy maka harus tunduk dengan kebijakan partai itu. Mengingat Christiandy masuk dalam kepengurusan partai berkuasa tersebut.
Namun, jika Demokrat tidak merestui Christiandy tapi yang bersangkutan masih tetap ingin satu paket dengan Cornelis, maka akan ada konsekuensinya, Christiandy harus keluar dari partai.
Dinamika politik nasional baik di pemerintahan maupun parlemen dan kepentingan Pemilu 2014, Jumadi menilai sangat kecil kemungkinan kedua partai besar tersebut berkoalisi. “Cornelis politisi ulung, dia sudah punya hitung-hitungan yang matang, bisa saja sudah ada calon alternatif lain,” ujarnya.
Jumadi mengakui incumbent memiliki jaringan yang kuat sehingga masih berpeluang besar memenangkan pilgub kedua kalinya. Dalam survei tokoh populer tetap incumbent. Posisi wakil tidak terlalu berpengaruh.
“Orang kurang memandang wakil. Selain itu posisi wakil tidak terlalu signifikan. Keberhasilan suatu pembangunan orang akan melihat kepala daerahnya,” ucapnya.
Dari awal banyak pihak yang yakin Cornelis tetap satu paket dengan Christiandy. Jika pecah kongsi, diramal Cornelis akan kehilangan suara Tionghoa yang lumayan signifikan.
“Wait and see. Tidak juga bisa dikatakan warga Tionghoa tidak memilih Cornelis jika ia tidak menggandeng Christiandy,” pungkas Jumadi. (jul)

Kota Terburuk untuk Tempat Tinggal

Setelah menampilkan daftar kota terbaik untuk tempat tinggal, kini saatnya kota-kota yang dinilai paling buruk untuk jadi tempat tinggal.
Berikut ini adalah kota-kota yang buruk untuk tempat tinggal berdasarkan survei dari Mercer.
  • Bagdad (Irak)
  • Bangui (Republik Afrika Tengah)
  • N'Djamena (Chad)
  • Port-au-Prince (Haiti)
  • Khartoum (Sudan)
Menurut peneliti senior Mercer, "Sebagian besar kota yang memiliki nilai rendah ini ada di negara dengan tingkat kriminalitas tinggi, sering terjadi kerusuhan, serta penegakan hukum yang lemah." Selain itu, kota-kota tersebut memiliki kondisi ekonomi dan politik yang tidak stabil, serta jadi sasaran serangan teroris lokal dan asing.
Bagdad berada di urutan terburuk, yakni 221, karena penegakan keamanan yang lemah serta banyaknya aksi teroris. Bangui (220), kota terbesar di Republik Afrika Tengah, dinilai buruk karena kota tersebut dirusak oleh pemberontakan.
Port-au-Prince yang berada di urutan (218) tahun 2010 silam dilanda gempa bumi besar. Diprediksi, 230 ribu orang jadi korban.

Valentine Day, Kondom Berceceran

Pasangan mesum yang terjaring razia gabungan
Hakim
Pasangan mesum yang terjaring razia gabungan
Pontianak – Satpol PP Kota Pontianak bersama jajaran polisi dan TNI menjaring 15 pasangan mesum di dalam kamar hotel dan indekos pada malam Valentine Day, Selasa (13/2).
“Atas laporan masyarakat yang mengatakan malam Valentine Day begitu marak kasus asusila, kita telah melakukan razia dan menemukan ada 15 pasangan mesum di hotel dan indekos,” kata Ir H Sy Saleh Alkadrie, Kepala Satpol PP Kota Pontianak.
Razia dimulai pukul 05.00 pagi. Pasangan pertama diamankan dari Hotel Patria Jalan HOS Cokroaminoto 497 Pontianak. Sepasang remaja ditemukan tidur sekamar. Keduanya terperanjat ketika pintu kamar digedor Satpol PP. Pasangan kedua ditemukan di Hotel Guest House Pontianak. Pasangan muda-mudi itu tidur berpelukan hanya menggunakan celana dalam. Di lantai kamar ditemukan kondom berceceran.
Mereka yang terjaring rata-rata para remaja. Pasangan mesum tersebut dikenakan tindak pidana ringan (tipiring). “Kita juga akan memanggil orang tua mereka untuk menjemput anaknya terjaring razia ini,” ungkap Sy Saleh.
Petugas gabungan menggerebek beberapa pasangan mesum di Indekos Puri Kenjana Jalan Suprapto 5. Pasangan yang masih berusia belasan tahun itu ditemukan hanya mengenakan celana dalam. Ketika digerebek petugas, pasangan wanita tersipu malu sambil menutup bagian vital tubuhnya. Berlanjut di indekos Jalan Imam Bonjol, ditemukan satu pasangan mesum. Di tempat terakhir di Mess Hijas, Jalan Hijas, tidak ditemukan pasangan mesum. “Mereka yang tidak bisa menunjukkan surat tanda suami istri langsung kita gelandang ke kantor Satpol PP Kota Pontianak,” jelas Sy Saleh.
Setelah para orang tua dari remaja pasangan mesum dipanggil, Satpol PP mengimbau agar menjaga anak-anaknya. Jangan membiarkan mereka keluar rumah hingga larut malam, apalagi pulang pagi. “Bilang sama orang tua mau belajar tempat teman, tetapi bersama pasangan untuk melakukan zina,” ungkap Sy Saleh.
Menurut Saleh, bagi tempat-tempat yang terlibat dalam razia ini akan dikenakan sanksi. “Apalagi kalau tempat-tempat indekos yang tidak ada izinnya, akan kita berikan peringatan. Kalau tidak mengindahkan akan kita tutup saja. Kita akan bekerja sama dengan dinas-dinas yang terkait dalam izin ini,” paparnya.
Ketua P3 Satpol PP Kota Pontianak Kus Panca Diarto mengatakan 15 pasangan yang terjaring ini akan diberikan tipiring. Jajarannya akan bekerja sama dengan pihak pengadilan.
“Nah, mereka ini akan terkena pasal 44 ayat 1 Perda 1 Tahun 2010, setiap orang dilarang untuk menggunakan tempat dalam perbuatan mesum, yang tidak berpasangan suami istri. Dengan sanksi pidana ancaman kurungan selama tiga bulan dan didenda Rp 50 juta,” jelas Kus. (hak)

Rabu, 15 Februari 2012

Bangkai Tikus dan Makan Cempedak

Warga Sebadok Minta Perlindungan Jubata

Warga Dusun Sebadok dan Dusun Berinang mengungsi di Gedung Swadaya Ngabang
Antonius Sutarjo
Warga Dusun Sebadok dan Dusun Berinang mengungsi di Gedung Swadaya Ngabang
Kuala Behe – Sampai tadi malam, belum jelas penyakit atau virus maupun dugaan keracunan yang menewaskan enam warga Dusun Sebadok, Desa Temahar, Kecamatan Jelimpo, Landak, Sabtu (11/2) secara bersamaan.
Yang jelas, Ego, 3 tahun, meninggal setelah memegang bangkai tikus di tumpukan material rumah dengan gejala kejang-kejang dan mulut berbusa. Beberapa jam kemudian ibunda Ego, Marina, 23, meninggal pula sekitar pukul 19.00.
Nah, akan halnya David Dubai, 63, Ebok, 20, Daman, 35, dan Atis, 32, datanglah melayat untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya sebagaimana warga yang ditimpa musibah. Malam itu juga, keempatnya memotong anjing dan ayam dan membakarnya di halaman rumah.
Menurut cerita Atek, 28, ayah Ego, satu jam setelah keempatnya makan ayam dan anjing panggang, kontan mulutnya berbusa. Persis seperti gejala keracunan yang dialami Ego dan Marina. Dusun pun kontan gempar. Mereka tak berpikir panjang langsung meninggalkan lokasi untuk mengungsi ke Ngabang.
Masih misteriusnya penyebab kematian meragukan warga dusun yang malang itu. Dugaan karena bangkai tikus pun, menurut Kadis Kesehatan Landak dr Magdalena Nuraini Sitinjak, maupun dr Pius, belum bisa dipastikan. “Tapi saya yakin penyakit yang menyerang warga Sebadok tidak menular,” jelas Magdalena kepada Equator, kemarin.
Di lokasi, dia menjenguk Sario, salah satu penderita yang dalam perawatan. “Saya baru pulang dari Sebadok melihat kondisi Sario. Tensinya juga normal makan pun sudah mau, bahkan dia sudah mampu berjalan. Tetapi saya masih menunggu hasil forensik mayat dari kepolisian dulu,” katanya.
Kapolres Landak AKBP Hotma Victor Sihombing mengatakan polisi masih menangani kasus tewasnya enam enam warga Dusun Sebadok, Desa Temahar. Dia juga memastikan tidak ada sebaran virus di dusun itu. “Warga tidak usah panik atau cemas. Diharapkan kembali ke rumahnya masing-masing karena tidak ada wabah atau virus, maupun penyakit yang menular,” ujar Hotma, Senin (13/2).
Senin (kemarin, red) rencananya akan memeriksa Atek untuk diambil keterangan dan observasi. Sementara korban lainnya masih dalam perawatan medis di Rumah Sakit Umum Ngabang. “Tim dokter dari Polda Kalbar yang akan melakukan autopsi pada satu di antara enam warga Sebadok untuk mengetahui penyebabnya,” kata Victor Sihombing.
Tragedi bermula dari rumah mertua Atek yang sedang dibangun hari Sabtu nahas itu. Ego seperti biasa main dan naik ke atas parak rumah kakeknya. Tahu-tahu bocah itu turun dengan seekor bangkai tikus yang mulai membusuk di tangannya.
“Saya sempat membentaknya, jangan main barang kotor itu. Lalu dilepaskannya dan berlari ke rumah menemui ibunya yang sedang mengasuh adiknya. Menurut istri saya, Ego habis main bangkai tikus tidak cuci tangan, saya lihat makan cempedak,” ungkap Atek sedih.
Sepulang dari sungai, Ego tiba-tiba muntah dan kejang-kejang, dari mulutnya keluar busa. “Saya berlari menghampiri Ego kejang-kejang. Kami pun langsung membawa Ego ke mantri yang bertugas di kampung. Belum sempat dipasang infus karena susah masuk, akhirnya Ego meninggal di puskesmas pembantu,” tutur Atek.
Setelah mayat Ego dibawa pulang dan disemayamkan sebagaimana layaknya, kepanikan menimpa keluarga malang itu. “Selang beberapa jam, sekitar jam 07.00 malam ketika warga sudah mulai ramai, giliran istri saya yang waktu sedang menidurkan si bungsu,” ujar ayah empat anak itu. Marina tiba-tiba tergeletak dengan mulut berbuih seluruh badan kejang-kejang.
Sementara itu Rico sepintas melihat seekor anjing yang semula sehat tiba mati mendadak di tempat Ego kejang-kejang. Ketika hendak mengubur bangkai anjing, “Saya melihat seekor ular yang melintas di tempat Ego mulai kejang-kejang. Saya sempat melihat di kaki Ego ada bekas gigitan, mungkin itu gigitan ular,” kata Rico.

Bau menyengat

Sementara itu Samuah, 46, tetangga Atek mengatakan pukul 01,00 pulang noreh getah (karet), dia ikut membawa Ego ke mantri kesehatan. Waktu dibawa mulut Ego masih berbuih. Ibunya yang memegang Ego kondisi lemah, mungkin juga tertular.
“Karena rumah saya dekat biasa kalau di kampung jika ada yang meninggal warga berkumpul di rumah duka. Pada waktu itu saya melihat yang ada di halaman rumah Atek adalah Ebok dan Doman sedangkan Dubai dalam rumah. Dubai datang ke rumah Atek langsung membuka penutup mayat Ego,” ujarnya.
Menurut Samuah, setelah Marina meninggal para pelayat banyak yang mencium aroma busuk bercampur pahit. “Saya sempat menutup hidung ketika itu. Anehnya, Doman dan Ebok yang sedang membakar anjing dan ayam di halaman tiba-tiba kejang-kejang secara bersamaan, lantas meninggal,” terangnya.
Setelah Doman dan Ebok disusul Dubai, hanya selang beberapa waktu saja. Waktu itulah warga sekampung panik ingin melarikan diri. Karena hal yang aneh terjadi secara bersamaan.
“Pertama kali warga berkumpul di gereja Sebadok untuk menyelamatkan diri karena kami pikir itu wabah. Kampung kami diselimuti bau busuk itu tadi namun hanya beberapa orang saja yang mencium. Mereka panik, bahkan sebagian warga melarikan diri ke Dusun Berinang, dusun tetangga kami,” lanjut Samuah.
Namum warga Berinang ikut panik dan berkumpul di gereja. Saking berdesak-desakan warga pun sebagian memilih keluar dari Sebadok dan Berinang menuju jalan Ngabang-Serimbu. Sekitar 2.000 orang berpencar ada ke Nyayum ada juga yang lari ke Ngabang ada juga yang menuju rumah keluarga.

Digigit ular menolak pulang

Sekretaris Desa Termahar Sanam mendapatkan informasi dari warganya bahwa Ego meninggal karena digigit ular di kaki kanannya, yang kemudian kejang-kejang dan mulut berbuih. Sanam juga mengungsi di SMPN 1 Kuala Behe kemarin.
Sekitar 300 pengungsi dari Dusun Sebadok dan Berinang di SMPN 2 Kuala Behe tidak mau pulang jika belum ada kepastian keselamatan mereka. Warga masih sangat trauma atas kejadian itu.
“Kami mau pulang apabila ada pihak yang menjamin. Sebelum pulang kami minta adat tolak bala atau adat minta ampun ke Jubata diberikan. Karena warga semua harus mandi kembang sebelum masuk ke rumah masing-masing,” kata Samuah.
Sekdes Temahar mengungkapkan, rencanaya semua warga Dusun Sebadok dan Dusun Berinang yang mengungsi di SMPN dan Gedung Swadaya Ngabang hari Selasa (hari ini) akan dipulangkan ke rumah masing-masing.
Dia sudah mengutus Mitan, Ketua RT 05 RW 03 melihat situasi dusun Sebadok tadi siang. Kabar baik pun tiba, 26 orang keluarga yang meninggal dan tidak ikut mengungsi, sehat-sehat saja. Termasuk Sario.
“Jadi, tidak ada alasan untuk tidak pulang. Mengenai adat yang diminta warga semuanya akan dilaksanakan bersamaan dengan warga ketika sudah berada di kampung,” tegasnya (tar).

Korban meninggal dunia

  1. Ego (3)
  2. Marina (23)
  3. David Budai (63)
  4. Ebok (20)
  5. Daman (35)
  6. Atis (32)

Kritis dirawat di rumah sakit

  1. Eprendi (8)
  2. Marjuki (52)

Mengaku Hamil kepada Wali Kelas

Warga berdatangan di TKP Komalia Konsin
Abdu Syukri
Warga berdatangan di TKP Komalia Konsin
Sekadau – Maria Mardiana SPd, wali kelas Komalia Konsin, 18, mengakui siswinya sudah beberapa hari tidak masuk sekolah. Apalagi Komalia sudah kelas III dan tidak lama lagi akan mengikuti ujian sekolah.
“Hari Selasa malam (7/2) sekitar pukul 19.00, Komalia datang ke rumah saya dengan teman akrabnya, Fitri,” ucap Maria.
Kedatangan Komalia ke rumah wali kelasnya tersebut atas anjuran Fitri, sahabatnya. Dalam pertemuan itu, Komalia mengakui kalau dirinya hamil dan bolos sekolah.
“Saya dapat info dari kawan-kawannya bahwa dia hamil. Saya tanyakan, dan dia mengakui sekarang sudah jalan tiga bulan,” kata Maria mengutip pengakuan Komalia kepadanya kala itu.
Tak habis di situ, kepada Maria, gadis cantik itu juga sempat mengutarakan niatnya untuk menggugurkan kandungannya. “Korban sempat mengatakan pernah ingin menggugurkan kandungannya ke tukang urut,” tukas Maria.
Jajaran pengajar SMU Karya, Sekadau Hilir merasa sangat kehilangan atas kematian Komalia salah satu siswinya.
“Korban sudah kita daftarkan sebagai peserta ujian,” ujar Drs Sumardi, Kepala SMU Karya Sekadau dijumpai Equator di kantornya, kemarin.
Diakui Sumardi, Komalia sejak beberapa pekan terakhir memang terlihat berubah tingkah lakunya. “Bahkan Komalia sudah sejak hari Senin lalu tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas,” ucapnya.
Rencananya, pihak sekolah akan berbicara dengan orang tua Komalia. Bahkan surat undangan untuk orang tuanya sudah dikirimkan. “Kita sudah kirim surat kepada orang tuanya untuk datang hari ini,” ucap Sumardi.
Pastor Kristianus CP, Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Sekadau ikut prihatin dengan kejadian gantung diri itu. Pastor yang dikenal dekat dengan umatnya tersebut, bahkan ikut turun langsung ke lokasi kejadian.
“Ini sebuah pembelajaran bagi kita. Ada hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini,” ujar Pastor Kris.
Hikmah yang dimaksud adalah, agar para pelajar bisa mengontrol pergaulannya. Hal ini sangat penting, terlebih bagi para anak sekolah yang indekos di Sekadau. “Kebanyakan di Sekadau ini indekos tidak ada induk semangnya yang mengawasi. Makanya perlu pengendalian diri dari para warga yang indekos agar menjaga pergaulan,” pesan Pastor.
Pastor Kris menambahkan, warga dan para orang tua, serta guru juga harus lebih ketat lagi dalam mengawasi anak didiknya. “Pembinaan iman sangat penting. Ini membutuhkan kerja sama dari para tokoh agama, serta para guru,” jelas Pastor Kris. (bdu)

Hamil, Siswi SMA Gantung Diri

Posisi Komalia Konsin saat ditemukan di kamar indekosnya
Abdu Syukri
Posisi Komalia Konsin saat ditemukan di kamar indekosnya
Sekadau – Diduga tak kuat menahan malu, Komalia Konsin, 18, pelajar kelas III IPS III SMU Karya, Sekadau Hilir nekat gantung diri di rumah indekosnya, Gang Padi, Jalan Pangsuma, Sekadau Hilir, Sabtu (11/2).
Gadis cantik itu ditemukan tergantung di dalam kamarnya, dengan leher terikat tali pandu pramuka. Kematian korban pertama kali diketahui Fitri, rekan sebangkunya di sekolah, sekitar pukul 07.00. Fitri yang semula hendak menjenguk Komalia terkejut melihat sahabatnya sudah tergantung tak bernyawa. Dalam hitungan menit, ratusan warga berbondong-bondong mendatangi indekos Komalia.
Mendapat laporan adanya peristiwa gantung diri, puluhan personel polisi dari Polres Sekadau dan Polsek Sekadau Hilir langsung menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP). Komalia masih mengenakan pakaian tidur lengan pendek dan celana trening biru muda. Tangan kirinya masih menggenggam hp putih miliknya.
Komalia Konsin yang merupakan warga Dusun Emperanang, Desa Seberang Kapuas itu indekos di rumah Ala. Di rumah yang memiliki empat kamar tersebut, Komalia tinggal bersama Endang, Lilis, dan Eva. Namun korban yang sering disapa Aji itu indekos di kamar sendiri.
Polisi yang menyelidiki kematian Komalia membawa dokter untuk melakukan pemeriksaan fisik. “Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” ujar dr Libra, dokter yang memeriksa korban.
Untuk memastikan penyebab kematian Komalia lebih dalam, polisi mengevakuasi jasadnya ke RSUD Sekadau. Di rumah sakit milik daerah ini, dilakukan pemeriksaan tentang dugaan kehamilan Komalia.
Komalia diduga melakukan aksi nekatnya itu Sabtu tengah malam sekitar pukul 01.30 WIB. Sebelum meninggal, korban sempat mengirim SMS kepada sejumlah teman-teman sekolahnya. Di kamar korban juga ditemukan buku diary. Di buku itu, Komalia juga menulis tentang keinginannya mengakhiri hidupnya.
“Saya dapat SMS-nya sekitar pukul 01.30 tadi malam. Tapi baru terkirim pagi ini,” ujar Raja, teman satu kelas Komalia dijumpai Equator, kemarin.
Isi SMS yang ditulis gadis itu memperlihatkan bahwa dirinya ingin mengakhiri hidupnya. Komalia sempat pamitan dan minta maaf dengan teman-temannya, orang tua, serta saudaranya. Komalia juga sempat menyebut soal anak yang dikandungnya, serta perasaan cinta kepada Tt, kekasihnya.
Luwi, salah satu rekannya mengakui, sikap Komalia selama beberapa pekan terakhir berubah. “Dia sering di kamar. Makanya saya juga kaget dengar Komalia gantung diri,” ucap Luwi.
Wakapolres Sekadau Kompol Yohanes Suhardi membenarkan tentang peristiwa gantung diri itu. “Hasil pemeriksaan, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Korban murni gantung diri,” ucap Yohanes, kemarin.
Polisi saat ini tengah memeriksa sejumlah rekan Komalia untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Kekasih Komalia, Tt juga diminta keterangannya.
“Untuk hasil visum (terhadap kehamilan korban, red), masih dilakukan. Hasil visumnya masih belum keluar. Tapi untuk sementara, penyebab kematian korban murni gantung diri,” jelas Yohanes. (bdu)

Tes Urine di SMKN 8

Terobosan Baru BNNP

Tes Urine SMKN 8
Kiki Supardi
BNN saat melakukan tes urine di SMKN 8
Pontianak – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kalbar menggelar tes urine bagi siswa dan guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN 8) Pontianak Utara, Senin (13/2).
Tes urine diikuti sekitar 270 siswa dan 23 guru ini. Tujuannya menekan angka peredaran dan pemakaian narkoba di lingkungan sekolah.
“Selain menekan angka peredaran narkoba di kalangan siswa dan guru, ini dimaksudkan sebagai shock therapy untuk para siswa baru yang berkeinginan sekolah di sini,” kata Haryanto, Kepala SMKN 8.
Haryanto mengatakan pihaknya sejak awal siap melaksanakan dan menyukseskan segala bentuk kegiatan anti narkoba dari BNNP Kalbar. “Buktinya, hari ini seluruh siswa kami dari kelas 1 sampai 3 serta guru melaksanakan tes urine, agar dipastikan bahwa siswa maupun guru di sekolah ini tidak ada satu pun yang terkontaminasi narkoba,” tegasnya.
Haryanto menjelaskan, kegiatan tes urine ini dilakukan mendadak tanpa diberi tahu siswa maupun guru-guru yang ada di sekolah SMKN 8 ini. “Tes urine ini mendadak. Jadi satu orang siswa pun tidak ada yang tahu bahwa sekarang ada tes urine dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di tingkat pelajar,” ungkapnya.
Haryanto mengatakan, jika dari hasil tes urine kedapatan siswa positif menggunakan narkoba, apa pun jenisnya, maka pihak sekolah akan mengambil langkah tegas. Untuk sementara mengambil langkah pembinaan berkoordinasi dengan BNNP Kalbar.
“Siswa yang positif mengonsumsi narkoba dari hasil tes urine ini akan kita berikan pembinaan. Dan dengan sangat terpaksa siswa tersebut kita liburkan dalam proses pembinaan yang akan dilakukan BNNP Kalbar. Harapan saya mudah-mudahan siswa SMKN 8 ini setelah melakukan tes urine hasilnya negatif atau tidak ada yang mengonsumsi narkoba,” ujarnya.
Haryanto menuturkan, SMKN 8 ke depannya akan terus melakukan tes urine saat penerimaan siswa baru. Sehingga SMKN 8 siswa-siswinya bisa dinyatakan bebas dalam penyalahgunaan narkoba. “Untuk itu, kami berkomitmen bahwa sekolah ini harus bebas narkoba. Dan hari ini kita buktikan bersama, jika sekolah kami memang bebas dari pengaruh narkoba,” ungkapnya.
Kepala BNNP Kalbar Brigjen Pol Drs Sugeng Heryanto mengatakan tes urine merupakan terobosan baru Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalbar dalam mengidentifikasi pencegahan dini pemakai narkoba. Terutama di kalangan pelajar. Dengan cara ini BNNP percaya bisa mempersempit pergerakan pemakaian narkoba di lingkungan sekolah.
“Cukup banyak memang para siswa yang ikut dalam tes urine ini, yakni 270 siswa dan 23 guru SMKN 8 ini. Dan jika pihak sekolah lainnya juga mau siswa-siswinya di tes urine guna menekan peredaran narkoba di lingkungan pelajar, diminta sekolah menghubungi BNNP. Kami siap melakukan tes urine tanpa dipungut biaya,” ujar Sugeng.
Sugeng mengatakan jika terdapat siswa yang dinyatakan positif sebagai pengguna narkoba, maka BNNP Kalbar serta pihak sekolah akan melakukan pembinaan terhadap siswa tersebut. “Kita akan mengambil langkah pembinaan bagi siswa yang positif mengonsumsi narkoba jenis apa pun,” katanya.
Sugeng mengungkapkan, jika hasil tes urine ini negatif atau tidak ada siswa-siswi dan guru SMKN 8 menggunakan narkoba, maka SMKN 8 berhak memasang spanduk “Sekolah Bebas Narkoba”.
Demi menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba khususnya di Kalbar, maka Kepala BNNP Kalbar mengajak semua elemen masyarakat bahu-membahu memberantas narkoba. Salah satunya dengan mengajak semua sekolah melakukan pembinaan, pengawasan, atau sekaligus melakukan tes urine terhadap semua guru dan anak didiknya.
“Saya jamin Kalbar akan bebas narkoba. Apalagi tidak ada untungnya menggunakan ekstasi sejenisnya atau sabu-sabu bagi pelajar dan pemuda,” paparnya. (sul/kie)

Komalia Gagal Tunangan

Polisi mengevakuasi jasad Komalia Konsin
Abdu Syukri
Polisi mengevakuasi jasad Komalia Konsin
Sekadau – Kematian Komalia Konsin alias Aji, 18, pelajar kelas III IPS III SMU Karya Sekadau Hilir dengan cara gantung diri di kamar indekosnya, Gang Padi, Jalan Pangsuma, Sekadau Hilir, Sabtu (11/2) lalu menggemparkan masyarakat Sekadau.
Wali Kelas Komalia, Maria Mardiana SPd mengakui bahwa siswinya itu pernah mengutarakan kepada teman-temannya tentang rencana untuk berumah tangga dengan Tt, pacarnya. “Korban bilang kepada teman-temannya bahwa mereka akan tunangan pada bulan April nanti,” ucap Maria. Namun rencana pertunangan itu sekarang tinggal kenangan.
Korban saat ini sudah tidak ada lagi di dunia. Banyak rekan-rekannya yang tidak menyangka Komalia berbuat senekat itu. “Saya tidak menyangka dia akan bunuh diri,” ujar Lilis, 26, anak pemilik rumah indekos yang didiami Komalia kepada Equator, kemarin.
Lilis yang tinggal satu rumah dengan Komalia mengatakan malam saat korban gantung diri, mereka tidur bertiga di rumah. Selain Komalia dan dirinya, di rumah tersebut juga ada Endang dan Veronika, adik kandung Lilis. “Tapi malam itu, yang tidur di rumah hanya ada saya, korban, dan adik saya. Sedangkan Endang tidur tempat kawannya,” ucapnya.
Seperti diberitakan Equator, kemarin, Komalia yang akrab disapa Aji ditemukan tergantung di dalam kamar menggunakan tali pandu pramuka, Sabtu pagi (11/2). Kematian gadis cantik itu pertama kali diketahui, Fitri, rekan sebangkunya di sekolah, sekitar pukul 07.00 pagi. Fitri yang semula hendak menjenguk Komalia terkejut melihatnya sudah tergantung tak bernyawa. Dalam hitungan menit, ratusan warga berbondong-bondong mendatangi rumah indekos Komalia.
Aksi nekat Komalia diduga dilatarbelakangi karena depresi. Kepada beberapa orang, Komalia mengaku sedang hamil sekitar tiga bulan.
Lilis menceritakan, awal malam sebelum Aji gantung diri, mereka seisi rumah sempat makan-makan bersama dalam rangka merayakan ulang tahun kekasih Endang. Komalia waktu itu bahkan sempat membantu memasak.
“Sikapnya malam itu memang agak berubah. Kalau sebelumnya ia cenderung sering mengurung diri dalam kamar, tapi malam itu dia mau bergaul dengan kami,” kata Lilis.
Setelah makan-makan, Komalia kemudian keluar rumah. Saat keluar itu, rupanya meminjam tali pandu pramuka kepada Wiwit, temannya yang indekos tak jauh dari kediaman Komalia.
Meski Komalia sudah memiliki seutas tali pandu, namun Wiwit mau memberikan tali pandu miliknya. Wiwit tidak menyangka tali pandu itu akan digunakan Komalia untuk gantung diri. Terlebih Komalia selama ini juga aktif dalam kegiatan pramuka dan tercatat sebagai anggota Saka Bhayangkara.
“Saya awalnya tidak tahu korban meminjam tali pandu milik Wiwit itu. Saya baru tahu setelah korban gantung diri. Kalau dari awal saya tahu, saya akan larang Wiwit meminjamkannya,” kesal Lilis. (bdu)