Ucapan

SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!

Sabtu, 17 Maret 2012

Dibawa Kabur Pakai Motor, Siswi SMK Digilir Enam Pemuda

Dibawa Kabur Pakai Motor, Siswi SMK Digilir Enam Pemuda
google
BULUKUMBA - Mawar (16) bukan nama sebenarnya seorang siswi salah satu SMK di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, digilir oleh enam orang pemuda di Sawere, Desa Padang, Kecamatan Gantarang, Selasa (28/02/2012) sekitar pukul 22.00 Wita.
Korban mengaku digilir enam orang pemuda bernama Nova, Anas, Acang dan tiga orang yang belum diketahui identitasnya.
Seorang saksi, Rika yang juga rekan korban, kepada polisi mengatakan, peristiwa berawal saat korban diajak oleh salah seorang pelaku bernama Anas untuk bertemu. Tanpa curiga, korban yang baru mengenal pelaku melalui telepon itu langsung menerima ajakan tersebut.
Pelaku menjemput korban dengan menggunakan motor jenis Kawasaki Ninja dengan nomor polisi DD 6233 HE di rumah kos korban di Lorong SD 1, Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu. Bersama saksi dan teman-teman lainnya, pelaku kemudian membawa korban ke beberapa tempat di dalam kota Bulukumba dengan maksud untuk jalan-jalan, sementara Rika dibonceng oleh salah seorang pelaku bernama Nova.
Setelah berputar-putar di dalam kota, pelaku kemudian mengarahkan motornya menuju daerah Sawere, Desa Padang, Kecamatan Gantarang, dengan alasan ingin mengajak korban makan buah rambutan di rumah tante pelaku. Di tengah perjalanan, pelaku kemudian tancap gas dan meninggalkan teman-temannya yang lain. Sementara Mawar dan Rika keburu dibawa oleh pelaku.
Sesampai di daerah tersebut, Mawar dan Rika kemudian dibawa ke sebuah kebun cokelat. Karena curiga, Rika kemudian meminta untuk berhenti dan meminta untuk diantar kembali ke rumahnya. Namun pelaku Anas menolak dan tetap melanjutkan pejalanannya sehingga Rika terpaksa memilih melompat dari motor dan melarikan diri ke rumah warga. Sementara korban Mawar terlanjur dibawa pergi ke sebuah kebun yang jauh dari pemukiman penduduk.
Karena korban terus meronta, pelaku mengancam korban dengan menggunakan badik yang diletakkan di bagian leher korban sehingga di tempat itulah, korban akhirnya diperkosa secara bergiliran oleh pelaku, cerita Rika kepada penyidik saat melaporkan kejadiannya pada Kamis (01/03/2012) siang.
Korban maupun saksi baru melaporkan kejadiannya ke polisi, setelah korban mengalami depresi berat atas kejadian yang menimpanya.
Usai melihat kondisi korban di rumah sakit, Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bulukumba, Aipda Medan Pontingamba mengatakan, para pelaku disinyalir komplotan yang sama, yang menggilir pelajar SMP RL (11), di mana dua orang pelaku, Nova dan Anas, memiliki kemiripan dan dan ciri-ciri seperti yang disebutkan kedua korban, termasuk motif, waktu, serta lokasi tempat korban dieksekusi.
"Ada dua pelaku yang sama disebutkan kedua korban, termasuk motifnya dan tempat kejadian yang hampir sama. Hanya saja, Mawar digauli enam pelaku sementara RL digauli tujuh orang pelaku," jelas Medan kepada wartawan.
Hingga saat ini, polisi hanya mengamankan satu unit motor Kawaski Ninja yang digunakan salah seorang pelaku yang menjemput korban dari rumahnya. Sementara itu korban, Mawar, masih menjalani perawatan intensif dan trauma atas kejadian yang menimpanya.
Sejak dua bulan terakhir, tercatat sedikitnya empat kasus pemerkosaan yang ditangani Polres Bulukumba. Dua diantaranya dilakukan sekelompok pemuda yang diduga memang beraksi secara berkelompok dan memilih korban dari kalangan remaja atau pelajar.

Pemerkosa 'Kubur' Korban dengan Dedaunan


Pemerkosa 'Kubur' Korban dengan Dedaunan
IST
Ilustrasi 
REDELONG - Adi (16) yang sudah diangkat anak oleh keluarga Ibni Faisal, warga Kampung Babusallam, Simpang Tiga Redelong, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, tiba tiba bertingkah bagai monster. Remaja tanggung itu tega menghabisi sekaligus memerkosa gadis cilik Shufi Alhifah binti Ibni Faisal (4,5).
Korban sempat dinyatakan hilang selama empat hari, namun polisi yang bekerja cepat akhirnya berhasil menguak misteri kehilangan bocah malang Shufi, setelah Adi yang diinterograsi polisi mengaku ia yang menghabisi korban. Adilah yang menunjukkan lokasi Shufi dieksekusi, yang telah ditutupi dedaunan. Balita malang itu dieksekusi hanya sekitar 300 meter dari rumahnya.
Saat ditemukan, kondisi jenazah Shufi Alhifah, ditutupi dedaunan serta potongan daun bambu di antara semak belukar yang tidak jauh dari jalan raya. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari ruas jalan Pante Raya-Simpang Tiga Redelong. Shufi dinyatakan hilang dari rumahnya Selasa (7/2) lalu, sekira pukul 16.30 WIB. Ketika itu, putri tunggal pasangan Ibni Faisal (35) dan Hayati (25), pergi membeli kue ke salah satu kios yang tidak jauh dari rumahnya. Namun sejak sore itu, Ufi tak kunjung kembali ke rumah.
Sebelum ditemukan, berbagai upaya dilakukan oleh pihak keluarga untuk menemukan gadis cilik itu. Mulai dari pencarian berkeliling kampung bersama warga setempat, hingga menempelkan selebaran ke sejumlah tempat, termasuk memberitakannya melalui Harian Serambi Indonesia dan situs online. Tidak cukup hanya sampai disitu, pencarian Shufi ini, juga melibatkan beberapa orang pintar sebagai upaya pihak keluarga untuk menemukan putri semata wayang.
“Sebelumnya, bahkan kami sempat mendapat informasi jika Shufi, diculik dan sedang berada di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Kami berupaya untuk mencari ke sana dengan harapan bisa menemukan Ufi. Tapi setelah ditelusuri ke sana tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Shufi Alhifah,” kata seorang keluarga dekat korban, Said Abdullah, kepada Serambi Sabtu (11/2/2012).
Dikatakan Said Abdullah, setelah berbagai upaya dilakukan, akhirnya di hari keempat Shufi Alhifah ditemukan namun kondisinya sudah tidak lagi bernyawa. Kronologis ditemukan jenazah gadis cilik itu, bermula dari penemuan sandal milik korban di dekat lokasi penemuan mayat Shufi. Setelah dipastikan sandal tersebut milik Shufi, warga bersama pihak kepolisian setempat, langsung menyusuri kawasan tersebut. “Padahal, sebelumnya kami sudah bolak-balik mencari di daerah itu tetapi tak bisa menjumpai jenazah Ufi. Dan di hari keempat, semalam sekitar jam dua lewat, jenazahnya berhasil ditemukan dalam kondisi telah ditutupi rumput dan potongan bambu,” kata Said Abdullah yang didampingi sejumlah pihak keluarga korban, usai acara pemakan Shufi Alifah.
Ia katakan, awalnya pihak keluarga tidak menaruh curiga terhadap anak angkat ayah korban bernama Adi yang biasa tinggal di rumah itu. Dan sebelum Shufi Alhifah menghilang, Adi sempat menemani korban membeli kue di salah satu kios yang tidak jauh dari rumahnya.
Menurut kesaksian, beberapa warga Kampung Babusallam lainnya, setelah jenazah Ufi ditemukan, langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Datu Beru, Takengon, guna dilakukan visum. Usai dilakukan pemeriksaan oleh tim medis, jenazah Shufi Alifah dibawa kembali ke Kampung Babussalam untuk dikebumikan.
Sementara itu, Kapolres Bener Meriah, AKBP Cahyo melalui Wakapolresnya Kompol Hairajadi didampingi Kasubbag Humas, Iptu M Unang Nurtata kepada Serambi Sabtu (11/2/2012) mengatakan, pihak kepolisian setempat berhasil menemukan jenazah Shufi Alhifah, berdasarkan pengakuan tersangka berinisial Adi (16), yang sehari-harinya bekerja serabutan.
Kecurigaan polisi terhadap Adi, lantaran beberapa jam sebelum menghilang, Shufi Alhifah terlihat bermain bersama tersangka tersebut. “Polisi mencoba mengorek keterangan dari tersangka ini. Awalnya dia (Adi-red) tidak mau mengaku. Namun setelah ditanyai kembali baru tersangka ini mengaku. Bahkan ia menunjukkan sendiri tempat Ufi dikubur,” kata Iptu Unang Nurtata, sembari menyebutkan mayat korban ditemukan Sabtu (11/2/2012) dini hari.
Dikatakan, Kasubbag Humas ini, berdasarkan hasil visum tim dokter, sebelum dihabisi gadis cilik ini, sempat diperkosa oleh tersangka. Dan di dalam paru-paru korban terlihat adanya air yang diduga dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke dalam air. “Sampai dengan saat ini, tersangka sedang kami periksa dan telah ditahan di Mapolres Bener Meriah,” papar Iptu M Unang Nurtata.
Jenazah Ufi dikebumikan di pemakaman umum sekitar 300 meter dari rumah itu. Kesedihan mengiringi pemakaman Shufi Alhifah, bocah cilik berusia 4,5 tahun yang sebelum meninggal sempat menghilang selama empat hari. Ufi dikebumikan Sabtu (11/2/2012) sekira pukul 10.00 WIB, pemakaman umum Kampung Babussallam.(c35)

Penjaga Sekolah Cabuli Dua Siswi SD

Penjaga Sekolah Cabuli Dua Siswi SD
ist
Ilustrasi


MANADO - Diduga melakukan tindakan cabul terhadap dua orang bocah Sekolah Dasar (SD), sebut saja Jingga (8), dan Melati (6), Warga Teling Bawah, seorang penjaga sekolah berinisial AT alias Bambang terpaksa dilaporkan ke pihak kepolisian melalui Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Manado, Kamis (1/3/2012) sekitar pukul 01.30 Wita.
Menurut sumber yang tak ingin namanya diberitakan, mengatakan kasus yang terjadi di halaman SMK N 4 Manado, Desember silam itu, terungkap setelah kedua bocah bercerita bahwa mereka pernah diajak ke dalam sekolah oleh Bambang. "Awalnya keduanya tak mengaku karena takut dengan ancaman Bambang," ujar sumber.
Ditambahkannya, dari hasil penelusuran terhadap Melati dan Jingga, keduanya mengungkapkan bahwa, pada bulan Desember 2011 lalu, Bambang mengajak mereka ke dalam sekolah dengan iming-iming akan dapat buku.
Setibanya di halaman sekolah, tiba-tiba tersangka Bambang langsung meraba-raba tubuh kedua bocah itu, termasuk meraba dan memasukkan jarinya ke dalam kemaluan kedua korban. Usai melakukan aksi bejatnya itu, tersangka mengancam akan memukuli kedua korban jika berani bercerita kepada orang lain.
Kasubag Humas Polresta Manado AKP Desy Hamang, ketika dikonfirmasi membenarkan ada laporan kasus cabul tersebut. "Kasus tersebut kini masih dalam penyelidikan Unit PPA Satreskrim Polresta Manado," ujar Hamang.

Dua Tahun Gadis Kecil Ini 'Melayani' Ayah Kandungnya


Dua Tahun Gadis Kecil Ini 'Melayani' Ayah Kandungnya
google
ilustrasi
BALIKPAPAN -Malang nasib Bunga, sebut saja namanya begitu. Sejak SMP kelas I, ayah kandungnya terus menggauli dirinya layaknya pasangan suami istri. Kini, menginjak kelas III SMP, aib tersebut baru terbongkar.
Seorang lelaki yang serius ingin menikahinya mendengar sendiri pengakuan Bunga. Tak ayal lagi, masalah ini pun akhirnya menjadi urusan pihak kepolisian Polres Balikpapan.
Rabu (15/2/12) dini hari, pria berinisial Sr dicokok dari rumahnya di kawasan Balikpapan Permai, Balikpapan Selatan. Ia digelandang ke Polres Balikpapan untuk menjalani pemeriksaan atas laporan pencabulan terhadap anak  kandungnya sendiri. Namanya pun langsung tercatat di salah satu papan nama di sel tahanan Polres Balikpapan.
Informasi yang dihimpun Tribunkaltim.co.id, kasus ini terungkap saat seseorang menaruh hati pada Bunga. Kedekatan mereka akhirnya membuat Bunga berani menceritakan apa yang dialaminya dua tahun belakangan ini. Bahkan Bunga sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak ayah kandungnya itu menggauli dirinya.

Polisi Af Bujuk Korban Pelecehan Cabut Laporan




KARIMUN - Masih ingat kasus dugaan cabul seorang oknum anggota Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Brigda Af dengan korban seorang murid Sekolah Dasar Pa (14) yang terjadi di Tanjungbatu, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun?
Hampir setahun diproses, kini kasus tersebut memasuki babak baru. Brigda Af secara resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Satreskrim Polres Karimun. Hanya saja, berbeda dengan kasus-kasus dugaan cabul lainnya, Brigda Af sedikit mendapat keistimewaan, Brigda Af tidak ditahan pasca penyidik mengabulkan pengajuan penangguhan penahanan dan menjamin Af.
Mendengar itu, Husindri, paman Pa mengaku masih belum puas. Husindri mengaku khawatir, tersangka akan berupaya mengaburkan penyidikan, mengingat kasus ini sensitif dan sepenuhnya bergantung kepada barang bukti.
"Meski di satu sisi kami lega tapi di satu sisi kami belum puas juga. Ini kasus sensitif, bisa saja dia (Brigda Af, red) berusaha menghilangkan barang bukti dan melakukan hal-hal yang membuat kasus ini kabur. Dia kan seorang anggota polisi, tentu lebih tau dalam persoalan penyidikan," ujar Husindri menumpahkan kekecewaannya kepada Tribunnewsbatam.com, Minggu (4/3/2012).
Husindri juga mengatakan, selain tak ditahan, pihak tersangka juga gencar melakukan lobi-lobi kepada keluarga korban dengan minta damai mengganti kerugian Pa dengan materi. Keluarga korban ditawari uang senilai Rp 35 juta. Sesuatu hal yang dinilai Husindri melecehkan keluarganya.
"Kami merasa tersinggung dengan apa yang ditawarkan pihak tersangka itu. Apa dia pikir semua ini bisa dibayar dengan uang. Seharusnya dia malu, mungkin keluarga besar Polri juga semestinya malu. Sebagai penegak hukum, seharusnya hal itu tak dilakukannya. Sungguh memalukan," kata Husindri menyindir.
Selain itu, Husindri juga mengungkapkan kekecewaannya pasca pihak tersangka juga menyebarkan ancaman akan menuntut balik. Keluarga Brigda Af mengaku tidak senang dengan "kicauan" Husindri di media massa terkait kasus tersebut.
Mendengar itu, Husindri hanya tertawa dan menilai hal tersebut salah kaprah dan sia-sia. Itu mengingat apa yang diutarakannya selama ini ke media massa semuanya fakta yang sebenarnya.
"Saya diancam akan dilaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik. Apa tidak salah, pencemaran nama baik seperti apa yang mereka maksud, toh selama ini yang saya ungkapkan semuanya adalah fakta. Saya semakin tak simpatik dengan mereka dan akan terus berupaya mendapatkan keadilan bagi Pa dan keluarga saya. Jangan mentang-mentang dia aparat lalu seenaknya saja memperlakukan orang kecil seperti kami ini. Kalau begini aparatnya bisa hancur negara ini," katanya tegas.
Namun begitu, lobi-lobi pihak tersangka kepada keluarganya dikatakan Husindri hampir kena. Ayah Pa sempat ragu untuk melanjutkan kasus tersebut hingga ke meja persidangan dengan memilih menerima tawaran damai. Namun Husindri memastikan kasusnya akan terus dilanjutkan.
"Kawan saya seorang jaksa, menyarankan agar kasusnya dilanjutkan saja. Dia (si jaksa kawannya Husindri, red) juga mengaku heran kenapa penyidik tidak menahan tersangka. Dia juga menyarankan jika masih saja kasusnya ditahan-tahan penyidik untuk dilimpahkan ke kejaksaan, saya diminta untuk melayangkan surat ke Mabes Polri dengan tembusan ke Polda Kepri dan Polda Riau," ujar Husindri.
Sementara itu, seorang penyidik Satreskrim Polres Karimun yang menangani kasus tersebut mengaku akan kembali memanggil korban Pa untuk dimintai keterangannya terkait kejelasan barang bukti terutama celana dalam yang dipakainya saat kejadian pencabulan itu berlangsung.
"Infonya kan barang bukti celana dalam itu ada yang merubah, jadi kami akan panggil lagi korban untuk memastikan apakah benar celana dalam itu adalah celana dalam yang dipakainya saat pencabulan dilakukan," kata penyidik itu seraya enggan namanya disebutkan.

Derek Perkosa ABG 16 Tahun Disaksikan Istri



Derek Perkosa ABG 16 Tahun Disaksikan Istri
net
ilustrasi

Derek Chartres, (59), mantan Kepala Kamar Dagang Inggris, terancam masuk bui, setelah dua orang perempuan mengaku pernah diperkosanya ketika masih di bawah umur.
Dalam sidang yang digelar di pengadilan Portsmouth Crown Court, Inggris, Jumat (17/2/2012), mantan perwira Royal Air Force (RAF), itu dituduh memperkosa gadis berusia 11 dan 16 tahun, yang terjadi diantara tahun 1982 dan 1984. Kedua gadis itu sekarang sudah menjelma menjadi wanita dewasa berusia 40 tahunan.
Satu dari mereka, baru melaporkan perbuatan binatang Derek kepada polisi di tahun 2010, dimana ia mengaku diperkosa di sebuah kamar tidur, di kediaman Derek, dan disaksikan oleh sang istri, Pearl.
Sementara seorang korban Derek lainnya, mengaku diajak melakukan hubungan suami istri, oleh Derek yang tengah menonton video porno di hadapannya
"Ia (Derek) mengatakan apakah gadis itu menyukai seks dan mau melakukan hubungan intim dengannya. Mereka pernah melakukan hubungan seks penuh, dimana Derek menyebutnya sebagai pendidikan seks," ujar Jaksa, Roderick Blain.
Dailymail melaporkan, Derek menghadapi tuduhan melakukan pelecehan dan tindakan tidak senonoh, dengan gadis berusia 14 tahun, dan memperkosa gadis berusia 16 tahun.
Istrinya, diadili bersama dengan suaminya pada pekan ini, ia dituduh membantu dan bersekongkol dalam perbuatan pemerkosaan dan tindakan tidak senonoh.

Sadis! Setelah Diperkosa Gadis Cilik Dikubur Hidup-hidup


Sadis! Setelah Diperkosa Gadis Cilik Dikubur Hidup-hidup
Serambi Indonesia/Mahyadi
Tersangka Tirmiadi bin Agus Salim membekap mulut Shufi Alifah dalam rekonstruksi kasus pemerkosaan dan pembunuhan tersebut, Selasa (21/2/2012).


REDELONG - Kasus pemerkosaan disertai pembunuhan terhadap gadis cilik Kampung Babusalam, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah benar-benar tragis. Hal itu terungkap dalam rekonstruksi (reka ulang) di halaman Polres Bener Meriah pada Selasa (21/2/2012) pagi yang berjalan tertib dan lancar.
Tersangka yang merupakan abang angkat korban yang masih berusia remaja, Tirmiadi bin Agus Abadi (16) memperagakan saat-saat terakhir gadis cilik  Shufi Alifah binti Ibni Faisal yang masih balita, berusia 4,5 tahun. Disaksikan orangtua korban, Ibni Faisal dan anggota keluarga lainnya, tersangka tampak tenang saat menjalani 26 adegan reka ulang selama 1,5 jam.
Puluhan anggota polisi bersama petugas dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bener Meriah dan pengacara tersangka ikut mengamankan dan menyaksikan reka ulang itu. Adegan dimulai dari korban dan tersangka membeli kue sampai dengan dikuburnya jasad Shufi Alifah, di pinggir sungai kecil (arul) di Kampung Babusalam.
Pada adegan awal, Ufi panggilan akrab Shufi Alifah (diperankan oleh model dan boneka) diajak tersangka untuk jajan di kios dekat rumah. Setelah membeli kue, Ufi dibawa ke kebun tomat tersangka. Di tempat ini, tersangka langsung memperkosa adik angkatnya dan meminta Ufi pulang ke rumah, tetapi korban menolak dan mengikuti tersangka yang sedang membersihkan kebun.
Remaja bertubuh kurus ini langsung beraksi dengan menutup mulut korban dan menggendong ke sungai kecil, sekitar 25 meter dari lokasi kebun. Di arul ini, tersangka membenamkan Ufi ke dalam air dan kaki kanan tersangka menginjak leher bocah malang itu, lalu diangkat ke pinggir sungai dan tersangka kembali ke kebun tomat.
Karena penasaran, tersangka kembali melihat Ufi sambil membawa cangkul dan  dengan cangkul ini, tersangka mengubur tubuh Shufi Alifah yang sedang sekarat, namun masih bernyawa. “Waktu mengubur tubuh Shufi, kondisinya masih bernyawa kan,” teriak salah seorang petugas Polres Bener Meriah, disambut dengan jawaban manggut-manggut dari tersangka. Setelah adegan penguburan, tiga adegan lagi menutup proses reka ulang di halaman belakang Polres Bener Meriah.
Seperti diberitakan Serambi sebelumnya, korban dilaporkan hilang sejak Selasa (7/2/2012) sekira pukul 16.30 WIB. Pada Sabtu (11/2/2012) dinihari, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa lagi berdasarkan petunjuk tersangka.

DPO Kasus Perkosaan Babak Belur Dihajar Massa


DPO Kasus Perkosaan Babak Belur Dihajar Massa
istimewa
ilustrasi


KEFAMENANU - Marsel Nale (31), tersangka kasus perampokan dan pemerkosaan di Rote Ndao babak belur dihajar massa di Desa Oeme'u, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (8/3/2012).
Tersangka yang menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) Polres Rote Ndao dibekuk tim Buru Sergap (Buser) bersama masyarakat setempat.
Beruntung tersangka berhasil diamankan Satuan Buser Polres TTU dan langsung dilarikan ke RSUD Kefamenanu untuk dirawat. Marsel Nale dibekuk aparat kepolisian bersama masyarakat Desa Oeme'u saat berada di sawah.
Ia dibekuk Kamis (8/3/2012), sekitar pukul 10.30 Wita. Dari tempat kejadian perkara (TKP), tersangka sempat dibawa ke Mapolres TTU. Namun karena luka yang dideritanya cukup parah, polisi melarikan tersangka ke RSUD Kefamenanu.
Akibat luka yang dideritanya, Nale harus mendapat sekitar tujuh jahitan. Nale menderita luka parah seputar wajah. Dengan wajah yang masih berlumuran darah, Nale dilarikan dari TKP untuk menghindari amukan massa yang lebih luas.
Diduga saat ditangkap massa, Nale melakukan perlawanan sehingga memancing emosi warga dan menjadi bulan-bulanan massa.
Wakapolres TTU, Nurkotip membenarkan bahwa yang bersangkutan merupakan DPO dari Polres Rote Ndao.
"Kita bekerja sama dengan Polres Rote Ndao. Beberapa waktu lalu, kita yang minta bantuan mereka untuk menangkap tujuh pelaku pembunuhan di sini. Sekarang mereka yang minta bantuan kita menangkap DPO dari sana. Setelah kita melakukan pengintaian beberapa hari, kita baru berhasil menangkap tersangka hari ini," kata Nurkotip.
Nurkotip mengungkapkan, setelah kondisi tersangka membaik, pihaknya langsung mengantar yang bersangkutan ke Rote. "Kita tidak bisa menahan yang bersangkutan berlama-lama di sini karena yang bersangkutan DPO Polres Rote," demikian Nurkotip.
Sampai Kamis Sore, tersangka masih menjalani perawatan di RSUD Kefamenanu dengan dikawal ketat Satuan Buser Polres TTU. Nurkotip belum bisa memastikan kapan tersangka dibawa ke Rote karena masih menunggu kondisi tersangka membaik.

Kepala SD Lamanabi Cabuli Muridnya


Kepala SD Lamanabi Cabuli Muridnya
NET
Ilustrasi




LARANTUKA - Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres Lamanabi, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, Samon Wulon Clemens (51), dicopot dari jabatannya karena melakukan perbuatan tercela mencabuli muridnya. Samon dipindahkan menjadi guru bantu di SDN Ebak di Kecamatan Tanjung Bunga.
Kepala SD Lamanabi dijabat oleh Michael Uhe Kelen. Pencopotan Samon berdasarkan surat keputusan Bupati FLotim No. BKD.821. 21/42/PP.PNS/2012 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Sekolah lingkup Pemkab Flotim.
Pemberhentian dan pencopotan Samon Wulon Clemens tersebut bersamaan dengan dilantiknya 10 kepala sekolah lain di lingungan Pemkab Flotim.
Kabag Humas Pemkab Flotim, Raymond Piran, dihubungi wartawan, Selasa (27/2/2012), mengatakan  Bupati Flotim menindak tegas  PNS, termasuk guru, yang berperilaku amoral.
"Kekerasan terhadap murid, percabulan, pemerkosaan guru terhadap murid dan kasus amoral lainnya menjadi perhatian bupati. Bupati menjaga mutu pendidikan dimulai dengan tindakan amoral yang dilakukan para guru dan PNS lainnya. Jadi, bukan hanya pelajaran  di sekolah," tambah Piran.
Diberitakan sebelumnya, Kepala SD Inpres Lamanabi, Kecamatan Tanjung Bunga, Samon Wulon Clemens (51) ditangkap dan dijebloskan ke rumah tahanan (Rutan) Larantuka karena diduga mencabuli Bunga (9) bukan nama sebenarnya yang kini duduk di bangku kelas III SD Inpres Lamanabi. Samon secara berulang-ulang kali mencabuli Bunga sejak  kelas II SD namun baru diketahui pada Kamis (12/2/2012) lalu.
Kapolres Flores Timur (Flotim), AKBP Wahyu P, yang dihubungi melalui Kasat Serse, AKP Alexander Aplugi, kepada wartawan, Rabu (22/2/2012), mengatakan, pihaknya setelah menerima laporan keluarga korban dan langsung melakukan tindakan penyelidikan dan meningkat ke penyidikan.
"Saat ditingkatkan ke penyidikan, Clemens langsung kita tetapkan menjadi tersangka dan saat ini tersangka kita titipkan di Rutan Larantuka. Berkasnya saat ini sudah diserahkan ke jaksa untuk diteliti," kata Apluggi ketika didampingi, Kanit PPA, Aiptu Nyoman Karwadi.

Tiduri Pacar Sendiri, Franklyn Dituntut 6 Tahun Penjara


Tiduri Pacar Sendiri, Franklyn Dituntut 6 Tahun Penjara
google


MANADO - FK alias Franklyn (25) warga Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang didakwa meniduri pacarnya KT alias Kari (15), masih dibawah umur secara hukum,ditunutut 6 tahun penjara dan denda Rp 60 juta subsidier 4 bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mieke Sumampouw SH.
Tuntutan JPU dibacakan di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Manado, di depan Majelis Hakim Alexander Palumpung SH MH, Johny M Telew SH dan Efran Basuning SH Mhum, Selasa (21/2/2012).
JPU juga menyatakan terdakwa secara sah melakukan perbuatan cabul dalam dakwaan pasal 81 ayat 2 UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Oleh ketua majelis hakim, Alexander Palumpung SH MH, mengungkapkan bahwa terdakwa memiliki hak melakukan pembelaan.
"Sidang ditunda sampai Selasa (28/2/2012) dengan mendengarkan pembelaan terdakwa," ujar Palumpung kemudian menutup persidangan.

LN Lapor Polisi Anaknya Dicabuli


LN Lapor Polisi Anaknya Dicabuli
NET
Ilustrasi perkosaan


PALEMBANG-Lantaran anak kandungnya menjadi korban asusila, Ln (41), ibu rumah tangga, melapor ke Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Palembang, Kamis (1/3/2012).
Dalam laporan yang diterima petugas, Lina melaporkan Iy (28), yang telah berbuat asusila terhadap anaknya yakni, Di (14).
Peristiwa terjadinya asulisa, terjadi di rumah Iy Jl Talang Kerangga Lrg Lebak Malam Kel 30 Ilir Kec IB I Palembang, Rabu (29/2/2012) pukul 17.30.
Ln mengetahui Di anaknya telah menjadi korban asusilia, setelah anaknya bercerita langsung kepadanya mengenai perbuatan Iy kepada Di. Anaknya Di bercerita bahwa Iy telah berbuat tidak senonoh.
Kapolresta Palembang Kombes Sabaruddin Ginting melalui Kasat Reskrim Kompol Frido Situmorang, membenarkan telah menerima laporan dari pelapor. Terlapor dari laporan pelapor, dikenakan dengan aturan hukum yakni undang-undang nomor 22 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Satpam Robek Celana Pacar Lantas Memerkosanya


Satpam Robek Celana Pacar Lantas Memerkosanya
Google
Ilustrasi
PALEMBANG - Keluarga ID (22) melapor ke SPKT Polresta Palembang, Rabu (14/3/2012), setelah mengetahui putrinya diperkosa.
ID ketahuan diperkosa, setelah pihak keluarga melihat celana putrinya robek. Dalam laporan bernomor LP/B-689/III/2012/SUMSEL/RESTA, ID dan keluarganya melaporkan BE (25), pacar ID.
BE adalah petugas sekuriti alias satpam. Ia diduga memerkosa ID, di rumah BE di Jalan Pasundan, Kelurahan Kalidoni, Kecamatan Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (22/8/2011) silam pukul 17.30.
Kepada petugas, ID mengaku telah dipaksa BE untuk melakukan hubungan intim. Ketika itu, rumah BE sedang sepi. Lantas, baju dan celana ID dibuka paksa.
Kemudian, BE merenggut keperawanan ID melalui hubungan layaknya suami istri. Setelah puas menikmati tubuh ID yang mulus, BE langsung meninggalkan ID yang tergolek tanpa busana.
Id ketahuan diperkosa, setelah keluarganya mengetahui celana ID robek. Karena terus didesak untuk menjawab, baru lah ID mengaku telah diperkosa BE.
Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Frido Situmorang, membenarkan laporan dugaan pemerkosaan tersebut. (*)

MN Todongkan Kujang Agar E Mau Layani Nafsu Birahi



MN Todongkan Kujang Agar E Mau Layani Nafsu Birahi
NET
Ilustrasi perkosaan


CIREBON - Seorang pegawai hononer Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Cirebon, MN (23) ditangkap petugas dari Kepolisian Resor Cirebon Kota, Rabu (14/3/2012). Dia ditangkap di tempat kerjanya, setelah ada laporan dari mantan istrinya, E (18) yang mengaku telah diperkosa MN.
Pemerkosaan terjadi Sabtu (3/3/2012) dan Minggu (4/3/2012). Ketika itu, E tengah membeli susu untuk anaknya, namun tiba-tiba didekati MN. E pun dipaksa ikut dengan MN keliling Kota Cirebon. Namun E menolak, sehingga MN pun mengancam, memukul dan menjambak rambut E.
Mendapat perlakuan kasar dan dipaksa naik ke sepeda motor yang dibawa MN, E pun ikut saja. Namun sekitar pukul 21.00, MN malah membawa E ke sebuah hotel di Kota Cirebon. Di dalam kamar hotel itulah pemerkosaan terjadi.
E dipaksa untuk melayani nafsu bejat MN dengan di bawah ancaman senjata tajam berupa kujang. Di kamar hotel itu, E diperkosa dua kali.
Esok paginya, MN keluar dari hotel bersama E. Namun dia bukannya memulangkan E ke rumahnya, malah kembali diajak keliling kota dan berakhir di rumah MN di daerah Mundu, Kabupaten Cirebon. Di rumahnya, MN mengulangi perbuatan memerkosa E sebanyak tiga kali.
Setelah puas, MN memulangkan E. Namun bukan langsung ke rumah E melainkan ke rumah keponakan E. Atas perbuatan MN, E pun melapor ke polisi. Akhirnya polisi menangkap MN di tempat kerjanya kemarin. MN pun akan dijerat pasak 285 KUHPidana tentang perkosaan dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.
Kepada polisi, MN mengaku dirinya terpaksa memerkosa E karena masih cinta. Dia kangen terhadap E yang sudah diceraikannya selama tujuh bulan.
"Motifnya karena MN masih cinta dan kangen ke mantan istrinya. Makanya dia mendekati korban ketika membeli susu anak, lalu memaksa pergi dengan ancaman, pukulan dan jambakan di rambut," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Cirebon Kota, Ajun Komisaris Didik Purwanto, di Markas Kepolisian Resor Cirebon Kota, Rabu (14/3/2012).

Pemerkosaan Anak di Kupang Sangat Tinggi


Pemerkosaan Anak di Kupang Sangat Tinggi
IST


KUPANG - Kasus pemerkosaan dan kekerasan terhadap anak di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat tinggi. Bahkan kasus pemerkosaan anak di NTT tertinggi/terbanyak di Indonesia.
Demikian diungkapkan Naumi Werdisastro, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga-Koordinator Nasional/Kornas Pos Advokasi terhadap  Kekerasan Anak (Pakta) Mabes Polri, sebuah organisasi yang melakukan advokasi/ perlindungan anak, saat ditemui Pos-Kupang.Com usai memberikan keterangan pers di Hotel Charvita-Kupang, Sabtu lalu, terkait dugaan malapraktek yang menimpa bayi Elija Dethan.
"Saya tegaskan bahwa kasus pemerkosaan terhadap (yang menimpa) anak di wilayah NTT sangat tinggi. Terkait kasus yang menimpa anak-anak ini, maka kami di Kupang mempunyai organisasi relawan Komunitas Akar Rumput (KOAR) yang menjadi mitra dan sangat peduli memberikan advokasi  terkait kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di wilayah ini," jelas Naumi yang mengaku ke Kupang bersama Komnas Anak bergandengan dengan KOAR dan Lintas Healing binaan Stany Say, MBA.
Naumi mengaku, NTT adalah daerah peringkat satu kasus pemerkosaaan terhadap anak di Indonesia dan urutan kedua Kota Bogor; ketiga di wilayah Sumatera," kata Naumi tanpa menyebutkan jumlah kasus pemerkosaaan yang menimpa anak- anak di wilayah NTT.
Dia mengaku kasus perkosaan seperti ini sering menimpa anak- anak dan ini sangat erat kaitannya dengan masalah pendidikan, dan juga ada kaitannya dengan kemiskinan.
"Kasus pemerkosaan yang menimpa anak-anak dan kasus kekerasan terhadap anak membutuhkan kepedulian semua pihak, termasuk pemerintah. Mari kita bergandengan tangan menekan kasus-kasus seperti ini. Komitmen Pakta dan Koar adalah memberikan perlindungan dan pendampingan serta advokasi terhadap anak-anak korban tindak kekerasan, termasuk anak korban pemerkosaan," ujarnya.
Untuk pendampingan secara hukum, kata Naumi,  PAKTA Mabes Polri  membangun kerja sama dengan Peradi dan penanganan trauma healing menggandeng Lintas dan Koar dalam bentuk trauma healing center, termasuk membangun rumah kasih bagi anak korban kekerasan.

Tokoh Masyarakat Pontianak Sepakat Cegah Konflik


Tokoh Masyarakat Pontianak Sepakat Cegah Konflik
Tribun Pontianak
Sejumlah tokoh masyarakat Kalbar berkumpul dan sepakat menciptakan situasi di Pontianak kondusif dan mencegah terjadinya koflik 


PONTIANAK - Sejumlah tokoh masyarakat mengadakan silaturahmi di Mapolda Kalbar, Jumat, menyikapi ketegangan yang terjadi antara dua kelompok massa, pemuda dan mahasiswa Dayak serta massa pro-FPI, Rabu dan Kamis kemarin.
Massa kedua pihak sempat turun ke jalan. Aparat keamanan bahkan sempat melepaskan beberapa kali tembakan peringatan untuk menghalau massa dan mencegah terjadinya bentrokan.
Selain Kapolda Brigjen Pol Unggung Cahyono, hadir pula Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis, Sekda Kalbar M Zeet Assovie, Wali Kota Pontianak Sutarmidji, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan.
Selain itu, hadir Bupati Melawi yang juga Ketua Umum Pemuda Melayu Kalbar Firman Muntaco, Ketua Majelis Raja Nusantara Kalbar Gusti Suryansyah, Ketua MABM Kalbar Chairil Effendy, Sekretaris umum DAD Ibrahim Banson, Ketua FKUB Kalbar Khaitami Salim, dan sejumlah tokoh lainnya.
Dalam perteman tersebut, Plh Rektor Untan, AB Tandililing, mengungkapkan bahwa suasana kampus aman-aman saja, maka dari itu tidak diambil langkah meliburkan. Jikalah situasi agak gawat, baru diliburkan.
Ketua MABM Kalbar, Chairil Effendy, mengajak para tokoh bersatu padu. "Jangan kita berbohong, dan kemudian kita mengipas-ngipas ke bawah. Bertulus hati, harus dengan ikhlas," katanya.
Sekretaris umum DAD, Ibrahim Banson, mendesak aparat keamanan untuk segera menangkap pelaku penganiayaan terhadap Sartono, Tatang Sanjaya, dan Cris.
"Masyarakat adat Dayak berharap pelaku ditangkap dan serahkan ke proses hukum," tegasnya.
Pada Jumat sore, seluruh pengurus dan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar bertemu di ruang Pascasarjana STAIN Pontianak.
FKUB menghasilkan sejumlah pernyataan, dibacakan oleh Pinandita Ir Putu Duva Bandem MMA. Pertama, meminta dan mengimbau semua pihak yang terlibat dalam ketegangan agar segera dihentikan.
Hal ini demi keselamatan, kedamaian, kerukunan hidup umat beragama, masyarakat etnik, kelangsungan hidup dan masa depan anak cucu dan keturunan kita bersama.
Kedua, meminta dan mengimbau semua pihak saling menghormati keberadaan agama-agama, organisasi keagamaan, organiasi paguyuban etnik apapun yang sah secara hukum dan sudah ada serta tumbuh secara baik di negeri ini, sepanjang tidak melakukan tindakan-tindakan provokatif, anarkis, dan melanggar hukum.
Ketiga, meminta dan mengimbau semua pihak agar tidak terjebak pada kepentingan politik tertentu yang bermaksud memanfaatkan konflik-ketegangan ini dengan mengorbankan kepentingan yang lebih besar.

Siswa SMA Keperogok Berpacaran Dalam Keadaan Telanjang


Siswa SMA Keperogok Berpacaran Dalam Keadaan Telanjang
google


MBAY - Sepasang kekasih yang berstatus sebagai siswa SMA di Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dipergoki berpacaran tanpa mengenakan busana.
Mereka dipergoki, Jumat (3/2/2012) malam sekitar pukul 23.00 Wita. Saat itu kedua remaja yang  “dimabuk asmara” tersebut, sedang bercumbu mesra tepatnya di lokasi dekat lapangan voli yang selama ini disebutkan secara umum sebagai Lapangan Berdikari Mbay.
Kedua siswa yang duduk di bangku kelas III SMA dipergoki saat petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) melakukan patroli rutin. Pada malam itu ada dua orang Pol PP yang melakukan patroli, dibantu oleh beberapa orang warga yang berdomisili di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Kepala Satuan (Kasat) Pol PP Kabupaten Nagekeo, Alex Jata, membenarkan kejadian itu saat dikonfirmasi di ruangan kerjanya, Sabtu (4/2/2012).
“Kedua orang siswa-siswi itu saat dipergoki, sedang berpacaran dan sudah mengarah ke hal-hal yang tidak baik. Karena mereka tidak berbusana. Saat petugas kami hendak menangkap, yang cewe sempat lari tetapi dikejar dan berhasil ditangkap lagi. Keduanya adalah siswa-siswi kelas tiga, dan setelah ditangkap pada saat itu kami serahkan kepada Kepala Sekolahnya,” kata Alex.
Dia menjelaskan, selama ini petugas Pol PP selalu melakukan patroli rutin. Kalau di siang hari dilakukan selama jam dinas, sedangkan pada malam hari dilakukan dua kali, yaitu pada pukul 22.00 Wita dan pukul 01.00 Wita dini hari.
Patroli dilakukan di tempat-tempat umum, serta di tempat tertentu yang dinilai rawan. Baik rawan terhadap ancaman keamanan atau pun yang kemungkinan bisa terjadi tindakan asusila lainnya. Beberapa tempat umum yang selalu dipantau saat patroli selama ini, menurutnya antara lain terminal, Pelabuhan Maropokot, dan di sekitar Lapangan Berdikari Mbay.

Pelaku Usaha Rugi Miliaran Rupiah akibat Pontianak Memanas


Pelaku Usaha Rugi Miliaran Rupiah akibat Pontianak Memanas
Tribun Pontianak/Galih Nofrio Nanda
Massa dari masyarakat Dayak melakukan aksi berjalan kaki dari Rumah Betang menuju Polda Kalimantan Barat di Jalan Sutoyo Pontianak, Kamis (15/3/2012). Mereka menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI) di Kalbar. 


PONTIANAK - Dampak dari kondisi Kota Pontianak yang sempat memanas selama dua hari, Rabu dan Kamis kemarin, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mengaku, kerugian yang dialami kalangan usaha mencapai miliaran rupiah.
"Roda ekonomi jelas terganggu. Kemarin banyak kantor dan perusahaan yang tutup awal. Tadi pagi Pasar Flamboyan jam sembilan sudah sepi dan banyak pedagang merugi," ujar Acui kepada Tribun, Jumat (16/3/2012).
"Untuk jangka panjang juga akan mempengaruhi jalur distribusi ke daerah pedalaman. Kerugian akibat kejadian dan ketidakpastian situasi dalam dua hari ini mencapai miliaran rupiah dari kalangan usaha," bebernya.
Sektretaris Association of the Indonesia Tours and Travel (Asita, asosiasi biro perjalanan wisata) Kalbar, Suparwan, mengatakan, dampak dari kejadian tersebut sangat dirasakan dan mempengaruhi kalangan bisnis.
Ini terutama pada pengusaha kecil, seperti penjual makanan dan pedagang kaki lima serta buruh harian.
"Kalau kami sebagai pengusaha travel, saat ini belum terlalu merasakan dampak ekonominya. Karena masyarakat yang datang dan pergi, baik Kalbar maupun luar Kalbar, lancar-lancar saja," ungkapnya.
Pengusaha travel, Lukas Gunawan, owner Duta Travel, mengaku tidak begitu berpengaruh aktivitas bisnisnya. "Kalau dampak ekonomi untuk saat ini sih mungkin belum begitu terasa. Tapi, kalau berkelanjutan, ekonomi kita akan rugi," katanya.
Saat ini, kata Lukas, permintan tiket pesawat tetap tinggi. Apalagi, sudah masuk musim sembahyang kubur, harga tiket sedang mahal.
Pantauan Tribun di beberapa sudut kota, Jumat, aktivitas bisnis berjalan normal, meski masih ada beberapa toko memilih tidak menjalankan usahanya dan sebagian memilih tutup lebih awal dari waktu biasanya.
Di antaranya, di Pasar Sudirman atau Nusa Indah, beberapa toko tidak beroperasi. Demikian juga di Jl Tanjungpura, Gajah Mada, dan sekitarnya.
Sedangkan di Pasar Flamboyan, beberapa toko juga tidak beroperasi serta sebagian tutup lebih awal.

Agar Awet Muda, Ibu Rumah Tangga Cabuli Siswa SMP



Agar Awet Muda, Ibu Rumah Tangga Cabuli Siswa SMP
google
Ilustrasi


LARANTUKA - Ibu rumah tangga (IRT), BRD (31), warga Kelurahan Amagarapati, Kecamatan Larantuka, mencabuli seorang siswa SMP di Kota Larantuka, Kumbang bukan nama sebenarnya  (14), Sabtu (3/3/2012), sekitar pukul 16.30 Wita.

Diduga, IRT mencabuli Kumbang agar dirinya awet muda. Aksi percabulan itu dilakukan BRD di atas mobil pick up.
Pemuda yang  digerayangi oleh IRT itu sampai meronta-rota menangis minta dilepaskan. Namun IRT terus melakukan adegan laik sensor.
Kejadian itu bermula ketika Kumbang hendak ke Lebao dan di jalan dia bertemu sopir, Vinsensius Suban (29), yang mengendarai mobil pick up EB 8521 C.
Dalam perjalanan, mobil dihentikan IRT dan Nasu di Lebao dan keduanya lalu duduk di depan bersama sopir dan korban. Tiba di Lorong Rayahu, Kota Sau, Sarotari, IRT dan Nasu sempat minta berhenti dan turun sekitar 30 menit lalu naik kembali ke atas mobil itu.
Selanjutnya mobil ke arah ATM Bank NTT. Di Kantor Bupati Flotim, Nasu turun mengambil uang di ATM dan memberikannya kepada IRT sebanyak Rp 50 ribu. Kemudian Nasu tidak melanjutkan perjalanan lagi.
Mobil kemudian kembali ke arah Weri. Dan, dalam perjalanan, sopir menyuruh IRT untuk mencabuli korban dengan 'berkaraoke'.
Mobil terus melaju dan tersangka mulai meraba korban lalu 'berkaraoke'. Diperlakukan seperti itu, Kumbang meronta dan menangis. Setelah itu, korban diturunkan ke Weri dan IRT memberikan uang kepada korban sebesar Rp 4.000.
Korban turun lalu naik angkota pulang ke rumahnya dan melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Selanjutnya orangtua korban dan korban melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
Wakapolres Flotim, Kompol M Tomo, dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim Polres Flotim, AKP Alexander Apluggi, Minggu (4/3/2012) siang, mengatakan, sudah membekuk dua tersangka hari itu juga di Weri sekitar pukul 19.30 Wita.
"Sopir dan IRT itu kita tetapkan sebagai tersangka. Keduanya kini kita tahan untuk dimintai keterangan," kata Apluggi.
Hasil keterangan sementara, tersangka IRT mengaku melakukan hal itu untuk awet muda. "Pelaku kita jerat dengan Pasal 82 UU Nomor 23/2002 tentang mencabuli anak di bawah umur. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara," katanya.

Gubernur Jamin Tak Ada Pengerahan Warga Dayak ke Pontianak


Gubernur Jamin Tak Ada Pengerahan Warga Dayak ke Pontianak
Tribun Pontianak/Galih Nofrio Nanda
Massa dari pemuda dan mahasiswa Dayak melakukan aksi berjalan kaki dari Rumah Betang menuju Polda Kalimantan Barat di Jalan Sutoyo Pontianak, Kamis (15/3/2012). Mereka menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI) di Kalbar. 


TRIBUN - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Cornelis memastikan tidak akan ada pergerakan masyarakat Dayak yang berasal dari wilayah pedalaman Kalbar, terkait ketegangan yang sempat terjadi antara dua kelompok massa di Kota Pontianak pada Rabu (14/3/2012) dan Kamis (15/3/2012).
Penegasan tersebut disampaikan Cornelis ketika menggelar konferensi pers di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Jumat (16/3/2012).
Hadir di konferensi pers tersebut, Kapolda Kalbar Brigjen Pol Unggung Cahyono, Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis, Kajati Kalbar Jasman Panjaitan, anggota DPR Carolin Margret Natasha, Wakil Gubernur Kalbar, dan para Panglima Komando Utama.
Pernyataan Cornelis untuk menyikapi ketegangan yang terjadi antara dua kelompok massa, pemuda dan mahasiswa Dayak serta massa pro-FPI, Rabu dan Kamis kemarin.
Massa kedua pihak sempat turun ke jalan. Aparat keamanan bahkan sempat melepaskan beberapa kali tembakan peringatan untuk menghalau massa dan mencegah terjadinya bentrokan, seperti di Jl Pahlawan.
"Saya memang sempat mendengar bahwa ada sekian ribu warga dari pedalaman Kalbar hendak datang ke Pontianak dengan membawa senjata tajam dan berbagai jenis senjata lainya," kata Cornelis.
"Tapi, saya pastikan, hal tersebut tidak benar adanya, semuanya dalam kondisi aman sehingga masyarakat Pontianak tidak perlu khawatir," ujarnya.
Cornelis menjamin Kalbar aman. Untuk itu, ia meminta seluruh jajaran pemerintah sampai ketua RT, jangan ada yang menjadi provokator.
Cornelis juga membantah bahwa isu yang beredar, yang menyatakan dirinya dan Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya mengungsi terkait insiden itu.
"Isu yang beredar, Pendopo Gubernur dan Rumah Betang Panjang sudah dibakar, itu semua bohong," ujarnya.
Sementara Kapolda Brigjen Pol Unggung Cahyono menyatakan sudah memerintahkan Polres Kota Pontianak melakukan penyelidikan mengungkap siapa pelaku penganiayaan dalam insiden Rabu dan Kamis kemarin.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, meminta pelaku usaha di Kota Pontianak untuk tidak takut menjalankan usahanya terkait adanya kejadian keributan sekelompok massa.
Diberitakan sebelumnya, situasi di Kota Pontianak, Rabu dan Kamis kemarin sempat memanas.
Massa Front Pembela Islam (FPI) sempat bersitegang dengan mahasiwa Dayak di Jl KH Wahid Hasyim, Rabu (14/3/2012) sore, terkait pemasangan spanduk di depan Asrama Pangsuma.
Kemudian, pada Kamis (15/3/2012), massa dari kedua pihak kembali turun ke jalan di lokasi berbeda. Aparat keamanan bahkan sampai memblokade sejumlah ruas jalan agar kedua kelompok massa tidak sampai bertemu.

Antisipasi Bentrokan, Polri Kirim 4 SSK Brimob ke Pontianak


Antisipasi Bentrokan, Polri Kirim 4 SSK Brimob ke Pontianak
net
Pasukan Brimob 


PONTIANAK - Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar mendapat bantuan sebanyak empat satuan setingkat kompi (SSK) Brimob dari Mabes Polri, terdiri dari Pelopor Brimob Bogor dan Brimob Polda Jawa Tengah untuk menjaga keamanan di Kota Pontianak dan sekitarnya.
Polda juga menyebarkan sebanyak 1.500 lembar selebaran imbauan yang isinya meminta masyarakat Kalbar tidak mudah terprovokasi.
Pengerahan pasukan Brimob ini menyikapi ketegangan yang terjadi antara dua kelompok massa, pemuda dan mahasiswa Dayak serta massa pro-FPI, Rabu dan Kamis kemarin.
Massa kedua pihak sempat turun ke jalan. Aparat keamanan bahkan sempat melepaskan beberapa kali tembakan peringatan untuk menghalau massa dan mencegah terjadinya bentrokan
Pangdam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis, menyatakan, TNI siap membantu jajaran kepolisian dan pemerintah, dalam menjaga situasi Kota Pontianak kondusif.
"TNI juga sudah menyiapkan personel untuk membantu pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian, termasuk membantu polisi memediasi kelompok yang bersitegang di wilayah ini," katanya.
Sementara itu, Pemkot Pontianak meliburkan aktivitas belajar mengajar mulai dari SD hingga SMA/sederajat selama dua hari, Jumat dan Sabtu ini.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan, diliburkannya sekolah di Kota Pontianak untuk menyikapi situasi terakhir agar tidak ada kecemasan dari orangtua dan anak-anak.
Dia mendapat laporan, ada sebagian orangtua yang merasa was-was dan tidak mau membawa anaknya ke sekolah. Karena itulah, dibuat keputusan untuk sekalian meliburkan anak sekolah. "Apabila ada yang ulangan, dapat menyesuaikan saja," kata Sutarmidji.
Sutarmidji membuat keputusan itu pada Kamis malam pukul 23.00, dan langsung dikoordinasikan dengan pihak sekolah pada Jumat pagi. Pihak sekolah yang kemudian mengoordinasikannya dengan orangtua siswa.
Pada Jumat pagi, puluhan siswa yang sempat berangkat ke sekolah mengenakan seragam pramuka, seperti yang terlihat di Jl Panglima Aim, Pontinak Timur, terpaksa harus kembali ke rumah.
Irfan (11), satu di antara siswa SDN di Jl Panglima Aim, mengatakan, ada beberapa guru yang memberitahukan bahwa sekolah diliburkan.
Sekolah terpadu Al-Azhar juga meliburkan siswa-siwinya. Mauluddin, Kepala Sekolah Al-Azhar, mengatakan, Jumat pagi dewan guru mengadakan rapat internal mengenai keputusan libur itu. Siswa pun diminta kembali ke rumahnya.
Waka Kesiswaan SD Al-Azhar, Siti Marfuah, mengatakan siswa diliburkan juga berkaitan dengan ujian tengah semester (UTS) pada Senin mendatang. Untuk menyiapkan ujian itu, murid-murid perlu belajar di rumahnya beberapa hari sebelum UTS dilaksanakan.
Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Mukson Munandar, secara terpisah mengatakan, mengatakan peliburan sekolah ini dilakukan bukan karena kondisi Pontianak. Namun, karena para orangtua murid di beberapa sekolah khawatir dengan anak-anaknya.
"Banyak ibu-ibu mengeluh menanyakan 'bagaimana anak saya, Pak'. Bukan berarti keamanan di sini tidak terjamin ya. Cuma memikirkan kekhawatiran pada anak-anaknya saja," jelasnya.