Ucapan

SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!

Jumat, 05 Desember 2014

Siang-Siang, Guru dan Murid SMP Ini Tertangkap ML di Mobil


Siang-Siang, Guru dan Murid SMP Ini Tertangkap ML di Mobil
Kompas.com
Ilustrasi 
FLORIDA - Si Guru Ganteng yang Eric Beasley terpaksa berurusan dengan polisi setelah tertangkap basah dengan kondisi setengah bugil berduaan dengan siswa perempuan yang baru berusia 14 tahun.
Mereka pun mengaku sudah berhubungan intim dengan sang siswi cantik tersebut beberapa kali dan mengiriminya foto nakal.
Seperti dilansir Daily Mail, guru biologi berusia 25 tahun di Zion Lutheran Christian School Deerfield Beach, Florida , Amerika Serikat (AS) terancam hukuman 20 tahun penjara federal.
Ia mengaku bersalah dalam sidang yang berlangsung pada Senin, pekan ini, terhadap dakwaan federal dengan tuduhan menggoda sang siswi berhubungan seks dengannya dan menyatakan diri bersalah atas tuduhan kekerasan seksual.
Dilaporkan Beasley sebenarnya sudah memiliki pacar saat itu, ditangkap pihak kepolisian pada 1 April lalu setelah polisi merespon laporan mengenai sebuah mobil di belakang mal dan ternyata sang guru berduaan dengan gadis belia.
Beasley kemudian panik dan memakai pakaian seadanya sementara si remaja dalam keadaan telanjang dari bawah hingga pinggang. Mereka berhubungan intim di kendaraan saat masih siang dan jendela hanya ditutupi oleh pakaian seadanya.
Gadis ini awalnya mengaku berusia 19 tahun dan keduanya mengaku sudah dewasa dan bertemu di dunia maya. Namun akhirnya si remaja ini membuat pengakuan jika ia adalah pelajar SMP di kelas biologi di sekolah yang biaya per tahun mencapai 11.000 USD atau sekitar Rp 135 juta.
Beasley akhirnya mengakui perbuatan tak terpujinya di hadapan pihak berwenang dan mengatakan sudah berhubungan intim dengan siswi itu sejak Valentine’s Day.

Rabu, 03 Desember 2014

Wah, Kasus Kekerasan Seksual Naik 700 Persen


Wah, Kasus Kekerasan Seksual Naik 700 Persen
ISTIMEWA
Ilustrasi

PONTIANAK - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar, Hary Sudwijanto, menuturkan berdasarkan data Polda dan Polres jajaran terjadi peningkatan kasus kekerasan seksual. Kekerasan seksual ini terbagi dua antara lain kasus pencabulan dan persetubuhan.
Kepada tribunpontianak.co.id, Selasa (2/12/2014), Hary mengatakan, data periode 2013 kasus persetubuhan yang dibawa ke ranah kepolisian kata Hary ada sebanyak 51 kasus. Semuanya sudah terselesaikan berkasnya. Namun, angka ini naik 2 kali lipat pada periode 2014.
"Pada 2014, data terakhir sudah mencapai 116 kasus. Ada peningkatan yang sangat signifikan dalam kasus ini. Kasus persetubuhan ini adalah kasus yang melibatkan hubungan fisik yang kemudian bisa mengakibatkan kehamilan,"kata Hary.
Sementara kasus pencabulan kata Hari juga sangat memprihatinkan, periode 2013 hanya terdapat pelaporan sebanyak 9 kasus. Lima di antaranya terjadi di Sambas. Namun jelang berakhirnya semester genap 2014, kasus ini telah mencapai sebanyak 75 kasus. Pencabulan kaitannya dengan tindak kekerasan seperti sodomi, pelecehan seksual dan lainnya.

4 Kakek Cabuli Gadis Ingusan Bergantian


4 Kakek Cabuli  Gadis Ingusan Bergantian
surya/Rahadian Bagus
Empat Lelaki Paro Baya Perkosa Siswi Kelas VI SD

PASURUAN - Entah apa yang ada dibenak empat kakek-kakek ini, hingga tega mencabuli seorang bocah perempuan sebut saja Bunga, asal Kecamatan Gempol yang masi berusia 11 tahun.
Pelajar yang duduk di bangku kelas VI SD ini, disetubuhi empat kakek yang masih tetangganya dari bulan September hingga November 2014.
Keempat pelaku tersebut yakni, Mulyono (69), Syukur (73), Miskan (65) dan Ridwan (60). Ketiga pria itu merupakan warga Gempol Joyo, Desag Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Aksi cabul ini terkuak saat seorang pelaku, Syukur (73), bercerita kepada bibi korban berinisial UK bahwa keponakannya telah diperkosa.
Syukur menceritakan, bahwa Ridwan, Miskan dan Mulyono telah memperkosa korban di rumahnya.
Tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Syukur. Bibi korban, kemudian memanggil korban untuk menanyakan kebenaran informasi yang ia dengar. Ternyata, korban mengakui bila ia telah diperkosa.
Tidak hanya itu, Syukur yang awalnya bercerita kepada bibi korban, ternyata juga menjadi pelaku pemerkosaan.
Bibi korban yang mendengar pengakuan dari keponakannya, kemudian melaporkan ke Polsek Gempol.
Dari laporan bibi korban, empat pelaku kemudian dibekuk petugas Reskrim Polsek Gempol di rumahnya masing-masing, Selasa (2/12/2014), pagi.
"Bibi korban yang marah, kemudian melapor ke Polsek Gempol," kata  Kapolsek Gempol Kompol Slamet Riyadi.
Saat diperiksa pelaku mengaku tergiur dengan kemolekan tubuh korban.
Pasalnya, meski berusia 11 tahun, namun memiliki postur tubuh yang besar.
Masih dari pengakuan pelaku kepada penyidik, untuk merayu korban, mereka memberikan iming-iming atau imbalan uang Rp 5000 - Rp 20.000.
"Korban dibujuk dengan diberikan imbalan yang Rp 5 ribu - Rp 20.000," terangnya.
Saat ini, keempat pelaku masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Gempol. Sementara itu, korban dibawa ke unita Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pasuruan.

Tiga Pemuda di Gresik Ini Perkosa Tetangganya di Tengah Sawah

Tiga Pemuda di Gresik Ini Perkosa Tetangganya di Tengah Sawah
Ist
Ilustrasi perkosaan. 

GRESIK – Tiga orang diduga memperkosa tetatangga sendiri SA (17), warga Desa Wates Tanjung, Kecamatan Wringinanom, Gresik. Dua pelaku ditangkap polisi dan seorang lainnya berhasil kabur.
Ketiga pelaku adalah Ahmad Habib (28), Ahmad Nurdin (24), dan Yenu Susanto (31), kini kabur. Ketiganya warga Dusun Wates, Desa Wates Tanjung, Kecamatan Wringinanom, Gresik.
Aksi bejat pelaku berawal saat SA sedang memadu kasih dengan pacaran Wahyu (17) di tepi sawah Desa setempat.
Saat asyik bercumbu di atas motor tepergok ketiga pelaku. Mereka mengancam korban dibawa ke Balai Desa.
Korban yang takut lantas menuruti permintaan ketiga pelaku.
SA dan Wahyu dipisahkan sejauh 20 meter. Wahyu diikat tersendiri sedang SA dibawa ke tengah sawah kemudian digilir tiga pelaku Habib, Nurdin, dan Susanto.
Selesai melampiaskan nafsu bejatnya ketiganya langsung kabur. Selain itu HP korban SA dan uang Wahyu juga diembat ketiga pelaku.
Setelah peristiwa itu kedua korban langsung melaporkan ke Polsek Wringinanom.
Atas laporan itu polisi berhasil membekuk pelaku di rumahnya. “Dua orang sudah ditangkap yaitu Habib dan Nurdin. Sedangkan Susanto buron,” kata Kasatreskrim Polres Gresik Ayub Diponegoro Azhar, Selasa (2/12/2014).
Kedua tersangka dijerat Pasal 81 dan 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara.

Selasa, 02 Desember 2014

Bocah Temajuk Dihamili Ayah Tiri

Bocah Temajuk Dihamili Ayah Tiri
Ilustrasi

SAMBAS - Lagi-lagi peristiwa cabul terjadi di Kabupaten Sambas. Kali ini seorang bapak tiri sebagai pelakunya, BN (34) dengan korban yang saat ini hamil tiga bulan di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.
Kasat Reskrim Polres Sambas, AKP Eko Mardianto SIK mengatakan, BN saat ini akhirnya harus mendekam dibalik jeruji besi lantaran tega menghamili putri tirinya, PT yang masih berumur 14 tahun. "Tersangka ditangkap aparat kepolisian 26 November setelah dilaporkan istrinya," katanya kepada Tribunpontianak.co.id, Selasa (2/12/2014).
HL, ibu kandung PT itu melaporkan perbuatan suaminya ke Polsek Paloh lantaran tak tahan setelah mengetahui perbuatan bejat  suaminya tersebut.
Kasat menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Juli 2014 lalu saat korban menyapu di rumahnya di Desa Temajuk. Bapak tirinya kemudian merangkul dari belakang dan kemudian korban digiring pelaku ke kamar. "Setelah itu korban dicabuli oleh tersangka."ujarnya.
Bahkan menurut pengakuan tersangka sendiri, peristiwa bejat itu dilakukannya sebanyak 5 kali sehingga korban saat ini hamil 3 bulan.
Atas perbuatannya saat ini, BN dikenakan pasal  81 dan 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. 

Dua Siswi Ini Disuruh Mabuk, Disekap dan Dilecehkan

Dua Siswi Ini Disuruh Mabuk, Disekap dan Dilecehkan
Ilustrasi

JAKARTA -  Akibat salah bergaul, dua pelajar menjadi korban penyekapan sekaligus pelecehan seksual oleh enam orang pemuda pengangguran. Pelajaran berat itulah yang dirasakan RA (14) dan N (14), siswi SMP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Pengalaman pahit tersebut diungkapkan oleh Y, ibunda RA, dan AB selaku paman N. Terungkap, saat para keluarga korban mengetahui dua remaja itu tidak kunjung pulang usai pulang sekolah selama dua hari, terhitung sejak Sabtu (29/11/2014).
Berdasarkan kesaksian keduanya, AB mengatakan, penyekapan yang dialami keponakannya tersebut bermula saat salah seorang pelaku bernama Ari mengirimkan pesan singkat kepada AR. AR mengajak bertemu dan berkumpul dengan lima orang teman pelaku usai pulang sekolah.
"RA bertemu Ari dari SMS (pesan singkat) yang ngajak untuk bertemu. SMS itupun SMS nyasar, karena pelakunya bukan siswa di sekolah," jelas AB, warga Kebagusan Kecil, kepada Warta Kota,usai menjalani pemeriksaan di PPA Polres Jakarta Selatan, Senin (1/12/2014).
Karena tidak ingin sendirian, RA mengiyakan janji pertemuan itu. Dia mengajak N, teman sekelas RA di sekolah. Keduanya kemudian pergi ke rumah kos di wilayah Ciganjur, Jagakarsa, tepat di belakang Kompleks Damkar sekitar pukul 14.00 WIB.
Kamar kosan yang diketahui berada di pedalaman dengan kondisi kumuh dan gelap itu ternyata sudah menunggu lima orang pelaku lainnya, termasuk seorang pelaku lainnya bernama Ricky yang tengah memulai pesta miras. RA dan N pun diperintahkan untuk meminum minuman keras yang sudah disediakan dalam sebuah jeriken.
Usai mabuk, keduanya diperlakukan secara seronok dan dilecehkan secara beramai-ramai oleh para pelaku yang diketahui bernama Ipul, Eman, Ricky, Kinoy, Gareng dan Ari. Keduanya disekap para pelaku dalam kamar. Mereka diancam akan disiksa apabila berteriak dan menghubungi keluarga.

Selain tidak diperbolehkan meninggalkan kosan, kedua gadis belia itu pun tidak diberikan makan dan tidak diperbolehkan mandi. Keduanya disekap dan dikunci dari luar saat keenam pelaku pergi meninggalkan kosan.
Beruntung, N berhasil melarikan diri melalui pintu belakang kosan. N yang kelelahan, katanya, segera mendatangi sebuah warung internet (warnet) untuk mencoba menuliskan pesan dalam status pribadi akun Facebook miliknya. Hal tersebut bertujuan agar pihak keluarga yang menyadari kepergian keduanya dapat mengetahui keberadaan mereka.
"Kita udah stres. Sudah cari ke mana-mana. Dari sekolah sampai ke jalan-jalan raya. Kebetulan N update status. Dari situ saya coba comments di Facebook-nya sampai akhirnya kasih tahu posisinya lagi di wilayah Mangga Besar, Pasar Minggu. Itupun karena saya minta supaya dia nanya alamat sama orang sekitar," tambahnya.
Usai mendapatkan informasi, pihak keluarga pun segera meluncur ke lokasi dan menggeruduk kamar kosan yang diketahui masih terdapat RA. Lantaran heboh pengerebekan, sejumlah warga pun berkerumun di rumah kosan, hingga akhirnya disadari salah seorang pelaku hadir dalam aksi penggerebekan.
"Saat digerebek, ternyata ada salah satu pelaku yang ikut nonton, yang diketahui bernama Ipul. Nah korban, kemudian menunjuk Ipul. Dari dialah kemudian kita sisir pelaku lainnya," jelas Y, ibu RA.
Berdasarkan keterangan Ipul, pihak keluarga pun berhasil menangkap dua orang pelaku lainnya yakni, Eman dan Ricky. Sementara tiga orang pelaku lainnya, yakni Kinoy, Gareng dan Ari diketahui sudah melarikan diri.
Sementara itu, Kasubnit PPA Polres Jakarta Selatan, Ipda Nunu, mengatakan pihaknya baru saja mendapatkan laporan terkait kasus dugaan penyekapan dan pelecehan seksual tersebut. Dia pun segera meminta agar pihak keluarga memeriksakan dan membuat visum mengenai kondisi kedua korban ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati.
"Laporan sudah kami terima, kami sudah mintakan kepada orangtua masing-masing untuk membuat visum. sedangkan, terkait pengejaran pelaku masih kami telusuri, tiga orang pelaku yang sudah tertangkap sudah ditahan dan akan dimintai keterangan," jelasnya.

Janji Beri Beasiswa, Pria Ini Cabuli Siswi Kelas Tiga SMP

Janji Beri Beasiswa, Pria Ini Cabuli Siswi Kelas Tiga SMP
Tribunnews.com
Ilustrasi 

JATINEGARA - Polisi menangkap Suryadi alias Joko (54), warga Bekasi Timur, karena diduga telah mencabuli HN (15), seorang siswi kelas 3 SMP. Modusnya, ia mengaku sebagai pegawai BKN kepada korban dan mengiming-imingi akan memberikan beasiswa.
Joko mengaku, saat itu ia sedang pergi ke Parung, Bogor untuk bertemu temannya. Rencananya kedatangan Joko itu untuk meminjam uang senilai Rp 1 juta rupiah, untuk modal berdagang sayuran.
"Uangnya udah saya dapat. Lalu pas saya nunggu angkot di pinggir jalan, saya ketemu dengan siswi SMP," kata Joko ditemui di Mapolres Jakarta Timur, Kamis (6/11/2014).
Lalu, lanjutnya, ia melancarkan aksinya bermula dengan menghampiri korban. Saat itu, ia mengaku sebagai pegawai BKN.
Dengan bermodalkan KTA dan kemeja bertuliskan BKN.
"Saya ngobrol-ngobrol dengan siswi SMP itu. Lalu saya bilang kalau saya bisa kasih beasiswa, saya bujuk terus sampai akhirnya dia mau," katanya yang mengaku pernah bekerja sebagai staf di BKN selama 10 tahun.
Korban pun diajak Joko untuk mengambil beasiswa di kantor BKN Cawang. HN pun terpedaya dan menuruti Joko. Dengan menaiki angkot, berangkat dari Parung ke Cawang bersama korban.
"Saya sampai sore, langsung saya ajak ke lantai enam. Di situ saya bujuk, sampai akhirnya cabuli. Tapi dia teriak-teriak dan tahu-tahu ada satpam yang masuk pergoki saya," kata Joko.
 
Impoten
Joko sendiri mengaku melakukan aksinya tersebut karena telah lama berpisah dengan sang istri.
Pasalnya ia mengidap impoten.

"Saya terangsang melihat tubuh siswi SMP itu, makanya saya perdaya biar mau sama saya. Soalnya saya sudah ditinggalin istri karena impoten," kata Joko.

Dari tangan pelaku, polisi menemukan uang palsu pecahan Rp 50.000 senilai Rp 1 juta.

Kanit PPA Polres Jakarta Timur, AKP Endang Sri Lestari, mengatakan, polisi masih menangani kasus tersebut. "Kami masih lakukan pemeriksaan kepada pelaku," kata AKP Endang.

Laporkan Pencabulan, 9 Siswi SMP Malah Terancam DO

Laporkan Pencabulan, 9 Siswi SMP Malah Terancam DO
Kompas.com
Ilustrasi 

PASURUAN - Gara-gara melaporkan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan Ketua Komite Sekolah kepada polisi, sembilan siswa asal salah satu SMP Negeri di Kota Pasuruan justru mendapat ancaman "drop out" dari sekolahnya.
Padahal, laporan kepada kepolisian itu dilakukan demi mendapatkan perlindungan setelah mereka merasa mendapatkan perlakuan tidak pantas usai mengukuti hipnoterapi. "Kami melaporkan hal itu (dugaan pencabulan) agar tidak terulang lagi pada siswa yang mengikuti hipnoterapi," ujar SY, salah satu wali murid yang menjadi korban pencabulan, Kamis (20/11/2014).
SY menjelaskan, anaknya mendapatkan ancaman dari sekolah pascapelaporan lima siswi pada Selasa (18/11/2014) lalu, di Polres Pasuruan Kota. Laporan itu terkait dugaan tindak asusila oleh Ketua Komite Sekolah berinisial BH. BH dikabarkan pula sebagai anggota polisi aktif.
"Kasian anak saya dan delapan siswa lainnya, mereka diancam oleh oknum guru akan dikeluarkan jika laporan itu tidak terbukti," tambah SY.
Laporan yang masuk di Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satuan Reskrim Polres Pasuruan Kota, dugaan pelecehan dialami oleh DCF, RDD, BI, KO, SA, NE, FA, DK dan RE. "Hingga saat ini masih terus digali keterangan dari semua saksi. Kalau memang ada yang melibatkan anggota, nanti diserahkan pada institusi yang diatasnya," kata Kompol Saswito, Waka Polres Pasuruan Kota.
Di tempat terpisah, Suhariyanto, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pasuruan mengungkapkan, rencananya hari ini polisi akan melakukan konfirmasi terkait semua permasalahan. Termasuk memanggil kepala sekolah maupun guru yang bertanggungjawab atas pengawasan terkait kegiatan hipnoterapi. "Ya nanti semua hasil dari klarifikasi kita sampaikan hasilnya. Sedangkan terkait ancaman DO yang jelas itu bukan solusi yang tepat," ujar Suhariyanto.

Salah Pergaulan, Dua gadis SMP Disekap Enam Pemuda

Salah Pergaulan, Dua gadis SMP Disekap Enam Pemuda
Kompas.com
Ilustrasi 

KEBAYORANBARU-Pelajaran berat terpaksa harus dirasakan RA (14) dan N (14), siswi SMP Islam YPS Lenteng Agung saat ini. Akibat salah bergaul, kedua sahabat itu menjadi korban penyekapan sekaligus pelecehan seksual oleh enam orang pemuda pengangguran.

Pengalaman pahit tersebut diungkapkan oleh Yani selaku ibunda RA dan Abu Bakar selaku paman N terungkap, saat para keluarga korban mengetahui dua remaja itu tidak kunjung pulang usai pulang sekolah selama dua hari, terhitung sejak Sabtu (29/11). 

Berdasarkan kesaksian keduanya, Abu Bakar mengatakan kalau penyekapan yang dialami keponakannya tersebut bermula saat salah seorang pelaku bernama Ari mengirimkan pesan singkat kepada AR untuk mengajak bertemui dan berkumpul dengan lima orang teman pelaku usai pulang sekolah.

Karena tidak ingin sendirian, RA yang mengiyakan janji pertemuan itu pun mengajak N, teman sekelas RA di sekolah. Keduanya pun kemudian pergi ke sebuah rumah kos di wilayah Ciganjur, Jagakarsa, tepatnya belakang Komplek Damkar sekira pukul 14.00 WIB.

Kamar kosan yang diketahui berada di pedalaman dengan kondisi kumuh dan gelap itu ternyata sudah menunggu lima orang pelaku lainnya, termasuk seorang pelaku lainnya bernama Ricky yang tengah memulai pesta miras. RA dan N pun diperintahkan untuk meminum minuman keras yang sudah disediakan dalam sebuah jerigen.

Usia mabuk, keduanya pun diperlakukan secara seronok dan dilecehkan secara beramai-ramai oleh para pelaku yang diketahui bernama Ipul, Eman, Ricky, Kinoy, Gareng dan Ari. Korban pun disekap para pelaku dalam kamar, keduanya pun diancam akan disiksa apabila berteriak dan menghubungi keluarga.

"RA bertemu Ari dari SMS (pesan singkat-red) yang ngajak untuk bertemu. SMS itupun-SMS nyasar, karena pelakunya bukan siswa di sekolah," jelas Abu Bakar, warga Kebagusan Kecil, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan ditemui Warta Kota usai menjalani pemeriksaan di PPA Polres Jakarta Selatan, Senin (1/12/2014).

Selain tidak diperbolehkan meninggalkan kosan, kedua gadis belia itu pun tidak diberikan makan dan tidak diperbolehkan mandi. Keduanya disekap dan dikunci dari luar saat keenam pelaku pergi meninggalkan kosan.

Namun beruntung, N pun berhasil melarikan diri melalui pintu belakang kosan. N yang kelelahan katanya segera mendatangi sebuah warung internet (warnet) untuk mencoba menuliskan pesan dalam status pribadi akun facebook miliknya. Hal tersebut bertujuan agar pihak keluarga yang menyadari kepergian keduanya dapat mengetahui keberadaan mereka.

"Kita udah stres bang. Sudah cari kemana-mana. Dari sekolah sampai ke jalan-jalan raya. Kebetulan N update status. Dari situ saya coba comments di facebook nya sampai akhirnya kasih tahu posisinya lagi di wilayah Mangga Besar, Pasar Minggu. Itupun karena saya minta supaya dia nanya alamat sama orang sekitar," tambahnya.

Usai mendapatkan informasi, pihak keluarga pun segera meluncur ke lokasi dan menggeruduk kamar kosan yang diketahui masih terdapat RA. Lantaran heboh pengerebekan, sejumlah warga pun bergerumul di rumah kosan, hingga akhirnya disadari salah seorang pelaku hadir dalam aksi penggerebekan.

"Saat digerebek, ternyata ada salah satu pelaku yang ikut nonton, yang diketahui bernama Ipul. Nah korban, kemudian menujuk Ipul. Dari dialah, kemudian kita sisir pelaku lainnya," jelas Yani, ibu RA.

Berdasarkan keterangan Ipul, pihak keluarga pun berhasil menangkap dua orang pelaku lainnya yakni, Eman dan Ricky. Sementara tiga orang pelaku lainnya, yakni Kinoy, Gareng dan Ari diketahui sudah melarikan diri.

Sementara itu, Kasubnit PPA Polres Jakarta Selatan, Ipda Nunu mengatakan kalau pihaknnya baru saja mendapatkan laporan terkait kasus dugaan penyekapan dan pelecehan seksual tersebut. Dirinya pun segera meminta agar pihak keluarga memeriksakan dan membuat visum mengenai kondisi kedua korban ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati. 

"Laporan sudah kami terima, kami sudah mintakan kepada orangtua masing-masing untuk membuat visum. sedangkan, terkait pengejaran pelaku masih kami telusuri, tiga orang pelaku yang sudah tertangkap sudah ditahan dan akan dimintai keterangan," jelasnya

Dua Siswi SMP Disekap dan Dilecehkan Enam Pemuda

Dua Siswi SMP Disekap dan Dilecehkan Enam Pemuda
Ilustrasi

JAKARTA - Pelajaran berat dirasakan RA (14) dan N (14), siswi SMP di Lenteng Agung saat ini. Akibat salah bergaul, kedua sahabat itu menjadi korban penyekapan sekaligus pelecehan seksual oleh enam orang pemuda pengangguran.
Pengalaman pahit tersebut diungkapkan oleh Yani selaku ibunda RA dan Abu Bakar selaku paman N. Terungkap, saat para keluarga korban mengetahui dua remaja itu tidak kunjung pulang usai pulang sekolah selama dua hari, terhitung sejak Sabtu (29/11/2014).
Berdasarkan kesaksian keduanya, Abu Bakar mengatakan penyekapan yang dialami keponakannya tersebut bermula saat salah seorang pelaku bernama Ari mengirimkan pesan singkat kepada AR untuk mengajak bertemu dan berkumpul dengan lima orang teman pelaku usai pulang sekolah.
Karena tidak ingin sendirian, RA yang mengiyakan janji pertemuan itu pun mengajak N, teman sekelas RA di sekolah. Keduanya pun kemudian pergi ke sebuah rumah kos di wilayah Ciganjur, Jagakarsa, tepatnya belakang Komplek Damkar sekira pukul 14.00 WIB.
Kamar kosan yang diketahui berada di pedalaman dengan kondisi kumuh dan gelap itu ternyata sudah menunggu lima orang pelaku lainnya, termasuk seorang pelaku lainnya bernama Ricky yang tengah memulai pesta miras. RA dan N pun diperintahkan untuk meminum minuman keras yang sudah disediakan dalam sebuah jeriken.
Usai mabuk, keduanya pun diperlakukan secara seronok dan dilecehkan secara beramai-ramai oleh para pelaku yang diketahui bernama Ipul, Eman, Ricky, Kinoy, Gareng dan Ari. Korban pun disekap para pelaku dalam kamar, keduanya pun diancam akan disiksa apabila berteriak dan menghubungi keluarga.
"RA bertemu Ari dari SMS (pesan singkat) yang ngajak untuk bertemu. SMS itupun-SMS nyasar, karena pelakunya bukan siswa di sekolah," jelas Abu Bakar, warga Kebagusan Kecil, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan ditemui Warta Kota usai menjalani pemeriksaan di PPA Polres Jakarta Selatan, Senin (1/12/2014).
Selain tidak diperbolehkan meninggalkan kosan, kedua gadis belia itu pun tidak diberikan makan dan tidak diperbolehkan mandi. Keduanya disekap dan dikunci dari luar saat keenam pelaku pergi meninggalkan kosan.
Namun beruntung, N pun berhasil melarikan diri melalui pintu belakang kosan. N yang kelelahan katanya segera mendatangi sebuah warung internet (warnet) untuk mencoba menuliskan pesan dalam status pribadi akun facebook miliknya. Hal tersebut bertujuan agar pihak keluarga yang menyadari kepergian keduanya dapat mengetahui keberadaan mereka.
"Kita udah stres. Sudah cari kemana-mana. Dari sekolah sampai ke jalan-jalan raya. Kebetulan N update status. Dari situ saya coba comments di facebook nya sampai akhirnya kasih tahu posisinya lagi di wilayah Mangga Besar, Pasar Minggu. Itupun karena saya minta supaya dia nanya alamat sama orang sekitar," tambahnya.
Usai mendapatkan informasi, pihak keluarga pun segera meluncur ke lokasi dan menggeruduk kamar kosan yang diketahui masih terdapat RA. Lantaran heboh pengerebekan, sejumlah warga pun berkerumun di rumah kosan, hingga akhirnya disadari salah seorang pelaku hadir dalam aksi penggerebekan.
"Saat digerebek, ternyata ada salah satu pelaku yang ikut nonton, yang diketahui bernama Ipul. Nah korban, kemudian menunjuk Ipul. Dari dialah, kemudian kita sisir pelaku lainnya," jelas Yani, ibu RA.
Berdasarkan keterangan Ipul, pihak keluarga pun berhasil menangkap dua orang pelaku lainnya yakni, Eman dan Ricky. Sementara tiga orang pelaku lainnya, yakni Kinoy, Gareng dan Ari diketahui sudah melarikan diri.
Sementara itu, Kasubnit PPA Polres Jakarta Selatan, Ipda Nunu mengatakan pihaknya baru saja mendapatkan laporan terkait kasus dugaan penyekapan dan pelecehan seksual tersebut. Dia pun segera meminta agar pihak keluarga memeriksakan dan membuat visum mengenai kondisi kedua korban ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati.
"Laporan sudah kami terima, kami sudah mintakan kepada orangtua masing-masing untuk membuat visum. sedangkan, terkait pengejaran pelaku masih kami telusuri, tiga orang pelaku yang sudah tertangkap sudah ditahan dan akan dimintai keterangan," jelasnya.

Sabtu, 29 November 2014

Bocah Riau Diperkosa di Kebun Sawit



Ilustrasi


Aparat Kepolisian Resor Kampar, Provinsi Riau, menyelidiki kasus dugaan pencabulan terhadap J, warga Kecamatan Bakun Seberang, oleh pelaku A, yang tinggal di sekitar perkampungan korban.
"Kasus ini dilaporkan oleh ayah korban. Pelaku sudah berulang kali melakukan tindakan pencabulan terhadap korban," kata Kepala Bidang Humas Polda Riau Ajun Komisaris Besar Polisi Guntur Aryo Tejo kepada pers lewat pesan elektronik yang diterima di Pekanbaru, Kamis (13/11).
Terakhir, kata dia, A mencabuli J pada Selasa (11/11) sore di kawasan perkebunan kelapa sawit yang berada di sekitar perkampungan keduanya.
Kronologi kejadian terakhir itu menurut korban di kepolisian, berawal ketika korban hendak pergi ke rumah saudaranya yang berada di Desa Sei Lembu Makmur, Kecamatan Bakun Seberang, menggunakan kendaraan roda dua.
Namun di tengah perjalanan, korban mengaku diikuti oleh pelaku hingga akhirnya kehabisan bensin.
"Saat itulah kemudian pelaku mencoba pura-pura menolong korban dengan memberikan bensin. Setelah itu pelaku kemudian memaksa korban untuk masuk ke kawasan perkebunan hingga kemudian terjadi hubungan suami-isteri," katanya.
Korban kemudian pulang ke rumah dan melaporkan kejadian itu kepada pihak keluarga yang kemudian tidak terima dan melaporkannya ke pihak kepolisian setempat.
"Kasusnya masih dalam penyelidikan. Korban dan pelapor sudah dimintai keterangannya sementara pelaku diamankan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," katanya.
Kasus pencabulan anak di bawah umur menurut catatan kepolisian cukup marak terjadi di sejumlah wilayah kabupaten/kota di Riau. Pelakunya kebanyakan merupakan orang-orang terdekat atau mengenal korban.
Kepolisian mengimbau untuk para orang tua senantiasa mengawasi anak-anaknya saat barada di lingkungan pergaulan karena kasus serupa bisa saja terjadi.

Janjikan HP Baru, Buruh Nodai Siswi SD Dua Kali


 8790    66

ILustrasi korban pelecehan seksual anak


Kepolisian Resor (Polres) Madiun Kota, Jawa Timur menahan seorang buruh serabutan berinisial PS (42) karena diduga telah menodai anak di bawah umur, siswi kelas VI berusia 12 tahun dengan inisial GGR. Pelaku diduga mengiming-imingi korban akan membelikan telepon genggam dalam melakukan aksinya.
"Semua bukti-bukti mengarah ke PS. Kemudian, pelaku berhasil ditangkap polisi di rumahnya," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Madiun Kota AKP Wasno, di Madiun, Senin (17/11).
Menurut dia, penangkapan tersangka berdasarkan laporan orang tua korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku. Dalam laporannya, ibu korban mengaku jika anak perempuannya tersebut telah disetubuhi oleh tersangka.
Dari keterangan korban dan sejumlah saksi, tersangka sudah melakukan perbuatan melanggar hukum tersebut sebanyak dua kali. Setiap melakukannya, tersangka membujuk akan membelikan telepon genggam untuk korban.
"Tersangka menjanjikan akan membelikan HP dan helm baru ke korbannya. Selain itu, setiap akan melakukan aksinya, tersangka juga mengancam memukul jika korban berteriak," kata Wasno.
Hingga saat ini tersangka masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Saat diperiksa, tersangka mengingkari semua perbuatannya. Dalam kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya, baju korban serta celana dalam milik korban dan pelaku.

Mahasisswi Yogya diperkosa Usai Jenguk Ibu Kekasihnya

57861    639

Ilustrasi Perkosaan


Satuan Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polres Sleman, Yogyakarta masih memproses kasus pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi (DK) salah satu universitas swasta di Yogyakarta.
Pelaku (AW) juga kekasih korban melakukan perbuatan tak senonoh di sebuah sofa di ruang tamu rumah orang tuanya.
Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Alaal Prasetyo menjelaskan, peristiwa bermula pada  Senin (17/11) sekitar pukul 11.00 WIB, saat korban datang ke rumah pelaku di Margoagung, Seyegan, Sleman, untuk menengok ibu pelaku yang tengah sakit.
Setelah menjenguk ibu pelaku di kamar, kemudian korban duduk di sofa ruang tamu bersama pelaku yang duduknya agak berjauhan.
"Pelaku mendekati korban dan menarik kedua kaki korban sehingga posisi korban menjadi rebahan di sofa dan pelaku memaksa berhubungan layaknya suami istri," jelas Alaal kepada wartawan, Rabu (18/11).
Menurut Alaal,  saat itu korban sempat berontak dan menendang pelaku.
“Namun pelaku langsung menindih badan korban kemudian dengan paksa melepas celana korban selanjutnya pelaku langsung menyetubuhinya,” jelas Alaal.
Marah dan kecewa dengan peristiwa tersebut, Lanjut Alaal, korban kemudian menghubungi temannya dan memberitahukan keadaanya via sms.
“Teman korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Seyegan dan bersama-sama datang ke TKP," jelasnya,
Alaal juga menuturkan, pihaknya saat ini masih melakukan pemeriksaan intesif kepada pelaku dan menunggu hasil visum dari rumah sakit.
“Saat ini tersangka masih kami periksa, korban juga divisum. Hal ini sebagai proses pembuktian adanya dugaan pemerkosaan. Dalam laporannya korban memang mengaku diperkosa,” pungkas Alaal.

Mantan dan 12 Temannya Bergiliran Perkosa Siswi SMP di Kosan Semalaman

59751    1801

Ilustrasi korban perkosaan massal


Siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Serang menerima perlakuan bejat dari mantan pacarnya dan teman-temannya. Korban diperkosa secara bergiliran oleh mantan pacarnya dan 12 orang lainnya di sebuah kos-kosan.
Kepolisian Resor (Polres) Serang bergerak cepat mengusut kasus asusila ini dengan meringkus para pelaku. Sayangnya, belum semua tersangka berhasil ditangkap. "Sudah kita amankan sembilan siswa dari tempat berbeda," kata Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Arrizal Samelino, Jumat (21/11).
Peristiwa bejat ini berawal ketika korban diajak mantan pacar menyaksikan pembukaan Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) yang menampilkan artis Ibu Kota Jakarta. Bukannya langsung dibawa melihat pembukaan Porprov di stadion Maulana Yusuf, pelaku malah membawa korban ke salah satu kontrak milik temannya, dengan alasan hendak berangkat bersama-sama.
Korban yang terbujuk akhirnya menyetujui. Begitu tiba di lokasi, ternyata sudah ada belasan teman mantan sang pacar dan langsung menyekap siswi SMP itu. Korban pun dipaksa melayani nafsu bejat sang mantan bersama rekan-rekannya semalaman hingga pagi.
Pagi harinya, pelaku mengantar korban ke rumah pamannya. Awalnya mawar merasa takut untuk bercerita karena masih trauma. Setelah terkumpul keberaniannya, siswi SMP itu segera menceritakan kejadian naas yang menimpanya dan bersama keluarga melapor ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Serang. "Gantian ramean sama teman-teman mantan, nggak bisa berani teriak sayanya," ungkap korban saat ditemui di Polres.
Kasat Reskrim Polres Serang menjelaskan saat ini baru berhasil menangkap mantan pacar dan delapan pelaku lainnya. Adapun, identitas empat pelaku lainnya sudah diketahui dan masih dalam pengejaran, meskipun posisi keberadaan mereka sudah berhasil dipetakan oleh polisi. "(Para tersangka) saat ini masih dalam tahap pemeriksaan di unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) secara bergantian," tandas Arrizal.

Saya tak Sempat Menyetubuhinya

Saya tak Sempat Menyetubuhinya
Kompas.com/ Ericssen
Ilustrasi pencabulan. 

LUBUKLINGGAU - Bermodalkan janji untuk dinikahi, Hulil Ajis (34) warga Kelurahan Kayu Ara Kecamatan Lubuklinggau Barat I, nekat mencabuli seorang gadis berinisial AR (15) yang tak lain tetangganya sendiri.
Peristiwa bejat yang dialami AR, terjadi seminggu lalu hingga akhirnya dilaporkan oleh orangtua korban dan diringkus anggota Polsek Lubuklinggau Barat, Selasa (25/11) sekira pukul 09.00 WIB.
Awal perkenalan pria yang memiliki usaha kerupuk tersebut. Dirinya beralasan mencabuli korban karena tergiur dengan bentuk tubuhnya, bahkan korban yang juga sebagai anak buah ditempat usahanya dan sudah bekerja selama satu tahun.
"Pertama kali aku pandangin dia waktu sedang bungkusin kerupuk, aku kedipin mata kearahnya, ternyata dia merespon hingga aku berani mengajak dia jalan-jalan untuk lebih dekat lagi, dan setelah diajak jalan aku kasih uang Rp 100 ribu," terangnya
Setelah berhasil diajak jalan, selanjutnya niat pelaku untuk mencabuli korban terbesit. Bermodalkan sepeda motor, Hulil langsung menjemput AR dikediamannya dan tanpa diketahui oleh orang tua korban. Tak ayal, korban pun langsung dibawa ke sebuah hotel dibilangan Pasar Pemiri
"Pas masuk ke hotel, korban langsung saya cium dan dicabuli, sumpah belum sempat saya setubuhi," ceritanya di hadapan penyidik.

Orang Tua Kelakuan Kayak Gitu, Anak Kecil Dicabulin, Dirajam Aja


Orang Tua Kelakuan Kayak Gitu, Anak Kecil Dicabulin, Dirajam Aja
Shutterstock
Ilustrasi korban pencabulan. 

JAKARTA - Yuli (36), orangtua korban pencabulan tukang ojek WKN (50), mengatakan, pelaku mengajak para korbannya menonton film porno terlebih dahulu sebelum melaksanakan aksinya.
"Jadi para korban yang jumlahnya 9 orang ini disuruh masuk ke dalam rumah kontrakan pelaku. Kemudian disuruh nonton film porno beramai-ramai. Kata anak saya, dia berdua nonton bersama temannya, enggak sendirian, kemudian gantian digilir sama pelaku," ungkap Yuli yang berprofesi sebagai pekerja rumah tangga tersebut kepada wartawan, Kamis (27/11/2014).
Setelah diajak menonton film porno, kemudian anaknya serta satu temannya diajak masuk ke dalam kamar pelaku. Di dalam kamar itulah pelaku melampiaskan nafsunya kepada anak-anak kecil.
"Habis nonton dibawa ke kamar kemudian dicabuli. Katanya mereka diancam jangan bilang siapa-siapa oleh pelaku. Baru terungkap setelah PI lapor ke orangtuanya. Setelah itu baru anak-anak yang lain cerita," ungkap Yuli.
Yuli mengaku tak habis pikir dengan kelakuan tersangka yang notabene merupakan warga yang sudah dituakan di lokasi tersebut. Padahal pelaku sudah dipanggil Pakde oleh para warga dan anak-anak sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
"Orangtua kok kelakuannya kayak gitu, enggak habis pikir saya sama dia. Masa anak kecil dicabulin sama diperkosa. Kalau bisa ditangkap, kemudian dirajam aja, jangan kasih ampun," ujar perempuan yang suaminya bekerja sebagai supir bajaj tersebut.
Yuli mengakui tak tahu menahu, bagaimana sampai pelaku bisa melakukan perbuatan asusila kepada anak-anak di lingkungan sekitarnya. Pasalnya, lingkungannya cukup ramai dan anaknya tak pernah lepas dari pengawasannya.
"Saya kerja kan cuma jarak dua meter saja. Jadi masih bisa ngawasin anak saya. Makanya saya enggak tahu gimana pelaku melakukan aksinya," ujar ibu dari LY (7).
Sementara Yatno (34) ayah dari PI (8) mengatakan, sudah dua minggu ini anaknya selalu main hingga pukul 23.00. Kalau ditanya, PI selalu bilang baru main dari rumah temannya.
"Jadi sudah dua minggu anak saya pulang larut malam. Saya cari di tempat dia biasa main tak pernah ketemu. Tahu-tahu jam 23.00 sudah pulang ada di depan rumah. Kemudian saya tambah curiga, setiap kencing anak pertama saya itu selalu sakit," kata Yatno.
Setelah ditanyai baru diketahui bahwa anaknya sudah menjadi korban pencabulan. Kemudian dirinya langsung melabrak pelaku bersama warga yang sudah gusar.
"Kami marahi pelaku, kemudian banyak yang minta supaya langsung diusir dari kampung sini. Itu mulai terungkapnya pas tadi malam, malam tadi juga pelaku langsung diusir," kata Yatno.
WKN (50) seorang tukang ojek mencabuli anak-anak perempuan di bawah umur di kontrakannya Jalan Karya Barat I RT 08 RW 03, Daan Mogot, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Total sudah ada 9 korban yang mengaku kepada orang tuanya.
Parahnya, WKN ini merupakan warga yang dituakan di wilayah tersebut karena sudah tinggal selama 30 tahun di wilayah tersebut. Lebih parah, rata-rata korbannya merupakan tetangga yang berada dalam satu lingkungan kontrakan.

Arafik Enam Kali Cabuli Adik Ipar

Arafik Enam Kali Cabuli Adik Ipar
MR saat diamankan di Polres OKU

BATURAJA - Arafik Efendi (24) warga Talang Sawah Dusun V Desa Banuayu Kecamatan Lubuk Batang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) harus berurusan dengan polisi, Selasa (25/11). Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, karena diduga mencabuli adik iparnya sendiri yang masih berumur 10 tahun dengan cara memasukkan jari tangannya ke dalam kemaluan korban.
Dari Informasi yang berhasil diterima Tribun Sumsel, pencabulan tersebut bahkan terjadi hingga enam kali. Hal itu dilakukan, saat istrinya tidur disamping sang korban. Kejahatan korban akhirnya diketahui oleh MR (58)yang merupakan tidak lain merupakan mertuanya, karena korban enggan sekolah selama tujuh hari berturut-turut.
"Dia ini, (korban.red) memang tinggal di rumah kakak perempuannya, (istri pelaku). Sekolahnya dekat dengan kakak iparnya. Saat pulang anak saya minta pulang kerumah tidak mau lagi tinggal di rumah kakaknya," cerita MR.
MR menambahkan, setelah satu minggu tidak sekolah akhirnya MR memaksa korban untuk berbicara. Seketika ia terkejut,setelah mendengar ungkapan anaknya, jika korban sudah dicabuli oleh pelaku.
"Seminggu tidak mau sekolah akhirnya ku paksa anakku untuk ngomong. Saat itulah dia mengaku jika sudah dicabuli kakak iparnya," jelasnya.
Kapolres OKU AKBP Mulyadi SIk MH membenarkan adanya penyerahan pelaku pencabulan anak dibawah umur.
"Kita menerima satu orang tersangka pencabulan dari keluarganya sendiri yang juga korban dari kejahatan pelaku. Saat ini pelaku sedang dalam penanganan bagian reskrim untuk dilakukan proses pembuatan berita acara pemeriksaan (BAP)," kata Kapolres atas perbuatannya pelaku diancam pasal 82 undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

KD Dicabuli Miko di Kamar Kos

KD Dicabuli Miko di Kamar Kos
IST
Ilustrasi

INDRALAYA - Lantaran mengaku khilaf, Miko Sukron (18) warga Desa Mandi Angin Kecamatan Indralaya Selatan Kabupaten Ogan Ilir (OI), yang kesehariannya tercatat sebagai mahasiswa ini, harus mendekam di jeruji besi tahanan Mapolsek Indralaya. Ia dicokok petugas setelah Polsek Indralaya menerima laporan dari orang tua korban KD(18) mahasiswi yang berdomisili Indralaya yang melaporkan atas tindak asusila percobaan pemerkosaan, Jumat (28/11) terhadap anaknya yang terjadi di rumah kos milik teman Miko di kelurahan Timbangan Indralaya.
Informasi yang berhasil dihimpun dari pihak Kepolisian menyebutkan, perbuatan yang tidak menyenangkan itu bermula usai pelaku mengikuti ujian semester di Fakuktas Peternakan di salah satu Universitas yang ada di Indralaya, Jumat (28/11) pukul 11.00 siang. Karena, jarak yang cukup jauh dari fakultas, korban KD meminta dibonceng Miko lantaran tujuan mereka searah hendak ke Timbangan.
Namun, sebelum naik bus ke Palembang terlebih dahulu dirinya mampir ke kosan temannya di Timbangan Kecamatan Inderalaya untuk mengambil pakaian.
Usai mengambil tas yang berisi pakaian, tiba-tiba pukul 11.30 pelaku masuk ke ruang tengah kosan tersebut saat itu ia langsung mengunci kamar. Tanpa alasan yang jelas pelaku langsung memeluk korban dari belakang, membekap mulut, hingga mencium pipi kanan korban. Akibat aksi tak senonoh tersebut korban langsung berteriak minta tolong hingga akhirnya tetangga kosan lainnya berhamburan keluar dan menolong korban.
Bersama orangtuanya korban langsung melaporkan perbuatan yang tak menyenangkan itu ke Polsek Indralaya.
“Saya hanya khilaf pak. Karena, keseringan menonton video porno,” ujar Miko, Jumat (28/11).
Kapolres OI AKBP Asep JS melalui Kapolsek Indralaya Iptu Robi Sugara membenarkan pihaknya telah mengamankan seorang pelaku yang tindak kejahatan asusila percobaan pemerkosaan.
“Pihaknya akan melakukan penyelidikkan atas kasus tersebut. Seperti memeriksa beberapa orang saksi beserta korban,” ujar Kapolsek Indralaya.

Jumat, 28 November 2014

Tukang Ojek Cabuli Sembilan Perempuan di Bawah Umur

Tukang Ojek Cabuli Sembilan Perempuan di Bawah Umur
solopos.com
Ilustrasi 

TANJUNG DUREN - Wakizan (50) seorang tukang ojek mencabuli anak-anak perempuan di bawah umur di kontrakannya Jalan Karya Barat I RT 08 RW 03, Daan Mogot, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Total sudah ada 9 korban yang mengaku kepada orang tuanya.
Parahnya, Wakizan ini merupakan warga yang dituakan di wilayah tersebut karena sudah tinggal selama 30 tahun di wilayah tersebut. Lebih parah, rata-rata korbannya merupakan tetangga yang berada dalam satu lingkungan kontrakan.
Menurut Yatno (34) orang tua korban berinisial PI (8) kejadian tersebut terungkap setelah anaknya mengaku kepada orangtuanya bahwa kelaminnya sakit. Saat itu juga orang tuanya langsung memeriksa ke Puskesmas terdekat.
"Jadi sehabis diperiksa di Puskesmas anak saya baru cerita kalau kelaminnya di colok-colok sama Wakizan. Sontak saya kaget dong langsung tanya lebih dalam ke anak saya benar atau enggak kejadian tersebut," ungkap Citra kepada wartawan di lokasi, Kamis (27/11/2014).
Untuk membuktikan lebih dalam kejadian tersebut, Yatno langsung memeriksakan anaknya ke rumah sakit Mintoharjo. Hanya saja hasilnya masih dirahasiakan dan hanya polisi yang dibolehkan tahu.
"Saya periksakan ke Mintoharjo, katanya ada indikasi demikian. Tetapi untuk hasil visumnya hanya dibolehkan ke polisi saja," ujarnya.
Ia yang mendengar pengakuan anaknya serta mendapat penjelasan dokter, percaya dan langsung menanyakan langsung kepada pelaku. Ternyata, setelah ditanyakan kepada pelaku, mengakui memang telah melakukan perbuatan asusila kepada anak Yatno.
"Setelah ngaku, banyak juga anak perempuan yang cerita sama orang tuanya, total ada 9 yang sudah cerita ke orang tuanya. Mereka ngaku kemaluannya dimasukkan jari. Kalau anak saya, sudah diperkosa sama pelaku," ungkap pria yang berjualan kopi seduh itu.
Hasilnya karena warga sudah kesal ulah pelaku. Kemudian pelaku langsung diusir malam itu juga dari kontrakannya.
"Iya kami lakukan kesalahan mas, bukan laporin ke polisi malah kami usir. Sekarang pelaku enggak tahu ada dimana nih," pungkasnya.

Tukang Ojek Cabul, Ajak Korbannya Nonton Film Porno


Tukang Ojek Cabul, Ajak Korbannya Nonton Film Porno
Istimewa
Ilustrasi korban pencabulan 

PALMERAH - Yuli (36), orangtua korban pencabulan tukang ojek WKN (50), mengatakan, pelaku mengajak para korbannya menonton film porno terlebih dahulu sebelum melaksanakan aksinya.
"Jadi para korban yang jumlahnya 9 orang ini disuruh masuk ke dalam rumah kontrakan pelaku. Kemudian disuruh nonton film porno beramai-ramai. Kata anak saya, dia berdua nonton bersama temannya, enggak sendirian, kemudian gantian digilir sama pelaku," ungkap Yuli yang berprofesi sebagai pekerja rumah tangga tersebut kepada wartawan, Kamis (27/11/2014).
Setelah diajak menonton film porno, kemudian anaknya serta satu temannya diajak masuk ke dalam kamar pelaku. Di dalam kamar itulah pelaku melampiaskan nafsunya kepada anak-anak kecil.
"Habis nonton dibawa ke kamar kemudian dicabuli. Katanya mereka diancam jangan bilang siapa-siapa oleh pelaku. Baru terungkap setelah PI lapor ke orangtuanya. Setelah itu baru anak-anak yang lain cerita," ungkap Yuli.
Yuli mengaku tak habis pikir dengan kelakuan tersangka yang notabene merupakan warga yang sudah dituakan di lokasi tersebut. Padahal pelaku sudah dipanggil Pakde oleh para warga dan anak-anak sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
"Orangtua kok kelakuannya kayak gitu, enggak habis pikir saya sama dia. Masa anak kecil dicabulin sama diperkosa. Kalau bisa ditangkap, kemudian dirajam aja, jangan kasih ampun," ujar perempuan yang suaminya bekerja sebagai supir bajaj tersebut.
Yuli mengakui tak tahu menahu, bagaimana sampai pelaku bisa melakukan perbuatan asusila kepada anak-anak di lingkungan sekitarnya. Pasalnya, lingkungannya cukup ramai dan anaknya tak pernah lepas dari pengawasannya.
"Saya kerja kan cuma jarak dua meter saja. Jadi masih bisa ngawasin anak saya. Makanya saya enggak tahu gimana pelaku melakukan aksinya," ujar ibu dari LY (7).
Sementara Yatno (34) ayah dari PI (8) mengatakan, sudah dua minggu ini anaknya selalu main hingga pukul 23.00. Kalau ditanya, PI selalu bilang baru main dari rumah temannya.
"Jadi sudah dua minggu anak saya pulang larut malam. Saya cari di tempat dia biasa main tak pernah ketemu. Tahu-tahu jam 23.00 sudah pulang ada di depan rumah. Kemudian saya tambah curiga, setiap kencing anak pertama saya itu selalu sakit," kata Yatno.
Setelah ditanyai baru diketahui bahwa anaknya sudah menjadi korban pencabulan. Kemudian dirinya langsung melabrak pelaku bersama warga yang sudah gusar.
"Kami marahi pelaku, kemudian banyak yang minta supaya langsung diusir dari kampung sini. Itu mulai terungkapnya pas tadi malam, malam tadi juga pelaku langsung diusir," kata Yatno.