PONTIANAK -
Siswi Kelas IX SMPN 22 Pontianak, Daecy Listianti (15), nekad
mengakhiri hidupnya di ruang Unit Kegiatan Sekolah (UKS), Jumat (14/9).
Diduga, warga Jl Parit Demang, Pontianak, yang biasa disapa Eci ini,
tak kuasa menahan beban setelah bertengkar dengan teman lelakinya, Kamis
(13/9/2012) malam.
Eci ditemukan pertama kali oleh siswa
lainnya, Geri Alifiah, dalam keadaan tergantung di pintu. Melihat hal
itu, Geri dengan wajah pucat bergegas ke kelas, memberi tahu guru dan
teman.
"Saat itu, sudah jam pulang. Karena saya mau ikut ulangan
harian susulan dengan beberapa kawan, jadi masih di sekolah. Saat saya
mau bercermin di UKS, tiba-tiba melihat dia sudah tergantung," kenang
Geri kepada Tribun.
Saat ditemukan, leher Eci masih terikat kain.
Tidak jauh dari ia tergantung terdapat kursi yang diduga digunakan
sebagai penyanggah. "Saya lihat wajahnya sudah pucat semua dan lehernya
merah karena ikatan kain itu. Guru langsung cepat membawanya ke rumah
sakit untuk menyelematkan nawanya," kata Geri.
Sejak jam
pelajaran pertama, ternyata Eci tidak masuk. Begitu tiba di sekolah, Eci
ke ruang UKS. Tak lama kemudian, teman sekelas Eci, Dita Rahmawati
(15), datang. Dita ke ruang UKS karena menderita sakit gigi saat
pelajaran Bahasa Inggris. "Jam 08.30, saya masuk UKS. Di sana sudah ada
Eci sedang berbaring. Saya lihat dia menangis," ujar Dita.
Melihat
temannya menangis, Dita mencoba mencari tahu apa penyebabnya. Awalnya,
Eci tidak bersedia bercerita. Ia malah sibuk memainkan handphonenya.
Namun, akhirnya, Eci terbuka juga.
"Akhirnya Eci mengeluhkan
sakit pada kepala dan tangannya. Saat itulah Eci kemudian menuturkan
kalau ia, pada Kamis (13/9) malam, sempat dipukul menggunakan helm oleh
temannya," papar Dita.
Kepada Dita, Eci akhirnya bercerita kalau
dirinya baru saja berkelahi dan putus cinta dari pacarnya. "Kami sempat
baring-baring di UKS. Dia sempat memeluk saya dan minta maaf kalau ada
salah," ungkap Dita.
Sempat Bertengkar
Dita
menyebut, Eci memang sudah lima bulan pacaran dengan seorang siswa SMAN
10 Pontianak. "Eci cerita kalau punya masalah dengan cowoknya sehingga
berkelahi. Yang kita tahu, dia kelahi dengan cowoknya. Pacarnya itu
pernah memukul Eci dengan helm ke kepala dan tangan. Tadi dia megang
kepalanya terus, ngerase kesakitan. Saya lihat memang ada memar di
kepalanya. Dia juga mengaku tangannya sakit," papar Dita.
Setelah
berbagi kisah dengan Dita, Eci lantas membuat tali gantungan dari spray
kasur. "Saya bilang, Eci jangan bunuh diri! Tapi Eci bilang dia cuma
bergurau, tidak serius bunuh diri," kenang Dita.
Dita juga sempat
mencoba meminjam handphone Eci untuk melihat isi SMS yang membuatnya
menangis. Namun Eci menolaknya. Dita kemudian kembali ke kelas karena
jam pelajaran Bahasa Inggris usai.
Ia meninggalkan Eci sendirian
tanpa firasat apa-apa. Namun, ia terkejut karena setelah ditinggal
sendirian itulah, ternyata Eci yang dikenal ramah dan mudah bergaul
malah itu mengakhiri hidupnya. "Saya tidak menyangka kalau Eci
benar-benar melakukannya," imbuh Dita.
Cerita yang hampir sama
diutarakan ibunda Eci, Sri Herawati. Sri menceritakan, dua hari
teakhir, Eci terlihat murung. "Ia sempat bercerita kalau sedang
bertengkar dengan pacarnya," kata Sri.
Jumat pagi, Sri melihat
memar di kepala Eci. Namun Eci membantah kalau memar itu karena dipukul
pacarnya. "Dia bilang, memarnya itu karena jatuh dari motor, bukan
karena dipukul. Padahal saya dengar dia malam Jumat dipukul temannya.
Kalau memang ada yang memukul anak saya, harus dihukum," tambah Sri.
Keluarga Ikhlas
Air
mata tak henti membasahi pipi Sri selama proses pemakaman Eci di
Pemakaman Muslim Parit Demang. Sri harus dipapah kerabatnya saat menuju
ketempat pemakaman yang tak jauh dari kediaman mereka.
Kesedihan
yang sama juga terlihat di raut wajah teman-teman sekolah dan
sepermainan Eci. Proses pemakaman berakhir tepat sebelum Azan Maghrib
berkumandang. Usai pemakaman, Sri menuturkan mendapat kabar kematian
anak sulungnya itu dari teman Eci, Andre.
Jumat pagi, tidak biasanya, Eci menolak di antar ke sekolah. Ia malah memilih jalan kaki dari rumah.
"Saat
mau berangkat sekolah dia mau saya antar, tapi dianya tidak mau dan
lebih memilih jalan kaki. Ternyata, siangnya saya dapat kabar dia
meninggal," kata Sri.
Kakek Eci, Mat Yasin menambahkan pada
dasarnya pihak keluarga sudah mengiklaskan kepergian Eci. Pria yang saat
kejadian tengah berada di Balai Karangan ini, memaksakan diri pulang ke
Pontianak untuk melihat langsung jasad cucunya.
"Kami ikhlas
dengan kepergiannya. Mau diapakan lagi, sudah terjadi. Tetapi kalau
memang ada sesuatu hal yang janggal, kita persilakan kepada aparat hukum
untuk memeriksa kejanggalan itu," tegas Mat Yasin.
Kepala SMP N
22 Pontianak, Sukirno, menuturkan pihak sekolah berbelasungkawa atas
kematian Eci. Peristiwa ini menurutnya jauh di luar perkiraan manajemen
sekolah.
"Kami keluarga besar SMP N 22 Pontianak berbelasungkawa
dan menyampaikan kesedihan yang mendalam untuk almarhumah. Kejadian ini
sangat jauh dari perkiraan kami selaku dewan guru," imbuhnya.
Kasat
Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Puji Prayitno, mengatakan saat ini
pihaknya sedang melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang
saksi-saksi. Polisi juga masih menungu hasil visum dari tim dokter yang
melakukan pemeriksaan.
"Kasus ini masih dalam penyelidikan. Kita
sudah mintai keterangan beberapa saksi. Saat ini, kita masih menunggu
hasil visum dari tim dokter," ungkap Puji.
Terkait ada informasi
mengenai ada tindak kekerasan terhadap kroban yang dilakukan oleh
pacarnya pihkanya juga masih melakukan pemeriksaan apakah ada
tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. "Pemeriksaan awal diduga korban
meninggal diduga akibat putus cinta. namun masih kita dalami," kata
Puji. (Edisi Cetak)