Ucapan

SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!

Rabu, 09 Januari 2013

Tim dokter belum bisa pastikan penyebab meninggalnya bocah RI

Tim dokter yang merawat RI (11), bocah korban dugaan pemerkosaan belum bisa memastikan terkait penyebab kematian RI. Saat ini jenazah RI masih di autopsi di RSCM.

"Untuk penyebab apakah karena radang otak atau penyakit di kelamin, kita belum bisa menjelaskan sekarang. Karena pada perawatan itu kita telah melakukan pemeriksaan-pemeriksaan seperti melakukan pemeriksaan darah dan hasilnya belum ada," ujar Direktur Utama RSUP Persahabatan Priyanti Z Soepandi, saat jumpa pers di gedung Griya Puspa RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (6/1).

Nantinya, lanjut Priyanti, gabungan dari keduanya akan disampaikan demikian. "Hanya secara klinis, kerja kita sebutkan bahwa dia radang otak. Tentang penyebab kematiannya dan segala macam masih menunggu hasil laboratorium," lanjut Priyanti.

Seperti diketahui, Anak bungsu, RI (11) dari pasangan S (50) dan Asri (54) yang diduga menjadi korban pemerkosaan akhirnya meninggal. Diketahui RI dilarikan ke RSPU Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur sejak 29 Desember 2012 pukul 10.38 WIB.

Ibu RI mengatakan, berdasarkan informasi dari teman-teman sekolahnya, terdapat seorang guru yang sering menciumi murid-murid di sekolah itu.

Asri baru mengetahui jika dugaan anaknya telah diperkosa dari seorang dokter yang telah merawatnya di rumah sakit. Saat itu sang dokter yang akan memasukkan obat anti-kejang ke dalam dubur melihat terlihat bekas luka di sekitar kemaluan RI.

"Dia bilang anak saya sudah hilang kesuciannya. Ada yang 'ngelakuin', sudah gitu katanya ada luka di dalam kemaluannya, mengalami bengkak juga," katanya.

Polisi kantongi indentitas terduga pemerkosa bocah RI

Misteri meninggalnya Rs (11), bocah kelas V SD yang diduga korban pemerkosaan mulai menunjukan titik terang. Kapolres Jakarta Timur Kombes Mulyadi Kaharni mengatakan pihaknya kini sudah mengantongi nama-nama yang diduga menjadi pelaku kekerasan seksual pada RI setelah memeriksa 16 orang saksi. "Saksi-saksi ini berasal dari lingkungan keluarga, bapak, ibu, kakak, kakak ipar termasuk tetangga. Dari jumlah itu mengerucut ke arah tersangka," ujarnya di Mapolres Jakarta Timur, Senin (7/1).
Lebih lanjut mantan Kapolres Depok ini mengatakan setidaknya ada 5 orang yang diduga kuat sebagai pelaku pemerkosaan. Ditambahkan Mulyadikelima nama itu berasal dari lingkungan yang dekat dengan RI.
"Orangnya masih di lingkup kampung situ saja," katanya.
Mulyadi mengatakan sampai saat ini polisi masih menunggu hasil visum dari RSUP Persahabatan dan otopsi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang hingga kini belum diterimanya. Hasil visum itu nanti akan membantu penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut pihak kepolisian.
"Disampaikan secara tegas hasil visum dan otopsi hanya utk kepentingan penyidikan. Tidak bisa konsumsi umum, mengapa ini terjadi. Apapun hasil visum dan otopsi akan menjadi pekerjaan kepolisian, karena meninggalnya tidak wajar," kata Mulyadi.
RI sendiri menghembuskan nafas terakhir Minggu (6/1) kemarin. Selain kemaluannya rusak diduga akibat pemerkosaan, bocah malang ini juga menderita radang otak.

Polisi Minta Sampel DNA R

JAKARTA - Kapolres Jakarta Timur Kombes Mulyadi Kaharni menuturkan, pihaknya sudah meminta Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, untuk mengambil DNA almarhumah R (11), bocah korban dugaan kekerasan seksual.
DNA nantinya dicocokkan dengan orang yang diduga menjadi pelaku tindak kekerasan seksual, terhadap bocah pasangan pemulung di kawasan Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, yang akhirnya meninggal pada Minggu (6/1/2013) kemarin.
"Itu gunanya untuk mengaitkan, bila mungkin ada mereka yang diduga. Ada sisa-sisa dari situ (tubuh korban), ya kami kaitkan," kata Mulyadi di Mapolres Jakarta Timur, Jalan Raya Matraman, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013) sore.
Mulyadi menjelaskan, beberapa bagian sampel tubuh vital korban diambil untuk tes DNA. Ia mengatakan, hasil visum dan otopsi masih belum diterima secara resmi oleh pihaknya.
Sebelumnya Mulyadi menjelaskan, pihaknya telah memeriksa 14 saksi yang terdiri dari orangtua, kakak, serta para tetangga korban.
Dari 14 saksi, polisi mengerucut pada beberapa nama yang diduga menjadi pelaku aksi kekerasan seksual pada bocah malang. Mulyadi menambahkan, selain DNA, pihaknya juga akan melakukan penyelidikan berdasarkan hasil visum serta otopsi dari pihak rumah sakit.
Namun, keduanya hingga kini belum resmi keluar, dan direncanakan keluar Selasa atau Rabu esok.
"Apapun hasil visum atau otopsi, akan menjadi pekerjaan pihak kepolisian. Karena, kan kami telah ketahui kalau (R) meninggalnya tak wajar," tuturnya. (*)

Bocah R Dikenal Pendiam di mata Teman Sekolah

JAKARTA - R (11), bocah korban dugaan pemerkosaan yang meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Minggu (6/1/2013) pagi tadi dikenal sebagai sosok pendiam di mata teman satu sekolahnya.
Tak hanya itu, sahabatnya sesama murid di kelas 5 SD, mengatakan, semula berat badan R terlihat gemuk, namun setelah sakit yang dia derita, R terlihat lebih kurus.
"Awalnya gendut tapi jadi kurus karena tifus. Dia (RI) nggak pernah cerita kalau sakit. Dia pendiem," ujar Ika Pratiwi (11), salah satu teman sekolah korban saat ditemui di rumah korban, di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Minggu (6/1/2013).
Ika menuturkan, dalam ujian semester pada Desember 2012 yang berlangsung selama satu pekan, R hanya mengikuti ujian satu hari selebihnya absen. "Pernah enggak masuk. Ulangannya cuma ikut sehari," ujar Ika.
Empat sahabat R, yaitu Rika Damayanti (11), Marina Esra (11), Ika Pratiwi (11) dan Ismi (11) hari ini melawat ke rumah duka.
Mereka hanya tahu R menderita tifus karena R selalu absen sekolah. Lebih lanjut, Marina hanya berharap R diterima di sisi Allah SWT.
Sebelumnya diberitakan, RI ialah putri bungsu dari enam bersaudara pasangan A (50) dan L (54).
Mereka tinggal di rumah petak kawasan kumuh di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur. R diduga menjadi korban tindak kekerasan seksual atas luka berat pada kemaluannya.
Namun sayang, belum sempat memberikan keterangan, ia menghembuskan nafas terakhir.

Di sekolah, bocah yang diduga korban perkosaan dikenal pendiam

RI bocah berusia 11 tahun, dugaan korban pemerkosaan dikenal teman-temannya sebagai sosok yang pendiam. Tak hanya itu, semula berat badan RI terlihat gemuk, namun setelah sakit yang dia derita RI terlihat kurus.

"Awalnya gendut tapi jadi kurus karena tifus. Dia (RI) nggak pernah cerita kalau sakit. Dia pendiem," ujar IP (11), salah satu teman sekolah korban saat ditemui di rumah korban, di kawasan Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (6/1).

IP juga mengatakan, saat ulangan semesteran pada Desember 2012 yang berlangsung selama satu pekan, RI hanya mengikuti sehari dan selebihnya absen. "Pernah enggak masuk. Ulangannya cuma ikut sehari," tutur IP santai.

Lantas saja, IP bersama ME, RD dan juga I yang merupakan teman sekolah RI kemudian menjenguk RI ke rumahnya. "Waktu jenguk ketemu mamanya terus bilangnya dia (RI) sakit tipes," ucap IP.

Namun, saat dijenguk IP dan kawan-kawan, RI tidak mengeluarkan sepatah kata pun. "Enggak ngomong sama sekali dia (RI) waktu dijenguk," imbuh IP.

Masih di tempat yang sama, ME (11) bercerita dirinya sempat mengobrol dengan RI saat perjalanan pulang dari sekolah. Ketika itu RI hanya berharap semoga nilai-nilai ulangannya bagus. "Ngobrol mudah-mudahan nilainya bagus," tutur ME.

Hingga saat ini, sejumlah pelayat secara bergantian mendatangi rumah RI yang terletak di Jalan Rawa Bebek, RT 2 RW 1, Kelurahan Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur. Rumah korban yang berukuran sekitar 4 x 5 meter tersebut di bagian atas depannya telah ditutupi terpal guna melindungi para pelayat dari terik matahari maupun jika hujan mengguyur.

Menurut pantauan merdeka.com, sekilas tampak di dalam rumah korban terdapat beberapa ibu-ibu yang sedang mengaji. Di depan kumpulan ibu-ibu tersebut terdapat sebuah ranjang terbuat dari kayu berukuran single. Kemungkinan ranjang tersebut dipersiapkan untuk RI disemayamkan setelah autopsi selesai dilakukan oleh pihak RSCM.

Siswa SD Diduga Korban Perkosaan Meninggal Dunia

JAKARTA - Nyawa RI, bocah berusia sebelas tahun yang diduga menjadi korban kekerasan seksual, tak mampu diselamatkan. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan (RSUPP), Rawamangun, Jakarta Timur, sekitar pukul 06.00 WIB.
"Betul, pada Minggu pagi tadi pukul 06.00 WIB, RI telah meninggal dunia di ICU (Intensive Care Unit) Rumah Sakit Persahabatan," ujar Permadi Romana, pengacara RI, Minggu pagi.
Permadi menjelaskan, kondisi RI memang sudah memburuk sejak semalam, pihak keluarga pun pasrah akan nasib RI yang sempat dirawat beberapa hari di ICU RS Persahabatan.
Sunari (30) kakak laki-laki R menuturkan bocah pasangan pemulung S (54) A (50) ini menderita Radang Otak (encephalitis) yang sudah terlanjur menjalar.
Seperti yang dikutip dari Wikipedia, terkadang encephalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies atau sifilis.
Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.
RI, adalah puteri bungsu dari enam bersaudara pasangan suami istri A (50) dan L (54). Mereka tinggal di lapak pemulung di Cakung, Jakarta Timur.
Kondisi bocah yang duduk di kelas 5 SD itu dua bulan terakhir menurun drastis hingga ia kejang dan mengalami penurunan suhu tubuh. Pada 29 Desember 2012 lalu, kondisi RI semakin menurun hingga akhirnya ia dibawa ke Intensive Care Unit (ICU) RSUPP.
Saat dokter melakukan penanganan penanganan pertama, ditemukan luka lama tak tertangani pada area kemaluan bocah malang tersebut.
"Pas anak saya masuk dan diperiksa, katanya ada yang melakuin. Anak ibu sudah enggak suci lagi, gitu katanya," ujar ibunda saat memberikan testimoni kepada sejumlah wartawan di RS Persahabatan, Kamis (3/1/2013) siang.

Komnas: Penyelidikan Pemerkosaan R Sulit karena Rumah Sakit Tertutup

JAKARTA - Ketua Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka sirait menuturkan, meninggalnya RI (11), bocah yang diduga mengalami kekerasan seksual dengan vagina rusak dan sempat delapan hari tak sadarkan diri, membuat penyelidikan menjadi lebih sulit. Seperti diketahui, RI meninggal pada Minggu (6/1/2013) pukul 06.00 WIB di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.
Meninggalnya gadis kecil itu, menurut Arist proses penyelidikan menjadi lebih sulit. Terlebih, pihak rumah sakit dinilai tidak terbuka. Ia juga menuturkan, pihaknya sangat menyayangkan ketertutupan pihak RSUP Persahabatan.
"Padahal, dengan UU Keterbukaan Informasi, konsumen, dalan hal ini keluarga RI, berhak tahu apa yang terjadi. Mereka pasti bisa menganalisa luka di vagina itu karena apa, sayangnya mereka tidak menjelaskan kondisi RI dengan jelas. Bahkan untuk mengetahui vagina korban rusak saja harus didesak beberapa kali," tegas Arist saat dihubungi wartawan, Minggu (6/1/2013).
Arist mengungkapkan media sebagai kontrol sosial pun, seharusnya berhak mendapatkan informasi tersebut.
Informasi awal itu kemudian bisa digali secara simultan agar kasus dugaan kekerasan seksual pada RI bisa segera diungkap.
"Sekarang sangat disayangkan RI sendiri telah wafat, tidak sempat dimintai keterangan. Alasan rumah sakit agak aneh, menjaga privasi pasien dan mnjalankan kode etik, padahal untuk kasus seperti ini, perlu disampaikan mengenai kondisi korban sebagai info awal," ujarnya.

Komnas Anak Curiga R Korban Pemerkosaan

Komnas Anak Curiga R Korban PemerkosaanLihat Foto
JAKARTA - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), Arist Merdeka Sirait mengatakan pihaknya curiga bocah berinisial R (11) yang kemaluannya terluka parah, adalah korban kekerasan seksual.
Dalam konferensi pers yang juga dihadiri Tribunnews.com di Rumah Sakit Umum Pusat, Persahabatan, Jakarta Timur, Kamis (03/03/2012), Arist mengatakan Komnas Anak akan mengawal keluarga korban untuk melaporkan dugaan tersebut ke Polres Metro Jakarta Timur.
"Kita akan laporkan ke Kepolisian, supaya Polisi punya bukti hukum bisa merekomendasikan visum, agar rumah sakit dapat melakukan pemeriksaan," jelasnya.
Asri (50), ibunda R dalam kesempatan yang sama mengatakan putrinya sejak sebulan terakhir kesehatannya menurun, hingga Sabtu lalu (29/12/2012) keluarga membawa bungsu dari 6 bersaudara itu ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, menurut Asri salah seorang dokter menginformasikan bahwa kemaluan R terluka cukup parah, dan diduga akibat kekerasan seksual.
"Waktu dibawa ke rumah sakit anak saya sudah tidak sadar, tidak bisa ngomong, saya juga tidak bisa menanyakan ke anak saya, apa benar dugaan itu," ujarnya.
Mengenai dugaan kekerasan seksual itu, Asri mengaku agak bingung. Ia mengingat putrinya selalu dalam pengawasan keluarga, dan tidak sekali pun anak itu mengeluhkan sakit di kemaluannya, maupun cerita mengenai perlakuan tidak senonoh dari orang lain.
"Saya juga tidak curiga ke siapa-siapa mengenai hal ini," kata Asri.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung itu mengaku teman-teman R sempat memberitahukannya bahwa wali kelas R, suka menciumi murid-murid perempuan.
"Tapi saya tidak tahu apa benar kekerasan seksual itu," terangnya.

Komnas PA minta bocah yang koma di RS Persahabatan divisum

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga RI (11) yang saat ini terbaring kritis di ruang ICU Rumah Sakit Umum Persahabatan mengalami kekerasan seksual. Arist pun telah membuat laporan kepolisian di Polres Jakarta Timur.
Agar dapat melakukan visum kepada RI.

"Saya mencurigai, anak (RI) ini mengalami kekerasan seksual. Kami sudah ke Polres Jakarta Timur, untuk rekomendasi dilakukan visum," ujarnya saat dihubungi, Jumat (4/1).

Menurut Arist, visum ini juga akan mencari siapa pelaku jika benar RI mendapat perlakuan kekerasan seksual. Dikatakan bisa saja penyakit yang dialami RI bukan karena pelecehan seksual.

"Kemarin saya lihat kondisinya, kemaluannya memang sudah dalam kondisi rusak berat, untuk itu kami akan lanjutkan ke proses kepolisian untuk divisum dulu, karena bisa saja disebabkan hal lain," jelasnya.

Sebelumnya RI (11), seorang bocah perempuan kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, terbaring koma di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, sejak Sabtu (29/12) lalu. Anak bungsu dari pasangan suami istri, S (50) dan Asri (54) ini di duga menjadi korban pemerkosaan. Ibu korban mengatakan, berdasarkan informasi dari teman-teman sekolahnya, terdapat seorang guru yang sering menciumi murid-murid di sekolah itu.

"Teman-temannya cerita ada guru yang suka ciumin anak," jelas Asri saat ditemui di Griya Puspa RSUP Persahabatan.

Komnas Anak Bentuk Tim Investigasi Pemerkosaan RI

Jakarta - Komisi Nasional Perlindungan Anak telah membentuk tim investigator untuk menyelidiki adanya dugaan pemerkosaan terhadap siswa SD Negeri 22 Petang, Pulogebang berinisial RI, 11 tahun. Menurut Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, tim ini bertugas menginvestigasi langsung lingkungan tempat tinggal dan sekolah RI.
"Mulai kemarin kami telah turunkan tim investigator untuk mengetahui kebenaran dugaan pemerkosaan terhadap korban," kata Arist kepada Tempo, Sabtu, 5 Januari 2013. Tim, kata Arist, juga akan mengunjungi teman-teman RI untuk menanyakan kebenaran adanya guru yang suka mencium siswa.
Sebelumnya, Arist menduga RI mengalami kekerasan seksual. "Saya mencurigai anak (RI) ini mengalami kekerasan seksual," kata Arist.
Kamis sore, 3 Januari, Komnas PA mendampingi keluarga RI untuk membuat laporan dan memberikan keterangan ke Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, agar dapat melakukan visum kepada RI. "Unit PPA dari Polres Jakarta Timur sudah menindaklanjuti dengan mendatangi korban dan meminta keterangan dari pihak RS Persahabatan," kata Arist.
RI, yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 5, saat ini masih terbaring koma di ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. RI menderita luka di bagian vagina, yang diduga akibat mengalami kekerasan seksual. RI terbaring koma sejak 29 Desember 2012 dan hingga kini belum sadar.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Persahabatan, dr Tri Hesty Widyastuti, menambahkan, saat ini RI dalam keadaan sakit berat dan dipakaikan alat bantu pernapasan. "Panas masih tinggi, tapi kejang sudah tidak ada lagi, dan korban masih kritis (koma)," kata Tri.
Sementara, dokter spesialis Anak, dr Emma Nuhaema, mengatakan RI juga mengalami infeksi atau radang otak. Namun, ia belum bisa memastikan apakah infeksi otak disebabkan kejang atau infeksi di vaginanya.
"Kami sudah lakukan pemeriksaan CT scan dan ternyata ada infeksi otak, karena kejang atau bisa dicurigai mungkin dari luka (di kemaluannya) itu," ujarnya, dalam konferensi pers di RSUP Persahabatan, Jumat, 4 Januari 2013.

Meski RI Meninggal, Komnas Anak Tetap Menyelidik

 


Jakarta - Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan tetap akan melanjutkan kasus RI, 11 tahun. Siswi kelas V SDN 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga diperkosa dan menjalani perawatan selama seminggu di RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, itu, tadi pagi meninggal.
"Kami akan tetap mengawal penyelidikan hukum atas kasusnya," ujar Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait kepada Tempo, Ahad, 6 Januari 2013. Ia percaya RI trauma berat karena mengalami tindak kekerasan seksual.
Informasi terakhir diterima Arist, jenazah almarhumah akan dibawa oleh keluarganya ke rumah mereka di sekitar Pulo Gebang. "Rencananya dimakamkan di dekat rumah," ujar Arist. Saat ini jenazah masih berada di RSUP Persahabatan.
Ketua Komite Medik Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan M. Iqbal memberi kabar meninggalnya RI pagi tadi. "Kondisinya terus menurun, pukul 06.00 tadi nyawanya tidak dapat terselamatkan," katanya.
Namun, Iqbal belum bisa memastikan penyebab kematian RI. "Detailnya saya belum tahu, tapi memang kondisinya terus menurun." Saat ini, kata Iqbal, RI masih berada di RSUP Persahabatan, sementara keluarganya sedang mengurus proses pemakaman RI.

Selasa, 08 Januari 2013

Siswi SD yang Diduga Diperkosa, Meninggal

Jakarta - RI, 11 tahun, siswi kelas V SDN 22 Petang, Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga diperkosa, mengembuskan napas terakhirnya di ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, Ahad, 6 Januari 2013, pukul 06.00. RI sempat koma dan menjalani perawatan sejak 29 Desember 2012. Ketua Komite Medik Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, M. Iqbal, mengatakan, selama dirawat di ruang ICU dan dibantu dengan alat bantu pernapasan, kondisi RI semakin menurun. "Karena kondisinya terus menurun, pukul 06.00 tadi nyawanya tidak dapat terselamatkan dan meninggal," kata Iqbal kepada Tempo, Ahad, 6 Januari 2013.
Namun, Iqbal belum bisa memastikan penyebab meninggalnya RI. "Detailnya saya belum tahu, tapi memang kondisinya terus menurun." Saat ini, kata Iqbal, RI masih berada di RSUP Persahabatan dan keluarga sedang mengurus untuk proses pemakaman RI.
Sebelumnya, Iqbal mengatakan, harapan hidup RI di bawah 50 persen. "Perkiraan hidupnya kecil, di bawah 50 persen, dan pasien juga mengalami radang otak," kata Iqbal di RSUP Persahabatan, Jumat, 4 Januari.
Dokter spesialis anak, dr Emma Nuhaema, mengatakan, RI juga mengalami infeksi atau radang otak. Namun, ia belum bisa memastikan apakah infeksi otak disebabkan oleh kejang atau infeksi di vaginanya. "Kami sudah lakukan pemeriksaan CT scan, dan ternyata ada infeksi otak karena kejang atau bisa dicurigai mungkin dari luka (di kemaluannya) itu," ujarnya.

Ada Guru Laki-laki yang Suka Menciumi Gadis R

JAKARTA - Dugaan kekerasan seksual yang mengakibatkan luka yang mengeluarkan benda semacam belatung di kemaluan gadis berinisial R (11) sempat membuat pihak keluarga bingung. Tidak ada gelagat, anak pemulung ini pernah mengalaminya. Asri, ibunda R saat ditemui Tribunnews.com di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan tempat R dirawat menuturkan hal yang senada dengan menantunya. Putri bungsunya tidak pernah menunjukan hal yang aneh, maupun menghilang dalam kurun waktu tertentu.
"Makannya saya sama tetangga-tetangga tidak curiga," ucapnya kepada Tribunnews.com.
Namun demikian teman-teman sebaya R yang tinggal di kawasan padat penduduk di bilangan Cakung, Jakarta Timur sempat memberitahu dirinya, kalau seorang guru laki-laki yang merupakan wali kelas anaknya itu suka menciumi siswi-siwinya, termasuk R salah satunya.
"Katanya suka nyiumi anak-anak murid, di kelas, sama waktu jam istirahat," cerita Asri lagi.
Hingga kini R tak sadarkan diri di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. R lemas karena rasa sakit akibat luka parah di kemaluannya.

Ada Belatung di Kemaluan Gadis Berumur 11 Tahun

JAKARTA - Seorang gadis berinisial R (11) terbaring lemah tak sadarkan diri di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, sejak Sabtu lalu (29/12/2012. Bahkan kini ia harus mengandalkan hidupnya pada alat bantu pernafasan.
Kemaluan bocah itu juga masih merah membengkak, walau pun dokter sudah membersihkan nanah dan segala macam luka yang hingga kini penyebabnya belum diketahui.
Asri (50), ibunda R saat ditemui Tribunnews.com di Rumah Sakit, Kamis (3/1/2013) mengatakan, bahwa kesehatan putrinya sudah menurun sejak sekitar sebulan lalu. Siswa kelas V SD itu tiba-tiba kejang-kejang, dan suhu tubuhnya juga tinggi hingga 40 derajat.
Asri yang berprofesi sebagai pemulung itu mengatakan putrinya kemudian dibawa ke Puskesmas. Oleh dokter R didiagnosa mengalami permasalahan pada Getah Bening. Setelah menjalani perawatan kondisi kesehatan R kembali menurun, gadis itu kembali kejang-kejang.
Keluarga kembali membawa R ke dokter, kali ini anak itu dibawa ke dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak itu didiagnosa menderita gejala Tifus. Dokter juga sempat menuliskan resep obat untuk R agar kesehatannya membaik.
"Di dokter spesialis saya dikenai biaya Rp 270 ribu, uang itu saya dapat dari pinjam tetangga dan saudara," ujarnya.
Selama kondisi kesehatannya menurun, Asri memasangkan popok bayi ke putrinya. R juga semakin jarang berbicara, dan berat badannya menurun drastis karena kondisi kesehatannya itu.
"Sikapnya juga berubah setelah mulai sakit, kalau sekolah maunya diantar, kalau tidak diantar dia nangis-nangis," terang Asri.
Sabtu lalu kondisi R semakin parah, panas tubuhnya naik, kejang-kejang dan kehilangan kesadaran. Anak itu kembali dibawa ke dokter, kali ini R dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat, Persahabatan.
Salah seorang tetangga Asri yang bernama Sumarni (43), juga ikut mengantar anak perempuan itu. Ditemui Tribunnews.com di kediaman R, ia bahkan mengaku ikut mengawal R sampai Unit Gawat Darurat (IGD). Di ruangan tersebut dokter menanggalkan celana gadis itu, dan melesakan obat untuk menangani kejang-kejang di dalam dubur R.
"Waktu celanannya dibuka saya lihat kemaluannya bengkak warnanya merah, saya juga lihat ada seperti belatung kecil, saya nggak tahu apa itu," terangnya.
Ibu rumah tangga itu mengaku kaget menyaksikan hal itu. Pasalnya yang ia tahu selama ini putri tetangganya itu hanya menderita kejang-kejang dan panas tubuh yang tinggi, tak sekali pun ia berfikir ada sesuatu yang bermasalah di kemaluan R.

Polda Belum Simpulkan Gadis Berusia 11 Tahun Korban Perkosaan


JAKARTA - Polda Metro Jaya sejauh ini belum bisa menyimpulkan apakah memang, R gadis berusia 11 tahun yang saat ini tergolek lemah di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jaktim diduga merupakan korban kekerasan seksual. "Anggota kepolisian sudah datang menemui orang tua gadis itu. Dan dari hasil tanya jawab dengan orang tua, anggota belum menemukan jika gadis itu memang menjadi korban kekerasan seksual. Karena orang tuanya sendiri tidak tahu kenapa anaknya sakit," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Jumat (4/1/2013) di Mapolda Metro Jaya.
Kemudian kalaupun meminta keterangan dari R, sampai saat ini R masih tergolek lemah dan mendapatkan perawatan di ICU RS Persahabatan. Sehingga keterangan dari R sendiri baru bisa didapat jika R sudah sehat dan pulih.
Lebih lanjut Rikwanto mengatakan dari pihak kedokteran secara etik juga dokter belum menyimpulkan karena perlu penyembuhan terlebih dahulu, sehingga perlu perawatan.
"R sendiri masih dirawat di ICU, kita masih tunggu dia sembuh.
Secara etik dokter belum mnyimpulkan karena perlu penyembuhan," kata Rikwanto.
Rikwanto menambahkan sambil menunggu perawatan R, anggota kepolisian akan mencari tahu dan ikut membantu menyelidiki kasus ini. Namun yang harus dipastikan terlebih dulu yakni apa penyakit yang sebenarnya di derita gadis kelas lima SD tersebut.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, seorang gadis berinisial R (11) terbaring lemah tak sadarkan diri di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, sejak Sabtu lalu (29/12/2012. Bahkan kini ia harus mengandalkan hidupnya pada alat bantu pernafasan.
Kemaluan bocah itu juga masih merah membengkak, walau pun dokter sudah membersihkan nanah dan segala macam luka yang hingga kini penyebabnya belum diketahui.
Asri (50), ibunda R saat ditemui Tribunnews.com di Rumah Sakit, Kamis (3/1/2013) mengatakan, bahwa kesehatan putrinya sudah menurun sejak sekitar sebulan lalu. Siswa kelas V SD itu tiba-tiba kejang-kejang, dan suhu tubuhnya juga tinggi hingga 40 derajat.
Asri yang berprofesi sebagai pemulung itu mengatakan putrinya kemudian dibawa ke Puskesmas. Oleh dokter R didiagnosa mengalami permasalahan pada Getah Bening. Setelah menjalani perawatan kondisi kesehatan R kembali menurun, gadis itu kembali kejang-kejang.
Keluarga kembali membawa R ke dokter, kali ini anak itu dibawa ke dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak itu didiagnosa menderita gejala Tifus.
Dokter juga sempat menuliskan resep obat untuk R agar kesehatannya membaik.
"Di dokter spesialis saya dikenai biaya Rp 270 ribu, uang itu saya dapat dari pinjam tetangga dan saudara," ujarnya.
Selama kondisi kesehatannya menurun, Asri memasangkan popok bayi ke putrinya. R juga semakin jarang berbicara, dan berat badannya menurun drastis karena kondisi kesehatannya itu.
"Sikapnya juga berubah setelah mulai sakit, kalau sekolah maunya diantar, kalau tidak diantar dia nangis-nangis," terang Asri.
Sabtu lalu kondisi R semakin parah, panas tubuhnya naik, kejang-kejang dan kehilangan kesadaran. Anak itu kembali dibawa ke dokter, kali ini R dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat, Persahabatan.
Salah seorang tetangga Asri yang bernama Sumarni (43), juga ikut mengantar anak perempuan itu. Ditemui Tribunnews.com di kediaman R, ia bahkan mengaku ikut mengawal R sampai Unit Gawat Darurat (IGD). Di ruangan tersebut dokter menanggalkan celana gadis itu, dan melesakan obat untuk menangani kejang-kejang di dalam dubur R.
"Waktu celanannya dibuka saya lihat kemaluannya bengkak warnanya merah, saya juga lihat ada seperti belatung kecil, saya nggak tahu apa itu," terangnya.
Ibu rumah tangga itu mengaku kaget menyaksikan hal itu. Pasalnya yang ia tahu selama ini putri tetangganya itu hanya menderita kejang-kejang dan panas tubuh yang tinggi, tak sekali pun ia berfikir ada sesuatu yang bermasalah di kemaluan R.

Diagnosa Gadis Korban Perkosaan Dinilai Lamban


Jakarta: M. Ihsan, Ketua Satgas Perlindungan Anak menyayangkan lambatnya diagnosa penyebab sakit RI, gadis koma yang diduga korban pemerkosaan. "Sangat disayangkan pihak puskesmas dan dokter tidak bisa mendeteksi penyakit dan sumbernya sehingga nyawa korban terancam karena ada inveksi di kemaluan," katanya, Jumat, 4 Januari 2012.

Lebih dari tiga bulan, sumber penyakit RI tidak diketahui. Kini kondisi organ vital gadis malang itu bengkak dan bernanah. "Keterlambatan mengetahui penyebab ini membuat kepolisian kesulitan untuk mengungkap pelaku," ujar Ihsan lagi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto menuturkan, tiga bulan lalu, korban mengeluh sakit pada bagian ketiak. Kemudian, orang tuanya membawa dia ke puskesmas Harapan Baru, Bekasi. "Diduga sakit kelenjar getah bening." Namun, sebulan berikutnya dia mengeluh sakit lagi. "Dibawa ke dokter Wawan di daerah Harapan Baru, dan dinyatakan sakit lambung."

Karena tak kunjung sembuh, RI dibawa ke dokter lagi untuk ketiga kalinya. "Yang ketiga karena belum kunjung sembuh, dibawa ke dokter spesialis dan dinyatakan sakit typus." Akhirnya pada 29 Desember, korban tidak sadarkan diri dan dibawa ke RS Persahabatan, Jakarta Timur. Dia dirawat di ruang ICU, Cempaka lantai dua hingga saat ini.

Satgas Perlindungan Anak meminta RS Persahabatan membebaskan seluruh biaya pengobatan bocah kelas 5 SD itu. Meski sulit, Satgas meminta kepada kepolisian untuk menggali informasi dari saksi-saksi dan bukti yang bisa digunakan untuk penyidikan.

Sebab, Ihsan menyebut, pemerkosaan merupakan tindakan pidana berat yang harus ditindak seberat-beratnya. Satgas juga meminta kepada Kemensos untuk melakukan pendampingan terhadap korban. "Kemensos memberikan bantuan darurat agar korban dan keluarga pemulung dapat membiayai transport dan kebutuhan selama pengobatan."

Terakhir, dia menyatakan, Satgas berkomitmen untuk terus mengawasi proses penanganan kasus ini. "Kasus ini menjadi pelajaran bagi orang tua dan masyarakat agar segera melaporkan jika ada anak yang dicurigai korban perkosaan atau pencabulan sebelum anak menjadi korban untuk kesekian kalinya."

Jokowi Dituntut Minta Maaf atas Kematian RI


Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia menuding Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bersalah dalam kasus meninggalnya RI, 11 tahun, siswi SDN 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga korban perkosaan. "Gubernur harus sampaikan maaf dan kunjungi keluarga korban," ujar Ketua Satgas Perlindungan Anak KPAI, M Ihsan, Ahad, 6 Januari 2013.
Alasannya, Jokowi dianggap membiarkan lambannya penanganan kesehatan dan ketidakmampuan pelayanan kesehatan dari tingkat puskesmas yang mendeteksi masalah medis RI sejak dini. "Inilah yang berujung maut," ujar Ihsan.
Menurut Ihsan, RI sudah mengeluh sakit sejak tiga bulan lalu. "Keluhannya sakit kelenjar getah bening, tapi tak kunjung sembuh," ujarnya. Keluarga tak berani untuk membawa RI ke tenaga medis yang lebih ahli dengan alasan ekonomi. Namun di sisi lain, pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas tak memadai.
"Ini membuktikan bahwa puskesmas tidak mampu memberikan pelayanan yang optimal," ujarnya. Setelah RI tak sadarkan diri, barulah keluarga berani membawa RI ke RS Persahabatan. Ia sempat divonis berbagai macam penyakit seperti sakit lambung dan thypus.
Saat dirawat di RS Persahabatan, keluarga menemukan fakta bahwa ada dugaan terjadi kekerasan seksual pada RI. "Ada pembengkakan di kelamin yang terinfeksi serta mengeluarkan belatung," ujarnya.
Akhirnya, setelah berjuang melawan penyakitnya selama satu minggu, RI meninggal dunia tadi pagi di RS Persahabatan. Sekarang jenazahnya tengah diotopsi di RS Cipto Mangunkusumo. Atas dugaan kekerasan seksual itu, Ihsan meminta agar kasus ini diusut tuntas.

Taman Hutan Sinjai Jadi Tempat Mesum Muda Mudi

 Taman Hutan Sinjai Jadi Tempat Mesum Muda Mudi 
Taman Hutan Sinjai Jadi Tempat Mesum Muda Mudi

SINJAI -- Taman Hutan Rakyat Sinjai di Kampung Ma'rrang, Desa Batubulerang, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai kerap dijadikan sebagai tempat mesum muda-mudi.
Bayangkan, pada 2012, empat pasangan di luar nikah kepergok oleh warga sedang melakukan hubungan layaknya suami dan istri. Satu di antara pasangan terpaksa dinikahkan.
"Sudah ada empat di sini ditemukan pasangan mesum dari muda-mudi kalau mereka pergi rekreasi," kata Atong, warga setempat, Jumat (4/1/2013).
Warga berharap perbuatan demikian tak dilakukan lagi sebab merusak tatanan budaya warga setempat. Sebagian besar dari mereka adalah bukan warga setempat dan berasal dari kabupaten tetangga.

Senin, 07 Januari 2013

Mencoreng Nama Kampus, Dikeluarkan Tidak Hormat

Sintang – Bartolo Meus Daling, 21, dan Paulus Herman, 20, yang merenggut keperawanan Bunga (nama samaran), 16, siswi kelas tiga salah satu SMPN di Kota Sintang, dikeluarkan secara tidak hormat dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kapuas Raya Sintang.
Kedua mahasiswa itu dianggap mencoreng nama baik kampusnya. Ketua STIKes Kapuas Raya Sintang Urai B Asnol mengakui dua mahasiswanya mencabuli Bunga. Keduanya mahasiswa aktif di lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
“Mereka memang mahasiswa saya yang bertempat tinggal di luar asrama. Mereka sudah diberikan pendidikan etika dan moral dalam bermasyarakat. Tapi apa yang sudah diberikan, tidak masuk dalam pikiran mereka,” kesal Asnol.
Dikatakan Asnol, adanya informasi terkait perbuatan tercela yang dilakukan mahasiswanya tersebut, jajaran akademik STIKes menggelar rapat darurat mempertimbangkan status kemahasiswaan keduanya. “Kemarin kita sudah menggelar rapat darurat, membentuk tim investigasi terhadap informasi tersebut,” ucapnya.
Asnol menuturkan, terkait dengan hasil investigasi yang dilakukan tim mengatakan informasi pencabulan yang dilakukan Bartolo dan Paulus benar dan keduanya terbukti bersalah. “Hasil investigasi dari tim kami di lapangan, kedua mahasiswa tersebut benar telah melakukan perbuatan tercela,” ucapnya.
Berdasarkan Pedoman Akademik STIKes Kapuas Raya, putusan sidang bersama seluruh pimpinan akademik memutuskan kedua mahasiswa tersebut dikeluarkan dari STIKes secara tidak hormat.
Rektor Universitas Kapuas (Unka) Sintang Drs Petrus Atong MSi mengaku kecewa atas ulah Higinus Arkadius, 20, mahasiswanya yang terlibat kasus pencabulan terhadap Bunga. Dia menilai perlakuan Higinus sangat bejat dan mempermalukan almamater Unka.
“Saya tidak akan memberikan sanksi tegas. Dengan diproses hukum dan tidak masuk kuliah, secara otomatis keluar dengan sendirinya,” ungkap Petrus. (din)

Dua Kali Bercinta, Oknum Satpam Dibui

Pontianak – Sedang asyik indehoi, Rb, 30, kepergok orang tua Bunga (nama samaran), 13. Perbuatan asusila itu dilakukan sepasang kekasih ini di kamar Bunga kediaman orang tuanya di Kecamatan Pontianak Tenggara pada Desember tahun lalu, namun baru dilaporkan ke polisi, Jumat (4/1).
Tak terima anaknya ditiduri, orang tua Bunga melapor ke Mapolresta Pontianak hari itu juga. Warga Sungai Kakap Kubu Raya yang bekerja sebagai satpam ini berurusan dengan polisi. Apalagi gadis yang ditidurinya itu masih bawah umur.
Pertama kali Rb meniduri Bunga pada 16 Desember 2012 lalu. Saat itu Rb belum lama pacaran sama Bunga. Pasangan kekasih ini berhubungan badan pada pukul 17.00. Saat itu orang tua Bunga sedang istirahat di kamarnya. Sedangkan anak gadisnya indehoi bersama pacarnya di kamarnya. Tabiat Rb dan Bunga saat itu tidak diketahui orang tuanya.
Merasa keasyikan berhubungan intim layaknya suami istri, Bunga kembali memanggil Rb dan mengajaknya indehoi pada 27 Desember 2012 lalu. Tentulah ajakan tersebut tak ditolak Rb. Dia bergegas mendatangi kediaman Bunga untuk mengulangi perbuatan mesum pada pukul 22.30. Malam itu orang tua Bunga melintas di depan kamar anaknya yang terbuka. Melihat ke arah kamar, Rb tidak mengenakan baju dan anak gadisnya masih terkapar di ranjangnya.
Tidak terima atas apa yang dilakukan Rb terhadap anak gadisnya, orang tua Bunga membawa Rb dan Bunga ke Polresta Pontianak, Jumat (4/1). Setelah Bunga divisum, oknum satpam ini pun ditahan di Polresta Pontianak.
Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol Puji Prayitno SIk membenarkan kejadian pencabulan yang dilakukan oknum satpam terhadap pacarnya sendiri yang masih di bawah umur.
“Satpam ini kita tetapkan sebagai tersangka pencabulan terhadap anak di bawah umur. Oknum satpam ini telah melanggar Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 81 dan 82, ancaman hukumannya 12 tahun penjara,” tegas Puji. (sul)