Ucapan

SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!

Rabu, 09 Januari 2013

Komnas PA minta bocah yang koma di RS Persahabatan divisum

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga RI (11) yang saat ini terbaring kritis di ruang ICU Rumah Sakit Umum Persahabatan mengalami kekerasan seksual. Arist pun telah membuat laporan kepolisian di Polres Jakarta Timur.
Agar dapat melakukan visum kepada RI.

"Saya mencurigai, anak (RI) ini mengalami kekerasan seksual. Kami sudah ke Polres Jakarta Timur, untuk rekomendasi dilakukan visum," ujarnya saat dihubungi, Jumat (4/1).

Menurut Arist, visum ini juga akan mencari siapa pelaku jika benar RI mendapat perlakuan kekerasan seksual. Dikatakan bisa saja penyakit yang dialami RI bukan karena pelecehan seksual.

"Kemarin saya lihat kondisinya, kemaluannya memang sudah dalam kondisi rusak berat, untuk itu kami akan lanjutkan ke proses kepolisian untuk divisum dulu, karena bisa saja disebabkan hal lain," jelasnya.

Sebelumnya RI (11), seorang bocah perempuan kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, terbaring koma di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, sejak Sabtu (29/12) lalu. Anak bungsu dari pasangan suami istri, S (50) dan Asri (54) ini di duga menjadi korban pemerkosaan. Ibu korban mengatakan, berdasarkan informasi dari teman-teman sekolahnya, terdapat seorang guru yang sering menciumi murid-murid di sekolah itu.

"Teman-temannya cerita ada guru yang suka ciumin anak," jelas Asri saat ditemui di Griya Puspa RSUP Persahabatan.

Komnas Anak Bentuk Tim Investigasi Pemerkosaan RI

Jakarta - Komisi Nasional Perlindungan Anak telah membentuk tim investigator untuk menyelidiki adanya dugaan pemerkosaan terhadap siswa SD Negeri 22 Petang, Pulogebang berinisial RI, 11 tahun. Menurut Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, tim ini bertugas menginvestigasi langsung lingkungan tempat tinggal dan sekolah RI.
"Mulai kemarin kami telah turunkan tim investigator untuk mengetahui kebenaran dugaan pemerkosaan terhadap korban," kata Arist kepada Tempo, Sabtu, 5 Januari 2013. Tim, kata Arist, juga akan mengunjungi teman-teman RI untuk menanyakan kebenaran adanya guru yang suka mencium siswa.
Sebelumnya, Arist menduga RI mengalami kekerasan seksual. "Saya mencurigai anak (RI) ini mengalami kekerasan seksual," kata Arist.
Kamis sore, 3 Januari, Komnas PA mendampingi keluarga RI untuk membuat laporan dan memberikan keterangan ke Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, agar dapat melakukan visum kepada RI. "Unit PPA dari Polres Jakarta Timur sudah menindaklanjuti dengan mendatangi korban dan meminta keterangan dari pihak RS Persahabatan," kata Arist.
RI, yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 5, saat ini masih terbaring koma di ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. RI menderita luka di bagian vagina, yang diduga akibat mengalami kekerasan seksual. RI terbaring koma sejak 29 Desember 2012 dan hingga kini belum sadar.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Persahabatan, dr Tri Hesty Widyastuti, menambahkan, saat ini RI dalam keadaan sakit berat dan dipakaikan alat bantu pernapasan. "Panas masih tinggi, tapi kejang sudah tidak ada lagi, dan korban masih kritis (koma)," kata Tri.
Sementara, dokter spesialis Anak, dr Emma Nuhaema, mengatakan RI juga mengalami infeksi atau radang otak. Namun, ia belum bisa memastikan apakah infeksi otak disebabkan kejang atau infeksi di vaginanya.
"Kami sudah lakukan pemeriksaan CT scan dan ternyata ada infeksi otak, karena kejang atau bisa dicurigai mungkin dari luka (di kemaluannya) itu," ujarnya, dalam konferensi pers di RSUP Persahabatan, Jumat, 4 Januari 2013.

Meski RI Meninggal, Komnas Anak Tetap Menyelidik

 


Jakarta - Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan tetap akan melanjutkan kasus RI, 11 tahun. Siswi kelas V SDN 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga diperkosa dan menjalani perawatan selama seminggu di RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, itu, tadi pagi meninggal.
"Kami akan tetap mengawal penyelidikan hukum atas kasusnya," ujar Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait kepada Tempo, Ahad, 6 Januari 2013. Ia percaya RI trauma berat karena mengalami tindak kekerasan seksual.
Informasi terakhir diterima Arist, jenazah almarhumah akan dibawa oleh keluarganya ke rumah mereka di sekitar Pulo Gebang. "Rencananya dimakamkan di dekat rumah," ujar Arist. Saat ini jenazah masih berada di RSUP Persahabatan.
Ketua Komite Medik Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan M. Iqbal memberi kabar meninggalnya RI pagi tadi. "Kondisinya terus menurun, pukul 06.00 tadi nyawanya tidak dapat terselamatkan," katanya.
Namun, Iqbal belum bisa memastikan penyebab kematian RI. "Detailnya saya belum tahu, tapi memang kondisinya terus menurun." Saat ini, kata Iqbal, RI masih berada di RSUP Persahabatan, sementara keluarganya sedang mengurus proses pemakaman RI.

Selasa, 08 Januari 2013

Siswi SD yang Diduga Diperkosa, Meninggal

Jakarta - RI, 11 tahun, siswi kelas V SDN 22 Petang, Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga diperkosa, mengembuskan napas terakhirnya di ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, Ahad, 6 Januari 2013, pukul 06.00. RI sempat koma dan menjalani perawatan sejak 29 Desember 2012. Ketua Komite Medik Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, M. Iqbal, mengatakan, selama dirawat di ruang ICU dan dibantu dengan alat bantu pernapasan, kondisi RI semakin menurun. "Karena kondisinya terus menurun, pukul 06.00 tadi nyawanya tidak dapat terselamatkan dan meninggal," kata Iqbal kepada Tempo, Ahad, 6 Januari 2013.
Namun, Iqbal belum bisa memastikan penyebab meninggalnya RI. "Detailnya saya belum tahu, tapi memang kondisinya terus menurun." Saat ini, kata Iqbal, RI masih berada di RSUP Persahabatan dan keluarga sedang mengurus untuk proses pemakaman RI.
Sebelumnya, Iqbal mengatakan, harapan hidup RI di bawah 50 persen. "Perkiraan hidupnya kecil, di bawah 50 persen, dan pasien juga mengalami radang otak," kata Iqbal di RSUP Persahabatan, Jumat, 4 Januari.
Dokter spesialis anak, dr Emma Nuhaema, mengatakan, RI juga mengalami infeksi atau radang otak. Namun, ia belum bisa memastikan apakah infeksi otak disebabkan oleh kejang atau infeksi di vaginanya. "Kami sudah lakukan pemeriksaan CT scan, dan ternyata ada infeksi otak karena kejang atau bisa dicurigai mungkin dari luka (di kemaluannya) itu," ujarnya.

Ada Guru Laki-laki yang Suka Menciumi Gadis R

JAKARTA - Dugaan kekerasan seksual yang mengakibatkan luka yang mengeluarkan benda semacam belatung di kemaluan gadis berinisial R (11) sempat membuat pihak keluarga bingung. Tidak ada gelagat, anak pemulung ini pernah mengalaminya. Asri, ibunda R saat ditemui Tribunnews.com di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan tempat R dirawat menuturkan hal yang senada dengan menantunya. Putri bungsunya tidak pernah menunjukan hal yang aneh, maupun menghilang dalam kurun waktu tertentu.
"Makannya saya sama tetangga-tetangga tidak curiga," ucapnya kepada Tribunnews.com.
Namun demikian teman-teman sebaya R yang tinggal di kawasan padat penduduk di bilangan Cakung, Jakarta Timur sempat memberitahu dirinya, kalau seorang guru laki-laki yang merupakan wali kelas anaknya itu suka menciumi siswi-siwinya, termasuk R salah satunya.
"Katanya suka nyiumi anak-anak murid, di kelas, sama waktu jam istirahat," cerita Asri lagi.
Hingga kini R tak sadarkan diri di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. R lemas karena rasa sakit akibat luka parah di kemaluannya.

Ada Belatung di Kemaluan Gadis Berumur 11 Tahun

JAKARTA - Seorang gadis berinisial R (11) terbaring lemah tak sadarkan diri di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, sejak Sabtu lalu (29/12/2012. Bahkan kini ia harus mengandalkan hidupnya pada alat bantu pernafasan.
Kemaluan bocah itu juga masih merah membengkak, walau pun dokter sudah membersihkan nanah dan segala macam luka yang hingga kini penyebabnya belum diketahui.
Asri (50), ibunda R saat ditemui Tribunnews.com di Rumah Sakit, Kamis (3/1/2013) mengatakan, bahwa kesehatan putrinya sudah menurun sejak sekitar sebulan lalu. Siswa kelas V SD itu tiba-tiba kejang-kejang, dan suhu tubuhnya juga tinggi hingga 40 derajat.
Asri yang berprofesi sebagai pemulung itu mengatakan putrinya kemudian dibawa ke Puskesmas. Oleh dokter R didiagnosa mengalami permasalahan pada Getah Bening. Setelah menjalani perawatan kondisi kesehatan R kembali menurun, gadis itu kembali kejang-kejang.
Keluarga kembali membawa R ke dokter, kali ini anak itu dibawa ke dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak itu didiagnosa menderita gejala Tifus. Dokter juga sempat menuliskan resep obat untuk R agar kesehatannya membaik.
"Di dokter spesialis saya dikenai biaya Rp 270 ribu, uang itu saya dapat dari pinjam tetangga dan saudara," ujarnya.
Selama kondisi kesehatannya menurun, Asri memasangkan popok bayi ke putrinya. R juga semakin jarang berbicara, dan berat badannya menurun drastis karena kondisi kesehatannya itu.
"Sikapnya juga berubah setelah mulai sakit, kalau sekolah maunya diantar, kalau tidak diantar dia nangis-nangis," terang Asri.
Sabtu lalu kondisi R semakin parah, panas tubuhnya naik, kejang-kejang dan kehilangan kesadaran. Anak itu kembali dibawa ke dokter, kali ini R dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat, Persahabatan.
Salah seorang tetangga Asri yang bernama Sumarni (43), juga ikut mengantar anak perempuan itu. Ditemui Tribunnews.com di kediaman R, ia bahkan mengaku ikut mengawal R sampai Unit Gawat Darurat (IGD). Di ruangan tersebut dokter menanggalkan celana gadis itu, dan melesakan obat untuk menangani kejang-kejang di dalam dubur R.
"Waktu celanannya dibuka saya lihat kemaluannya bengkak warnanya merah, saya juga lihat ada seperti belatung kecil, saya nggak tahu apa itu," terangnya.
Ibu rumah tangga itu mengaku kaget menyaksikan hal itu. Pasalnya yang ia tahu selama ini putri tetangganya itu hanya menderita kejang-kejang dan panas tubuh yang tinggi, tak sekali pun ia berfikir ada sesuatu yang bermasalah di kemaluan R.

Polda Belum Simpulkan Gadis Berusia 11 Tahun Korban Perkosaan


JAKARTA - Polda Metro Jaya sejauh ini belum bisa menyimpulkan apakah memang, R gadis berusia 11 tahun yang saat ini tergolek lemah di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jaktim diduga merupakan korban kekerasan seksual. "Anggota kepolisian sudah datang menemui orang tua gadis itu. Dan dari hasil tanya jawab dengan orang tua, anggota belum menemukan jika gadis itu memang menjadi korban kekerasan seksual. Karena orang tuanya sendiri tidak tahu kenapa anaknya sakit," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Jumat (4/1/2013) di Mapolda Metro Jaya.
Kemudian kalaupun meminta keterangan dari R, sampai saat ini R masih tergolek lemah dan mendapatkan perawatan di ICU RS Persahabatan. Sehingga keterangan dari R sendiri baru bisa didapat jika R sudah sehat dan pulih.
Lebih lanjut Rikwanto mengatakan dari pihak kedokteran secara etik juga dokter belum menyimpulkan karena perlu penyembuhan terlebih dahulu, sehingga perlu perawatan.
"R sendiri masih dirawat di ICU, kita masih tunggu dia sembuh.
Secara etik dokter belum mnyimpulkan karena perlu penyembuhan," kata Rikwanto.
Rikwanto menambahkan sambil menunggu perawatan R, anggota kepolisian akan mencari tahu dan ikut membantu menyelidiki kasus ini. Namun yang harus dipastikan terlebih dulu yakni apa penyakit yang sebenarnya di derita gadis kelas lima SD tersebut.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, seorang gadis berinisial R (11) terbaring lemah tak sadarkan diri di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, sejak Sabtu lalu (29/12/2012. Bahkan kini ia harus mengandalkan hidupnya pada alat bantu pernafasan.
Kemaluan bocah itu juga masih merah membengkak, walau pun dokter sudah membersihkan nanah dan segala macam luka yang hingga kini penyebabnya belum diketahui.
Asri (50), ibunda R saat ditemui Tribunnews.com di Rumah Sakit, Kamis (3/1/2013) mengatakan, bahwa kesehatan putrinya sudah menurun sejak sekitar sebulan lalu. Siswa kelas V SD itu tiba-tiba kejang-kejang, dan suhu tubuhnya juga tinggi hingga 40 derajat.
Asri yang berprofesi sebagai pemulung itu mengatakan putrinya kemudian dibawa ke Puskesmas. Oleh dokter R didiagnosa mengalami permasalahan pada Getah Bening. Setelah menjalani perawatan kondisi kesehatan R kembali menurun, gadis itu kembali kejang-kejang.
Keluarga kembali membawa R ke dokter, kali ini anak itu dibawa ke dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak itu didiagnosa menderita gejala Tifus.
Dokter juga sempat menuliskan resep obat untuk R agar kesehatannya membaik.
"Di dokter spesialis saya dikenai biaya Rp 270 ribu, uang itu saya dapat dari pinjam tetangga dan saudara," ujarnya.
Selama kondisi kesehatannya menurun, Asri memasangkan popok bayi ke putrinya. R juga semakin jarang berbicara, dan berat badannya menurun drastis karena kondisi kesehatannya itu.
"Sikapnya juga berubah setelah mulai sakit, kalau sekolah maunya diantar, kalau tidak diantar dia nangis-nangis," terang Asri.
Sabtu lalu kondisi R semakin parah, panas tubuhnya naik, kejang-kejang dan kehilangan kesadaran. Anak itu kembali dibawa ke dokter, kali ini R dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat, Persahabatan.
Salah seorang tetangga Asri yang bernama Sumarni (43), juga ikut mengantar anak perempuan itu. Ditemui Tribunnews.com di kediaman R, ia bahkan mengaku ikut mengawal R sampai Unit Gawat Darurat (IGD). Di ruangan tersebut dokter menanggalkan celana gadis itu, dan melesakan obat untuk menangani kejang-kejang di dalam dubur R.
"Waktu celanannya dibuka saya lihat kemaluannya bengkak warnanya merah, saya juga lihat ada seperti belatung kecil, saya nggak tahu apa itu," terangnya.
Ibu rumah tangga itu mengaku kaget menyaksikan hal itu. Pasalnya yang ia tahu selama ini putri tetangganya itu hanya menderita kejang-kejang dan panas tubuh yang tinggi, tak sekali pun ia berfikir ada sesuatu yang bermasalah di kemaluan R.

Diagnosa Gadis Korban Perkosaan Dinilai Lamban


Jakarta: M. Ihsan, Ketua Satgas Perlindungan Anak menyayangkan lambatnya diagnosa penyebab sakit RI, gadis koma yang diduga korban pemerkosaan. "Sangat disayangkan pihak puskesmas dan dokter tidak bisa mendeteksi penyakit dan sumbernya sehingga nyawa korban terancam karena ada inveksi di kemaluan," katanya, Jumat, 4 Januari 2012.

Lebih dari tiga bulan, sumber penyakit RI tidak diketahui. Kini kondisi organ vital gadis malang itu bengkak dan bernanah. "Keterlambatan mengetahui penyebab ini membuat kepolisian kesulitan untuk mengungkap pelaku," ujar Ihsan lagi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto menuturkan, tiga bulan lalu, korban mengeluh sakit pada bagian ketiak. Kemudian, orang tuanya membawa dia ke puskesmas Harapan Baru, Bekasi. "Diduga sakit kelenjar getah bening." Namun, sebulan berikutnya dia mengeluh sakit lagi. "Dibawa ke dokter Wawan di daerah Harapan Baru, dan dinyatakan sakit lambung."

Karena tak kunjung sembuh, RI dibawa ke dokter lagi untuk ketiga kalinya. "Yang ketiga karena belum kunjung sembuh, dibawa ke dokter spesialis dan dinyatakan sakit typus." Akhirnya pada 29 Desember, korban tidak sadarkan diri dan dibawa ke RS Persahabatan, Jakarta Timur. Dia dirawat di ruang ICU, Cempaka lantai dua hingga saat ini.

Satgas Perlindungan Anak meminta RS Persahabatan membebaskan seluruh biaya pengobatan bocah kelas 5 SD itu. Meski sulit, Satgas meminta kepada kepolisian untuk menggali informasi dari saksi-saksi dan bukti yang bisa digunakan untuk penyidikan.

Sebab, Ihsan menyebut, pemerkosaan merupakan tindakan pidana berat yang harus ditindak seberat-beratnya. Satgas juga meminta kepada Kemensos untuk melakukan pendampingan terhadap korban. "Kemensos memberikan bantuan darurat agar korban dan keluarga pemulung dapat membiayai transport dan kebutuhan selama pengobatan."

Terakhir, dia menyatakan, Satgas berkomitmen untuk terus mengawasi proses penanganan kasus ini. "Kasus ini menjadi pelajaran bagi orang tua dan masyarakat agar segera melaporkan jika ada anak yang dicurigai korban perkosaan atau pencabulan sebelum anak menjadi korban untuk kesekian kalinya."

Jokowi Dituntut Minta Maaf atas Kematian RI


Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia menuding Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bersalah dalam kasus meninggalnya RI, 11 tahun, siswi SDN 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga korban perkosaan. "Gubernur harus sampaikan maaf dan kunjungi keluarga korban," ujar Ketua Satgas Perlindungan Anak KPAI, M Ihsan, Ahad, 6 Januari 2013.
Alasannya, Jokowi dianggap membiarkan lambannya penanganan kesehatan dan ketidakmampuan pelayanan kesehatan dari tingkat puskesmas yang mendeteksi masalah medis RI sejak dini. "Inilah yang berujung maut," ujar Ihsan.
Menurut Ihsan, RI sudah mengeluh sakit sejak tiga bulan lalu. "Keluhannya sakit kelenjar getah bening, tapi tak kunjung sembuh," ujarnya. Keluarga tak berani untuk membawa RI ke tenaga medis yang lebih ahli dengan alasan ekonomi. Namun di sisi lain, pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas tak memadai.
"Ini membuktikan bahwa puskesmas tidak mampu memberikan pelayanan yang optimal," ujarnya. Setelah RI tak sadarkan diri, barulah keluarga berani membawa RI ke RS Persahabatan. Ia sempat divonis berbagai macam penyakit seperti sakit lambung dan thypus.
Saat dirawat di RS Persahabatan, keluarga menemukan fakta bahwa ada dugaan terjadi kekerasan seksual pada RI. "Ada pembengkakan di kelamin yang terinfeksi serta mengeluarkan belatung," ujarnya.
Akhirnya, setelah berjuang melawan penyakitnya selama satu minggu, RI meninggal dunia tadi pagi di RS Persahabatan. Sekarang jenazahnya tengah diotopsi di RS Cipto Mangunkusumo. Atas dugaan kekerasan seksual itu, Ihsan meminta agar kasus ini diusut tuntas.

Taman Hutan Sinjai Jadi Tempat Mesum Muda Mudi

 Taman Hutan Sinjai Jadi Tempat Mesum Muda Mudi 
Taman Hutan Sinjai Jadi Tempat Mesum Muda Mudi

SINJAI -- Taman Hutan Rakyat Sinjai di Kampung Ma'rrang, Desa Batubulerang, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai kerap dijadikan sebagai tempat mesum muda-mudi.
Bayangkan, pada 2012, empat pasangan di luar nikah kepergok oleh warga sedang melakukan hubungan layaknya suami dan istri. Satu di antara pasangan terpaksa dinikahkan.
"Sudah ada empat di sini ditemukan pasangan mesum dari muda-mudi kalau mereka pergi rekreasi," kata Atong, warga setempat, Jumat (4/1/2013).
Warga berharap perbuatan demikian tak dilakukan lagi sebab merusak tatanan budaya warga setempat. Sebagian besar dari mereka adalah bukan warga setempat dan berasal dari kabupaten tetangga.

Senin, 07 Januari 2013

Mencoreng Nama Kampus, Dikeluarkan Tidak Hormat

Sintang – Bartolo Meus Daling, 21, dan Paulus Herman, 20, yang merenggut keperawanan Bunga (nama samaran), 16, siswi kelas tiga salah satu SMPN di Kota Sintang, dikeluarkan secara tidak hormat dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kapuas Raya Sintang.
Kedua mahasiswa itu dianggap mencoreng nama baik kampusnya. Ketua STIKes Kapuas Raya Sintang Urai B Asnol mengakui dua mahasiswanya mencabuli Bunga. Keduanya mahasiswa aktif di lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
“Mereka memang mahasiswa saya yang bertempat tinggal di luar asrama. Mereka sudah diberikan pendidikan etika dan moral dalam bermasyarakat. Tapi apa yang sudah diberikan, tidak masuk dalam pikiran mereka,” kesal Asnol.
Dikatakan Asnol, adanya informasi terkait perbuatan tercela yang dilakukan mahasiswanya tersebut, jajaran akademik STIKes menggelar rapat darurat mempertimbangkan status kemahasiswaan keduanya. “Kemarin kita sudah menggelar rapat darurat, membentuk tim investigasi terhadap informasi tersebut,” ucapnya.
Asnol menuturkan, terkait dengan hasil investigasi yang dilakukan tim mengatakan informasi pencabulan yang dilakukan Bartolo dan Paulus benar dan keduanya terbukti bersalah. “Hasil investigasi dari tim kami di lapangan, kedua mahasiswa tersebut benar telah melakukan perbuatan tercela,” ucapnya.
Berdasarkan Pedoman Akademik STIKes Kapuas Raya, putusan sidang bersama seluruh pimpinan akademik memutuskan kedua mahasiswa tersebut dikeluarkan dari STIKes secara tidak hormat.
Rektor Universitas Kapuas (Unka) Sintang Drs Petrus Atong MSi mengaku kecewa atas ulah Higinus Arkadius, 20, mahasiswanya yang terlibat kasus pencabulan terhadap Bunga. Dia menilai perlakuan Higinus sangat bejat dan mempermalukan almamater Unka.
“Saya tidak akan memberikan sanksi tegas. Dengan diproses hukum dan tidak masuk kuliah, secara otomatis keluar dengan sendirinya,” ungkap Petrus. (din)

Dua Kali Bercinta, Oknum Satpam Dibui

Pontianak – Sedang asyik indehoi, Rb, 30, kepergok orang tua Bunga (nama samaran), 13. Perbuatan asusila itu dilakukan sepasang kekasih ini di kamar Bunga kediaman orang tuanya di Kecamatan Pontianak Tenggara pada Desember tahun lalu, namun baru dilaporkan ke polisi, Jumat (4/1).
Tak terima anaknya ditiduri, orang tua Bunga melapor ke Mapolresta Pontianak hari itu juga. Warga Sungai Kakap Kubu Raya yang bekerja sebagai satpam ini berurusan dengan polisi. Apalagi gadis yang ditidurinya itu masih bawah umur.
Pertama kali Rb meniduri Bunga pada 16 Desember 2012 lalu. Saat itu Rb belum lama pacaran sama Bunga. Pasangan kekasih ini berhubungan badan pada pukul 17.00. Saat itu orang tua Bunga sedang istirahat di kamarnya. Sedangkan anak gadisnya indehoi bersama pacarnya di kamarnya. Tabiat Rb dan Bunga saat itu tidak diketahui orang tuanya.
Merasa keasyikan berhubungan intim layaknya suami istri, Bunga kembali memanggil Rb dan mengajaknya indehoi pada 27 Desember 2012 lalu. Tentulah ajakan tersebut tak ditolak Rb. Dia bergegas mendatangi kediaman Bunga untuk mengulangi perbuatan mesum pada pukul 22.30. Malam itu orang tua Bunga melintas di depan kamar anaknya yang terbuka. Melihat ke arah kamar, Rb tidak mengenakan baju dan anak gadisnya masih terkapar di ranjangnya.
Tidak terima atas apa yang dilakukan Rb terhadap anak gadisnya, orang tua Bunga membawa Rb dan Bunga ke Polresta Pontianak, Jumat (4/1). Setelah Bunga divisum, oknum satpam ini pun ditahan di Polresta Pontianak.
Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol Puji Prayitno SIk membenarkan kejadian pencabulan yang dilakukan oknum satpam terhadap pacarnya sendiri yang masih di bawah umur.
“Satpam ini kita tetapkan sebagai tersangka pencabulan terhadap anak di bawah umur. Oknum satpam ini telah melanggar Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 81 dan 82, ancaman hukumannya 12 tahun penjara,” tegas Puji. (sul)

Rabu, 02 Januari 2013

Usai Mesum, Gadis ABG Digerebek

Razia Subuh, 17 Pasangan Digaruk

Pasangan mesum digelandang ke Markas Satpol PP Kota Pontianak
Hakim
Pasangan mesum digelandang ke Markas Satpol PP Kota Pontianak
Pontianak – Usai melakukan mesum di Hotel Mini, gadis bawah umur digerebek Satpol PP yang di-backup Polisi Militer (PM) serta jajaran Polsek Pontianak Kota, Minggu (30/12).
Razia pengamanan menjelang akhir tahun ini menggelandang 17 pasangan mesum dan tujuh warga tanpa identitas. Petugas bergerak pada pukul 05.00 pagi dan menyisiri Hotel Mini Jalan Penjara. Petugas gabungan itu menemukan beberapa pasangan mesum berduaan di kamar. Ketika dimintai surat nikahnya, mereka tidak bisa menunjukkan. Para pasangan mesum tersebut digelandang ke Markas Satpol PP Kota Pontianak. Mereka didata dan disanksi tindak pidana ringan (tipiring).
Razia berlanjut ke indekos di Jalan Hasanuddin. Petugas kembali mengamankan pasangan mesum yang tidur berduaan sekamar. Di indekos Jalan Dr Wahidin petugas juga mengamankan pasangan mesum. Tidak bisa menunjukkan surat nikah, Satpol PP langsung mengangkut mereka ke markasnya. Beberapa warga yang tidak bisa menunjukkan identitasnya juga ikut diamankan.
“Pasangan ini kita dapatkan sedang berduaan dalam satu kamar. Mereka kita amankan karena tidak dapat menunjukkan surat nikah,” ujar Syamsul Bahri, Kasi Penyidikan dan Penyuluhan Satpol PP Kota Pontianak kepada wartawan.
Syamsul mengatakan razia ini dilakukan dalam rangka pengamanan menjelang pergantian tahun. Selain itu juga sudah banyak warga melapor, indekos kerap kali dijadikan tempat mesum.
“Malam tahun baru bisa jadi kita akan melakukan razia besar-besaran di beberapa hotel dan indekos. Ini masih rencana, kita verifikasi dulu hasil selama ini,” beber Syamsul.
Dijelaskan Syamsul, razia rutin ini untuk menegakkan Perda Ketertiban Umum di lingkungan masyarakat. Sesuai dengan perintah, memprioritaskan hotel dan tempat pemukiman sementara, seperti indekos yang ada di wilayah Kota Pontianak.
“Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas. Terutama yang menyangkut dengan kegiatan negatif, karena dapat merusak mental dan terjadinya kesenjangan sosial,” tegas Syamsul. (hak)

Senin, 31 Desember 2012

KTNA Usul Pupuk Subsidi Diwarnai

Pontianak - Keluhan petani akan sulitnya mendapat pupuk bersubsidi di wilayah timur Kalbar, mendapat tanggapan serius pentolan Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA). Mereka mengobarkan perang terhadap segala upaya penyelewengan pupuk bersubsidi.
“Kita usulkan agar ada pewarnaan yang berbeda untuk pupuk subsidi dan pupuk non subsidi,” ujar Supardi A Kadir kepada sejumlah wartawan usai dilantik secara resmi sebagai Ketua KTNA Kalbar periode 2010-2015 di Balai Petiti Kantor Gubernur, Kamis (28/7).
Pewarnaan pupuk itu dianggap penting sebagai upaya untuk meminimalisasi penyelewengan pupuk bersubsidi untuk tanaman industri. “Nanti pupuk subsidi warnanya lain. Pupuk industri warnanya lain,” jelasnya.
Sejauh ini, kata Supardi, masih banyak petani, khususnya di wilayah timur Kalbar yang mengeluh mendapatkan pupuk bersubsidi. Anehnya, pemerintah selalu mengklaim bahwa kuota pupuk sudah mencukupi.
Kondisi ini tentu menimbulkan kecurigaan ada yang tidak beres dalam distribusi pupuk subsidi tersebut. Bisa saja pupuk bersubsidi yang merupakan hak petani, dijual ke perusahaan perkebunan.
Berdasarkan data yang dihimpun Equator, pemerintah melalui PT Pusri sudah menyiapkan kuota sebanyak 42.000 ton pupuk urea. Namun kouta ini diprediksi tidak sepenuhnya terealisasi. Paling tinggi penyerapan pupuk bersubsidi hingga akhir tahun berkisar 34.200 ton.
Penyaluran pupuk bersubsidi di Kalbar meningkat signifikan. Tercatat dari Januari hingga 15 Juli, penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 17. 000 ton. Meningkat dibanding periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 14.500 ton. Sedangkan realisasi penyaluran tahun lalu sebanyak 29.000 ton.
Mekanisme pendistribusian pupuk bersubsidi diawali dari produsen ke distributor ke pengecer resmi, selanjutnya ke kelompok tani. Di luar jalur tersebut tidak dibenarkan.
Distributor pupuk subsidi tidak diperbolehkan untuk merangkap sebagai penyalur pupuk no subsidi. Adapun HET pupuk urea di kios pengecer resmi sebesar 1.600 per kilogram, atau 80.000 per karung/zak.
Ketua Umum KTNA, Ir H Winarno Tahir mengharapkan usulan pewarnaan pupuk bisa dilakukan secepat mungkin. “Paling tidak pada kuartal III tahun ini,” kata Winarno, kemarin.
Tak hanya dengan pewarnaan, KTNA juga mendorong agar petani mengalihkan penggunaan pupuk dari anorganik ke pupuk organik. Dengan begitu, ketergantungan terhadap pupuk an organic bersubsidi bisa sedikit dikurangi. (bdu)

Pupuk Subsidi Baru Terserap 30 Persen

Pontianak - Banyak petani, khususnya di wilayah timur Kalbar kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Persoalan yang dihadapi para petani karena mendapatkan pupuk bersubsidi harus memesan terlebih dahulu ke kios milik distributor.
“Sebenarnya keberadaan pupuk bersubsidi untuk Kalbar ini baru terserap 30 persen. Mengapa di beberapa bagian di Kalbar petani meresahkan kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, dikarenakan memang tidak bisa langsung mendapatkan pupuk,” jelas Hazairin, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalbar kepada wartawan, kemarin.
Hazairin mengakui para petani kesulitan menemukan pupuk. Apalagi pupuk bersubsidi tidak beredar di pasaran dan harus dipesan terlebih dahulu.
Hazairin menambahkan, kesulitan petani untuk mendapatkan pupuk bukan karena pupuk bersubsidi langka. Tak lain penyebabnya adalah dikarenakan beberapa petani belum memesan pupuk ke kios yang sudah disiapkan di setiap kabupaten.
“Masing-masing kabupaten/kota memiliki kelompok tani yang seharusnya dapat membantu dalam pemesanan pupuk. Karena pupuk tidak dapat dibeli sebelum dipesan, jadi memang harus sabar menunggu,” ujarnya.
Meski demikian, Hazairin menyarankan kepada para petani, jika masih kesulitan dalam menemukan pupuk, maka harus melaporkan terlebih dahulu permasalahan yang ada kepada Dinas Pertanian setempat, nanti pihaknya sendiri yang akan menemui PT Pusri selaku perusahaan yang mengadakan pupuk bersubsidi.
“Silakan laporkan kepada kami dan nanti kami yang akan melakukan koordinasi dengan Pusri. Karena urutannya adalah kelompok tani mendata keperluan para petani terhadap berapa pemesanan pupuk, kemudian ke distributor dan sudah sampai di Pusri belum juga dikirim, berarti yang bermasalah Pusri. Tetap akan kita minta konfirmasi,” tegasnya.
Sejumlah petani di Kabupaten Sekadau masih mengeluhkan kelangkaan pupuk subsidi. Namun di sebagian petani bahasa “subsidi tembak” mulai muncul. Ketika mereka bisa mendapatkan pupuk langsung dari gudang tanpa melewati pengecer dan distributor dengan harga di atas HET subsidi.
“Persoalan pupuk bersubsidi ini harus menjadi perhatian serius. Karena masih banyak petani yang kesulitan memperoleh pupuk tersebut. Kita tidak menginginkan pupuk bersubsidi itu diselewengkan,” tegas anggota DPRD Kalbar Dapil Sanggau-Sekadau, Martinus Sudarno.
Martinus berharap, aparat penegak hukum memperketat pengawasan distribusi pupuk bersubsidi. Kelompok tani diberikan pemahaman dan sosialisasi tentang cara mendapatkan pupuk bersubsidi. (jul)

Beli Pupuk Subsidi Pakai RDKK

Pontianak - Sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi seperti yang dikeluhkan para petani di wilayah Timur Kalbar, dinilai bukan karena kelangkaan pupuk.
Gubernur Kalbar, Drs Cornelis MH, mengatakan penyaluran pupuk bersubsidi untuk kebutuhan petani, berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang disusun oleh kelompok tani. Tentunya disesuaikan dengan jangka waktu satu bulan sebelum diperlukan.
“RDKK merupakan pesanan untuk pembelian pupuk tersebut dan kelompok tani belum melakukan transaksi pembayaran. Selanjutnya RDKK disampaikan ke kios atau pengecer resmi yang ditunjuk produsen sebagai dasar pesanan pupuk bersubsidi di kelompok tani,” jelas Cornelis ketika menjawab pemandangan umum Fraksi PAN dalam paripurna, Senin (1/8).
Cornelis mengatakan, pengecer resmi menyampaikan kepada distributor yang ditunjuk produsen pupuk. Kios atau pengecer mengajukan pesanan pupuk ke distributor dengan membayar kontan, sesuai kebutuhan yang ditentukan dalam RDKK. Barulah distributor mengajukan pesanan ke produsen pupuk bersubsidi.
Atas dasar pesanan distributor itulah, maka produsen melakukan penyaluran pupuk di masing-masing distributor. Selanjutnya disalurkan ke kios atau pengecer.
“Setelah pupuk bersubsidi tersedia di kios, kelompok tani melakukan penebusan dan pembayaran kontan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan,” papar Cornelis.
Ditambahkannya, HET pupuk bersubsidi yang telah ditetapkan di tingkat kios dan pembelian dalam kemasan 50 kilogram per karung. “Sedangkan penambahan biaya angkutan dari kios ke masing-masing kelompok tani ditanggung oleh petani,” tegas Cornelis.
Anggota Fraksi PAN, Drs H Syafarudin HUM, menjelaskan pupuk bersubsidi diperuntukkan bagi para petani. Keberadaan atau ketersediaan pupuk sangat dibutuhkan petani pada saat musim tanam.
Namun, disesalkannya, persoalan selalu muncul setiap petani memerlukan pupuk, selalu sulit dicari dan harganya mahal. Hal ini menurut Syafarudin, tidak lepas dari sistem distribusi dan pengawasan yang kurang serius dan tegas, serta adanya oknum-oknum yang hanya mencari keuntungan pribadi di balik kesusahan yang dialami petani.
“Pemerintah provinsi melalui instansi terkait harus bersikap tegas, agar petani-petani kita tidak menjadi korban,” tegasnya.
Syafaruddin menegaskan, jika memang persoalan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi itu dikarenakan harus didahului pesanan melalui RDKK, ini menandakan masih lemahnya sosialisasi yang diberikan kepada kelompok tani, tentang mekanisme mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Buktinya, petani masih mengeluh sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Kalau memang persoalannya ada pada RDKK, ya disosialisasikan ke kelompok tani. Kalau ternyata RDKK itu sudah disampaikan kelompok tani tapi masih saja sulit, berarti ada yang tidak beres,” tegasnya. (jul)

Harga Pupuk Subsidi Melonjak

Bengkayang - Tingginya biaya angkut dan buruh menjadi penyebab melonjaknya harga pupuk bersubsidi di Kabupaten Bengkayang. Anehnya lagi, pupuk bersubsidi sempat menghilang di pasaran.
B Petrus Diaz, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang mengatakan, beberapa bulan terakhir pupuk bersubsidi jenis urea hilang di pasaran. Sehingga menimbulkan keresahan bagi petani yang membutuhkan.
"Masyarakat mengenal pupuk urea bersubsidi hanya Sriwijaya saja, tetapi sebenarnya ada juga dari Kaltim. Kini pupuk bersubsidi diambil oleh Kaltim. Sebenarnya akhir September pupuk bersubsidi normal, namun masih saja ditemukan kelangkaan pupuk yang bersubsidi," keluh Plt Kadis Pekerjaan Umum Kabupaten Bengkayang ditemui di ruang kerjanya.
Pemerintah mengadakan pupuk subsidi sebenarnya untuk rakyat kecil, tetapi kenyataan di lapangan pupuk bersubsidi untuk sawit. Ia mengakui, banyak laporan yang datang padanya bahwa pupuk bersubsidi banyak dilarikan ke perusahaan perkebunan sawit.
"Tetapi sekarang kita bersyukur dengan telah dikeluarkannya SK Gubernur Kalbar tentang kuota pupuk bersubsidi. Untuk Kabupaten Bengkayang, ada dua distributor resmi pupuk bersubsidi yakni Mitra Tani Dan Pendi Group," beber mantan Camat Capkala dan Siding ini, kemarin.
Diaz menjelaskan, para distributor resmi dapat menunjuk langsung agen untuk menjual pupuk bersubsidi. Selain itu tingginya harga pupuk urea bersubsidi dikarenakan biaya angkutan dan buruh yang menjadi permasalahan di Kabupaten Bengkayang. Kos keduanya yang besar dan dibebankan ke barang, wajar harga pupuk subsidi melonjak.
Saat barang datang ke Bengkayang, para kios atau pengecer tidak memiliki tenaga sehingga menyewa buruh. Untuk menggantikan uang upah buruh, mereka membebankan ke barang atau pupuk urea bersubsidi tersebut. Sama halnya dengan angkutan, jarak yang jauh dan jalan kabupaten banyak yang rusak berat sampai ke tujuan sehingga ongkos angkutan mahal.
Yadi, warga Desa Belimbing Kecamatan Lumar mengungkapkan, tiga bulan lalu dirinya rugi besar dikarenakan jagung yang ia tanam tidak dipupuk. Pupuk urea baik itu yang bersubsidi maupun tidak hilang di pasaran. Padahal petani seperti dirinya sangat membutuhkan pupuk supaya jagung yang ditanam subur.
"Berapa pun harganya, petani mau membeli asalkan barangnya ada. Di Bengkayang harga pupuk urea bersubsidi berkisar 90 ribu rupiah per karung di kios dan pengecer. Sedangkan di Kecamatan Lumar berkisar Rp 100 ribu sampai 130," ungkapnya. (cah)

Alokasi Pupuk Subsidi 126 Ton

Pontianak – Kementerian Pertanian mengalokasikan kuota pupuk bersubsidi sektor pertanian untuk Kalbar sebanyak 126.200 ton sepanjang 2012.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Hazairin mengatakan kuota tersebut diperoleh setelah menyesuaikan dengan target produksi di daerahnya.
“Kuota pupuk bersubsidi ini diharapkan mampu mendorong produksi padi di Kalbar mencapai 1,4 juta ton gabah pada tahun 2012,” ungkap Hazairin kepada wartawan.
Dikatakan Hazairin, kuota subsidi terbagi beberapa jenis pupuk, yakni urea, SP-36, ZA, NPK, dan organik. Untuk pupuk urea, kuota mencapai 41 ribu ton. Sedangkan SP-36 13.000 ton, ZA 3.800 ton, NPK 56.900 ton, dan organik 11.500 ton.
Berdasarkan Permentan No 87/Permentan/SR.130/12/2011 tanggal 9 Desember 2011, telah ditetapkan pula harga eceran tertinggi di Lini IV distribusi atau tingkat pengecer.
Pupuk urea, harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah untuk tingkat pengecer Rp 1.800 per kilogram. Sementara pupuk SP-36 Rp 2 ribu, ZA Rp 1.400, NPK Rp 2.300, dan pupuk organik Rp 500 per kilogram.
Hazairin mengatakan, berdasarkan Permentan No 87 tersebut, alokasi untuk kabupaten dan kota termasuk jenis dari masing-masing pupuk bersubsidi itu, akan disahkan oleh gubernur.
Hazairin mengungkapkan, total luas lahan pertanian di Kalbar yang akan panen selama periode musim rendeng tahun ini mencapai 250.691 hektare. Puncaknya pada Februari seluas 114 ribu hektare. Beras yang dihasilkan dari panen itu secara keseluruhan diperkirakan mencapai 425 ribu ton. (dna)

2013, Jatah Pupuk Subsidi Kalbar 120 Ribu Ton Lebih

Pontianak – Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Hazairin mengatakan kuota pupuk bersubsidi sektor pertanian untuk Kalbar masih di atas 120 ribu ton sepanjang 2013. Kuota tersebut diperoleh setelah menyesuaikan dengan target produksi di provinsi itu.
“Kuota pupuk subsidi terbagi beberapa jenis pupuk, yakni urea, ZA, NPK, SP-36, dan organik. Untuk pupuk urea, kuotanya mencapai 40 ribu ton, NPK 50 ribu ton, selebihnya SP-36, ZA dan organik,” ungkapnya kepada Rakyat Kalbar, Kamis (27/12).
Menurut Hazairin, tingkat provinsi, peraturan gubernur untuk penetapan kuota per kabupaten sudah ditetapkan. Begitu juga dengan peraturan bupati/wali kota untuk kuota pupuk subsidi per kecamatan sudah selesai ditetapkan. “Secara nasional, Peraturan Menteri Pertanian untuk kuota pupuk subsidi sudah ditetapkan pada 1 Desember,” jelasnya.
Hazairin juga mendukung penuh rencana Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan yang akan menerapkan sistem rayonisasi pupuk. Menurutnya, hal itu sangat bagus supaya tidak terjadi tumpang tindih.
Selama ini, sambung Hazairin, pupuk NPK disuplai oleh perusahaan Petrokimia. Sementara untuk urea oleh Iskandar Muda dari Aceh. “Saya mendukung sekali rencana Pak Dahlan tersebut. Bila perlu untuk penyuplai pupuk ke Kalbar cukup satu perusahaan saja. Mulai dari pupuk urea, NPK, dan lain sebagainya,” ujar dia.
Mengenai keluhan kelompok tani di Kalbar yang mengeluhkan kelangkaan pupuk dan tingginya harga, Hazairin mengimbau agar mengecek terlebih dahulu kuotanya masing-masing di dinas pertanian kabupaten/kota. Apakah jatahnya memang sudah habis atau masih ada.
“Kalau kuotanya sudah habis, dari tingkat kecamatan bisa mengajukan ke tingkat kabupaten/kota melalui SK bupati/walikota. Kalau sudah habis juga bisa mengajukan ke tingkat provinsi, akan dialokasikan melalui SK gubernur,” jelasnya.
Hazairin menambahkan, hingga Desember 2012 realisasinya masih sekitar 10 ribu ton. “Kelompok tani silakan dicek dulu di dinas pertanian kabupaten/kota. Kalau habis baru minta ke dinas pertanian provinsi. Kalau habis juga akan kita mintakan penambahan dari pusat,” pungkasnya. (kie)

Sabtu, 29 Desember 2012

Tiga Ratus Juta Rupiah Jak

Acara Pelantikan Gubernur Kalbar

Pontianak – Rapat Paripurna Istimewa pengambilan janji jabatan dan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar periode 2013-2018 akan menelan biaya Rp 328.805.000. Lebih besar Rp 125.575.000 dari pelantikan gubernur pada tahun 2008 lalu.
“Ini untuk beragam kebutuhan misalnya belanja alat tulis kantor, cetak kartu identitas, cetak undangan, sewa perlengkapan, spanduk, baliho, banner, belanja dekorasi, dan hiburan. Selain itu belanja makanan minuman, peliputan dan siaran langsung, serta honorarium,” ungkap Ketua DPRD Kalbar Minsen SH kepada Rakyat Kalbar, Kamis (27/12).
Ia menambahkan pada tahun 2008 silam, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 203.230.000. Peruntukannya, belanja dokumentasi dan dekorasi, belanja cetak dan pengadaan, perlengkapan dan peralatan kantor. Selain itu digunakan untuk belanja sewa meja kursi, makan minum, perjalanan dinas, publikasi siaran langsung, dan honorarium.
“Untuk di dalam gedung mampu menampung sebanyak 700 tamu undangan. Sementara ruangan VIP untuk menampung sejumlah tamu di antaranya Menteri Dalam Negeri beserta rombongan, anggota DPR RI dan DPD RI dapil Kalbar, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, pimpinan DPP partai, serta undangan lainnya,” jelas Minsen.
Tak hanya itu, di luar ruang sidang disiapkan pula layar monitor siaran langsung di Lobby Bawah yang terletak di bagian sisi kiri dan kanan gedung DPRD. Untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat melihat pelantikan tersebut meski tidak dapat memasuki ruangan sidang paripurna.
“Kita menyediakan tempat untuk wartawan berjumlah 60 kursi. Setiap tamu yang masuk akan diperiksa menggunakan metal detector dengan berkoordinasi pengamanan dari Polda Kalbar. Juga akan kita libatkan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Kalbar,” jelasnya.
Dalam jadwal acara sidang tersebut, akan ada paduan suara dari Praja IPDN Kalbar, Paguyuban Kesenian Campursari “Ki Naryolaras”, Sanggar Tari Andari Pontianak. Ada juga Putri Duta Lingkungan Hidup, Putri Pariwisata, Bujang dan Dare Pontianak.
Jelang pelantikan, DPRD Kalbar akan menggelar geladi kotor pada 11 hingga 12 Januari 2013. Geladi bersih direncanakan pada 13 Januari 2013, pukul 10.00 WIB, bertempat di Ruang Balairungsari DPRD Provinsi Kalbar.
Dari pantauan Rakyat Kalbar di lapangan, persiapan acara pelantikan (14 Januari 2012) tersebut telah optimal. Mengingat, acara tersebut akan dihadiri Menteri Gamawan Fauzi dan rombongan. Tak hanya itu, konon, sejumlah elemen masyarakat tak sabar menyaksikan pelantikan pasangan kepala daerah—yang meraih suara sah rakyat sebanyak 1,2 juta lebih—itu. (kie)