Memuat berita dan informasi dari berbagai sumber yang bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dan informasi bagi para pengunjung blog ini. Memberi ruang bagi pengunjung blog ini untuk memuat berita dan informasi yang bermanfaat bagi para pengunjung lain blog ini. Selamat berkunjung dan membaca di blog ini, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Ucapan
SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!
Rabu, 23 Mei 2012
UN Bukan Momok Menakutkan
Membicarakan Ujian Nasional (UN) memang tidak ada habisnya.
Untuk menghadapi UN seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap sekolah
berlomba menambah jam pelajaran bagi siswa. Bila perlu menggandeng
lembaga bimbingan belajar agar para siswanya sukses UN.
Pola menghadapi UN seperti itu tidak lagi mengejutkan. Setiap tahun selalu ditemukan pola-pola serupa. Apa yang sering dilakukan pihak sekolah pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat, kini juga diikuti sekolah-sekolah di jenjang SD.
Namun bukan berarti pelaksanaan UN berlangsung tanpa kendala. Sebab ada saja niat curang yang dilakukan pihak sekolah. Mungkin kita masih ingat pelaksanaan UN SMA di Sekadau lalu.
Di mana kepsek salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui satpam, berupaya menyuap petugas kepolisian yang mengawal dan menjaga soal-soal UN. Tujuannya tak lain, supaya sang petugas bisa diajak “kerja sama” membocorkan soal UN pada peserta. Entah setan apa yang sedang bergelantungan di benak sang kepsek hingga mau berniat nekat seperti itu.
Bagi sebagian orang, pelaksanaan UN mungkin menjadi momok yang menakutkan. Namun pelaksanaan UN sedianya dilakukan secara jujur. Karena pada hakikatnya UN bertujuan mengevaluasi proses belajar-mengajar yang berlangsung di sekolah.
Bila siswa memahami setiap mata pelajaran yang diberikan guru, sudah barang tentu tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Tidak perlu ada lagi cerita seperti di atas.
Begitu juga dengan pelaksanaan UN tingkat SD yang akan digelar 7 hingga 9 Mei 2012, tentu tidak kalah penting dengan pelaksanaan UN tingkat SMP dan SMA. Karena UN tingkat SD merupakan fondasi dasar dalam mencerdaskan bangsa. Sehingga pelaksanaan UN tingkat SD menjadi sangat penting dilaksanakan, lantaran berkaitan dengan masa depan siswa.
Memang untuk memperoleh nilai rata-ratanya minimal harus 5,5 bukan hal mudah. Namun 90.856 siswa SD se-Kalbar harus bertarung dengan jujur. Begitu juga dengan guru yang selama ini memberikan mereka bimbingan untuk memahami mata pelajaran.
Siswa maupun guru jangan pernah berpikir atau sampai melakukan kecurangan hanya untuk mendapatkan hasil terbaik. Sebab sikap curang yang dilakukan siswa SD yang rata-rata berusia belia, hanya menanamkan nilai negatif terhadap peserta didik.
Karena yang perlu dilakukan sekarang, bagaimana memberikan motivasi terhadap seluruh peserta UN tingkat SD hingga bisa menyelesaikan setiap soal-soal yang diujikan. Sebab keberhasilan UN tidak hanya bergantung pada segelintir guru dan siswa semata.
Orang tua murid juga memiliki peran penting memberikan semangat pada anak bahwa mereka pasti bisa menyelesaikan soal-soal yang diujikan. Ringankan beban mereka, bukan malah tidak diacuhkan. Bila memang perlu bangun komunikasi dengan wali kelas. Langkah ini penting untuk mengetahui perkembangan anak. Bila semua langkah itu dilakukan, insya Allah UN tidak lagi menjadi momok bagi siswa. (*)
Pola menghadapi UN seperti itu tidak lagi mengejutkan. Setiap tahun selalu ditemukan pola-pola serupa. Apa yang sering dilakukan pihak sekolah pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat, kini juga diikuti sekolah-sekolah di jenjang SD.
Namun bukan berarti pelaksanaan UN berlangsung tanpa kendala. Sebab ada saja niat curang yang dilakukan pihak sekolah. Mungkin kita masih ingat pelaksanaan UN SMA di Sekadau lalu.
Di mana kepsek salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui satpam, berupaya menyuap petugas kepolisian yang mengawal dan menjaga soal-soal UN. Tujuannya tak lain, supaya sang petugas bisa diajak “kerja sama” membocorkan soal UN pada peserta. Entah setan apa yang sedang bergelantungan di benak sang kepsek hingga mau berniat nekat seperti itu.
Bagi sebagian orang, pelaksanaan UN mungkin menjadi momok yang menakutkan. Namun pelaksanaan UN sedianya dilakukan secara jujur. Karena pada hakikatnya UN bertujuan mengevaluasi proses belajar-mengajar yang berlangsung di sekolah.
Bila siswa memahami setiap mata pelajaran yang diberikan guru, sudah barang tentu tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Tidak perlu ada lagi cerita seperti di atas.
Begitu juga dengan pelaksanaan UN tingkat SD yang akan digelar 7 hingga 9 Mei 2012, tentu tidak kalah penting dengan pelaksanaan UN tingkat SMP dan SMA. Karena UN tingkat SD merupakan fondasi dasar dalam mencerdaskan bangsa. Sehingga pelaksanaan UN tingkat SD menjadi sangat penting dilaksanakan, lantaran berkaitan dengan masa depan siswa.
Memang untuk memperoleh nilai rata-ratanya minimal harus 5,5 bukan hal mudah. Namun 90.856 siswa SD se-Kalbar harus bertarung dengan jujur. Begitu juga dengan guru yang selama ini memberikan mereka bimbingan untuk memahami mata pelajaran.
Siswa maupun guru jangan pernah berpikir atau sampai melakukan kecurangan hanya untuk mendapatkan hasil terbaik. Sebab sikap curang yang dilakukan siswa SD yang rata-rata berusia belia, hanya menanamkan nilai negatif terhadap peserta didik.
Karena yang perlu dilakukan sekarang, bagaimana memberikan motivasi terhadap seluruh peserta UN tingkat SD hingga bisa menyelesaikan setiap soal-soal yang diujikan. Sebab keberhasilan UN tidak hanya bergantung pada segelintir guru dan siswa semata.
Orang tua murid juga memiliki peran penting memberikan semangat pada anak bahwa mereka pasti bisa menyelesaikan soal-soal yang diujikan. Ringankan beban mereka, bukan malah tidak diacuhkan. Bila memang perlu bangun komunikasi dengan wali kelas. Langkah ini penting untuk mengetahui perkembangan anak. Bila semua langkah itu dilakukan, insya Allah UN tidak lagi menjadi momok bagi siswa. (*)
Pontianak Optimis Lolos 10 Besar
Hasil Unas Tingkat Nasional
Pontianak – Pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) tingkat SD, SMP, dan SMA,
serta SMK atau sederajat sudah berakhir. Namun rasa berdebar tetap saja
menanti para siswa lantaran tidak mudah mengisi setiap soal yang
diujikan.
Namun begitu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak Drs H Mulyadi
MSi mengaku optimis bisa masuk peringkat 10 besar nasional pada Unas
tingkat SD hingga SMA/sederajat.
“Seluruh persiapan menjelang ujian sudah kita lakukan. Makanya kita yakin, ketika Unas lalu siswa bisa menyelesaikan soal dengan baik. Selain itu, kami juga sudah menginstruksikan pada seluruh kepala sekolah agar memantau anak-anak didik yang punya kemampuan lebih,” kata Mulyadi.
Beranjak dari prestasi para siswa setiap harinya, Mulyadi optimis pada tahun ajaran 2011/2012 siswa di Kota Pontianak bisa masuk dalam 10 besar tingkat nasional. “Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti,” terang Mulyadi.
Rasa optimis Kota Pontianak masuk dalam 10 besar juga diutarakan Walikota Pontianak H Sutarmidji SH MHum, bahkan dirinya yakin hasil yang diperoleh jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal itu beranjak dari persiapan matang yang dilakukan para peserta sebelum Unas digelar.
“Hasil kunjungan saya ke beberapa sekolah di Kota Pontianak, peserta rata-rata tidak kesulitan mengisi soal Unas,” ujarnya. (ton)
“Seluruh persiapan menjelang ujian sudah kita lakukan. Makanya kita yakin, ketika Unas lalu siswa bisa menyelesaikan soal dengan baik. Selain itu, kami juga sudah menginstruksikan pada seluruh kepala sekolah agar memantau anak-anak didik yang punya kemampuan lebih,” kata Mulyadi.
Beranjak dari prestasi para siswa setiap harinya, Mulyadi optimis pada tahun ajaran 2011/2012 siswa di Kota Pontianak bisa masuk dalam 10 besar tingkat nasional. “Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti,” terang Mulyadi.
Rasa optimis Kota Pontianak masuk dalam 10 besar juga diutarakan Walikota Pontianak H Sutarmidji SH MHum, bahkan dirinya yakin hasil yang diperoleh jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal itu beranjak dari persiapan matang yang dilakukan para peserta sebelum Unas digelar.
“Hasil kunjungan saya ke beberapa sekolah di Kota Pontianak, peserta rata-rata tidak kesulitan mengisi soal Unas,” ujarnya. (ton)
LJK SMP dan SMA Proses Pemindaian
UN SD Selesai
Sementara UN sekolah dasar juga tidak ditemukan hambatan berarti dan berakhir kemarin. Untuk ujian susulan tingkat SD, MI, dan SDLB akan dilaksanakan seminggu setelah ujian pertama.
Laporan sementara dari tim, masih belum diketahui berapa jumlah siswa yang akan mengikuti ujian susulan. Sekarang untuk SMA dan SMP masih dalam proses pemindaian yang dalam hal ini ditangani oleh tim dari Universitas Tanjungpura.
“Pemindaian soal baru mencapai 190 ribu soal yang selesai dari total keseluruhan 260 ribu soal untuk SMA dan SMP. Pengumuman kelulusan untuk tingkat SMA akan dilakukan pada 26 Mei, sedangkan untuk SMP pada 2 Juni, dan 20 Juni untuk SD,” jelas Sunyata.
SD selesai
Sementara itu ujian nasional tingkat sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiah (MI), dan SD luar biasa (LB) sudah selesai Rabu (9/5). Tiga hari bergelut dengan soal, kemarin anak-anak begitu keluar ruang langsung mengembangkan senyum.“Alhamdulillah, semua siswa lancar dan tidak ada masalah dalam mengerjakan soal. Tahun ini juga suasana UN kondusif dan dari pihak kepolisian juga ikut mengawasi setiap hari,” ungkap Karsiman, Kepala Sekolah SDN 02 Pontianak Utara kepada Equator, kemarin.
Suasana gembira juga merangkul para siswa-siswi SD di Kota Pontianak dan Kubu Raya. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di hari terakhir tidak sulit diselesaikan.
Menurut Karsiman, pihak sekolah sangat terbantu dengan pengawasan dari aparat kepolisian. Terutama dari Polsek Pontianak Utara yang diterjunkan ke masing-masing sekolah untuk mengawasi dan mengamankan pelaksanaan UN selama tiga hari.
Tak hanya bisa lulus, tapi juga memperoleh nilai yang baik. Karena jika nilai rendah, takut susah diterima di sekolah negeri. “Peserta UN di sekolah kita tahun ini sebanyak 48 siswa. Alhamdulillah, tahun lalu kita berhasil lulus 100 persen. Tentunya di tahun ini kita juga optimis 100 persen pula,” tekadnya.
Sedangkan Kepala SDN 38 Pontianak Utara Abdul Hamid selain berharap siswanya lulus semua juga kualitas nilai semakin baik. “Sekolah tak hanya menargetkan, tetapi mempersiapkan segalanya jauh hari. Seperti persiapan belajar dan mental siswa,” katanya.
Sejak empat bulan sebelum UN sekolah sudah melakukan bimbingan belajar sehingga benar-benar siap tempur. Ia juga lega, dari 7 hingga 9 Mei 2012 semua lancar. Semua siswanya hadir dan berhasil menempuh ujian tanpa keluhan. (kie)
UN Tingkat SD Lancar dan Gampang
Mulyadi: Bisa Lulus 100 Persen
Pontianak – Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak yakin 11.425 siswa
sekolah dasar (SD) yang mengikuti ujian nasional (UN) tidak mengalami
kesulitan. Pasalnya, lebih banyak ditentukan di daerah, nilai rapor, dan
sekolah.
“Tingkat kelulusannya bisa 100 persen, karena kelulusannya juga
dibantu oleh nilai rapor sehingga tidak seberat UN tingkat SMA dan
SMP/sederajat,” kata Drs. Mulyadi MSi, kepada wartawan, Senin (7/5).
Pemetaan guru-guru bidang studi dilakukan guna mengetahui sejauh mana penguasaan mereka terhadap kisi-kisi dan penguasaan bidang studi yang diajarkan.
“Kami berikan pembekalan agar para guru bidang studi tersebut bisa maksimal dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anak didiknya,” jelas Mulyadi.
Sementara itu Kepala Disdik Kota Singkawang Drs Ahyadi MM mengatakan jumlah dokumen soal ujian nasional (UN) SD sederajat, disesuaikan dengan jumlah peserta sebanyak 3.795 murid dari 98 SD sederajat.
Sesuai Prosedur Operasi Standar (POS), terangnya, UN SD sederajat Tahun Pelajaran 2011/2012 dilaksanakan selama tiga hari mulai Senin (7/5).
“Mata pelajaran yang diujikan terdiri atas Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Waktu yang diberikan untuk satu mata pelajaran adalah dua jam, yakni dari pukul 08.00 hingga 10.00,” kata Ahyadi.
Dari Ngabang dilaporkan, tidak semua murid SD/MI yang berjumlah 7.983 siswa mengikuti UN dengan berbagai alasan. Seperti di SDN 2 Ngabang, dari 105 peserta, ada satu peserta yang tidak mengikuti UN karena sudah mengundurkan diri.
“Jadi yang ikut UN untuk peserta dari SDN 2 Ngabang ini sebanyak 104 peserta. Siswa yang tidak mengikuti UN tersebut dianggap mengundurkan diri karena sudah lama tidak masuk sekolah,” ujar Endang, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 2 Ngabang.
Di hari pertama UN semuanya hadir, kecuali satu orang peserta dari SDN 2 Ngabang tadi. Untuk lembar jawaban UN, setelah selesai ujian dibawa ke subrayon. “Jadi lembar jawaban siswa tidak menginap di sekolah penyelenggara.
Yang menarik, UN di SDN 10 Ngabang. Ada dua peserta UN yang termasuk dalam sekolah inklusi. Kedua peserta tersebut menderita tunarungu dan autis.
“Peserta tunarungu tetap bergabung dengan rekan-rekannya yang lain. Hanya saja untuk peserta yang menderita autis ikut UN di kantin sekolah. Sebab ini merupakan permintaan dia sendiri. Pada saat pelaksanaan Ujian Sekolah (US) pun siswa bersangkutan mengikutinya di luar kelas,” ujar Kepsek SDN 10 Ngabang Ngatiman.
Menurut pengawasnya, siswa autis tersebut tidak mengalami kesulitan mengisi lembar jawaban. Tidak hanya itu saja, ada juga satu peserta UN yang ikut UN di SDN 10 Ngabang ini berasal dari SD luar biasa.
“Siswa bersangkutan pun kita gabungkan dengan peserta lainnya pada pelaksanaan UN,” jelas Ngatiman.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Sekadau Drs Djemain Burhan MM mengatakan soal yang tidak jelas pertanyaannya itu ada pada soal nomor 25 dan 26 paket soal P-1.
“Dalam soal nomor 25 dan 26 ditanyakan soal isi wacana yang katanya ada di atas soal. Namun di lembaran soal tidak ada dituliskan wacana yang dimaksud,” kata Djemain kepada Equator.
Dia menjelaskan, biasanya paket soal yang pertanyaannya berhubungan dengan sebuah wacana atau laporan, sudah dilengkapi dengan laporan dimaksud. “Tapi untuk soal dan laporan itu, tidak ada sama sekali laporannya,” tegasnya.
Atas keputusan dari pihak provinsi, dua soal dimaksud diputuskan untuk dikosongkan. “Dua soal itu tidak diisi,” katanya.
Tahun ini, peserta ujian dari tingkat SD/MI/SDLB se-Kabupaten Sekadau mencapai 3.776 siswa. Mereka berasal dari 196 buah sekolah. Di Sekadau, sekolah dasar terdapat 217 buah. Namun beberapa sekolah belum mengikuti UN karena merupakan unit sekolah yang terbilang baru.
Kapolres Sekadau AKBP Andreas Widihandoko SH mengakui pelaksanaan ujian di Sekadau berjalan aman dan lancar. “Belum ada laporan terjadinya kebocoran soal,” ujar Widi.
Kebocoran yang dimaksud Widi adalah saat pendistribusian soal-soal ujian dari panitia kabupaten hingga ke sekolah-sekolah tempat pelaksanaan ujian. Pasalnya polisi hanya berwenang melakukan pengawasan soal pendistribusian soal.
“Kalau soal contek-mencontek, bukan tugas kita melakukan pengawasan. Tugas pengawasan itu kewenangannya ada di pengawas ujian,” tukas Widi. (dna/dik/tar/bdu)
Pemetaan guru-guru bidang studi dilakukan guna mengetahui sejauh mana penguasaan mereka terhadap kisi-kisi dan penguasaan bidang studi yang diajarkan.
“Kami berikan pembekalan agar para guru bidang studi tersebut bisa maksimal dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anak didiknya,” jelas Mulyadi.
Sementara itu Kepala Disdik Kota Singkawang Drs Ahyadi MM mengatakan jumlah dokumen soal ujian nasional (UN) SD sederajat, disesuaikan dengan jumlah peserta sebanyak 3.795 murid dari 98 SD sederajat.
Sesuai Prosedur Operasi Standar (POS), terangnya, UN SD sederajat Tahun Pelajaran 2011/2012 dilaksanakan selama tiga hari mulai Senin (7/5).
“Mata pelajaran yang diujikan terdiri atas Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Waktu yang diberikan untuk satu mata pelajaran adalah dua jam, yakni dari pukul 08.00 hingga 10.00,” kata Ahyadi.
Dari Ngabang dilaporkan, tidak semua murid SD/MI yang berjumlah 7.983 siswa mengikuti UN dengan berbagai alasan. Seperti di SDN 2 Ngabang, dari 105 peserta, ada satu peserta yang tidak mengikuti UN karena sudah mengundurkan diri.
“Jadi yang ikut UN untuk peserta dari SDN 2 Ngabang ini sebanyak 104 peserta. Siswa yang tidak mengikuti UN tersebut dianggap mengundurkan diri karena sudah lama tidak masuk sekolah,” ujar Endang, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 2 Ngabang.
Di hari pertama UN semuanya hadir, kecuali satu orang peserta dari SDN 2 Ngabang tadi. Untuk lembar jawaban UN, setelah selesai ujian dibawa ke subrayon. “Jadi lembar jawaban siswa tidak menginap di sekolah penyelenggara.
Yang menarik, UN di SDN 10 Ngabang. Ada dua peserta UN yang termasuk dalam sekolah inklusi. Kedua peserta tersebut menderita tunarungu dan autis.
“Peserta tunarungu tetap bergabung dengan rekan-rekannya yang lain. Hanya saja untuk peserta yang menderita autis ikut UN di kantin sekolah. Sebab ini merupakan permintaan dia sendiri. Pada saat pelaksanaan Ujian Sekolah (US) pun siswa bersangkutan mengikutinya di luar kelas,” ujar Kepsek SDN 10 Ngabang Ngatiman.
Menurut pengawasnya, siswa autis tersebut tidak mengalami kesulitan mengisi lembar jawaban. Tidak hanya itu saja, ada juga satu peserta UN yang ikut UN di SDN 10 Ngabang ini berasal dari SD luar biasa.
“Siswa bersangkutan pun kita gabungkan dengan peserta lainnya pada pelaksanaan UN,” jelas Ngatiman.
Soal tak jelas
Pelaksanaan UN di Sekadau berjalan tertib dan lancar. Namun sejumlah peserta ujian sempat dibingungkan dengan soal ujian Bahasa Indonesia (BI) yang tidak jelas pertanyaannya.Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Sekadau Drs Djemain Burhan MM mengatakan soal yang tidak jelas pertanyaannya itu ada pada soal nomor 25 dan 26 paket soal P-1.
“Dalam soal nomor 25 dan 26 ditanyakan soal isi wacana yang katanya ada di atas soal. Namun di lembaran soal tidak ada dituliskan wacana yang dimaksud,” kata Djemain kepada Equator.
Dia menjelaskan, biasanya paket soal yang pertanyaannya berhubungan dengan sebuah wacana atau laporan, sudah dilengkapi dengan laporan dimaksud. “Tapi untuk soal dan laporan itu, tidak ada sama sekali laporannya,” tegasnya.
Atas keputusan dari pihak provinsi, dua soal dimaksud diputuskan untuk dikosongkan. “Dua soal itu tidak diisi,” katanya.
Tahun ini, peserta ujian dari tingkat SD/MI/SDLB se-Kabupaten Sekadau mencapai 3.776 siswa. Mereka berasal dari 196 buah sekolah. Di Sekadau, sekolah dasar terdapat 217 buah. Namun beberapa sekolah belum mengikuti UN karena merupakan unit sekolah yang terbilang baru.
Kapolres Sekadau AKBP Andreas Widihandoko SH mengakui pelaksanaan ujian di Sekadau berjalan aman dan lancar. “Belum ada laporan terjadinya kebocoran soal,” ujar Widi.
Kebocoran yang dimaksud Widi adalah saat pendistribusian soal-soal ujian dari panitia kabupaten hingga ke sekolah-sekolah tempat pelaksanaan ujian. Pasalnya polisi hanya berwenang melakukan pengawasan soal pendistribusian soal.
“Kalau soal contek-mencontek, bukan tugas kita melakukan pengawasan. Tugas pengawasan itu kewenangannya ada di pengawas ujian,” tukas Widi. (dna/dik/tar/bdu)
Kelulusan UN SMA Diumumkan 26 Mei
Pontianak – Harap cemas para siswa peserta ujian nasional tingkat SMA,
MA, SMALB, dan SMK, akan berakhir karena pengumuman kelulusan akan
diumumkan Sabtu (26/5).
“Tanggal pengumuman sampai saat ini masih belum ada perubahan, tetap
26 Mei. Kemudian untuk tingkat SMP, MTs, dan SMPLB tanggal 2 Juni,
setelah itu baru tingkat SD, MI, dan SDLB tanggal 16 Juni,” ungkap Ketua Panitia UN Kalbar, Sunyata kepada Equator, Senin (21/5).
Pemindaian untuk tingkat SMA dan SMP sederajat ditangani oleh pihak Universitas Tanjungpura. Hasilnya sudah dibawa oleh Untan ke pusat pengembalian hasil oleh provinsi. Kemudian H-2, kepala dinas kabupaten/kota atau diwakili ketua penyelenggara UN masing-masing daerah untuk penyerahan hasil.
“Jadi untuk kelulusan tingkat SMA dan SMP sederajat masih ditetapkan di pusat. Hasil UN akan digabung dengan nilai rapor yang sudah dikirim ke pusat. Hasil kelulusan secara keseluruhan 60 persen hasil UN dan 40 persen dari nilai rapor,” ujarnya.
Untuk tingkat SD, MI, dan SDLB masih ditentukan oleh kepala rayon yang ada di daerah masing-masing. Termasuk juga untuk cetak soal dulu masih dicetak di daerah.
“Saya berharap proses pengumuman kelulusan nanti berjalan lancar tanpa hambatan. Bagi yang berhasil lulus meluapkan kegembiraan dengan sewajarnya saja. Luapkanlah kegembiraan lebih kepada pendekatan syukur kita kepada Allah SWT,” imbau Sunyata.
Ia menambahkan, para siswa hendaknya mengucapkan banyak terima kasih kepada kepala sekolah dan guru yang telah membimbing, membina selama menempuh pendidikan. Tidak melakukan pawai kendaraan, coret-coret baju, dan lain sebagainya.
“Bagi siswa yang belum berhasil ini sebagai introspeksi dan evaluasi diri untuk keberhasilan tahun depan. Jangan sampai kegagalan ini menjadikan frustrasi. Tetapi jadikanlah sebagai introspeksi supaya ke depan lebih baik lagi. Tidak lulus bukan berarti gagal tetapi hanya kesuksesan yang tertunda,” katanya.
Terpisah, salah satu orang tua siswa, Juharna, berharap besar kepada anaknya supaya bisa lulus UN. Bila perlu lulus dengan nilai yang baik sehingga bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di sekolah yang berkualitas.
“Setiap orang tua pasti berharap anaknya lulus. Apalagi anak saya ini yang bungsu mempunyai semangat belajar yang tinggi. Jadi kami berharap ia bisa melanjutkan pendidikannya,” katanya optimis anaknya lulus.
Karena dari jauh hari sebelum dilaksanakan UN anaknya sudah diarahkan untuk belajar. “Kita tunggu saja pengumuman nanti. Yang jelas kita selalu berdoa bisa lulus dan mendapatkan nilai yang baik. Sehingga membanggakan orang tua,” harapnya. (kie)
Pemindaian untuk tingkat SMA dan SMP sederajat ditangani oleh pihak Universitas Tanjungpura. Hasilnya sudah dibawa oleh Untan ke pusat pengembalian hasil oleh provinsi. Kemudian H-2, kepala dinas kabupaten/kota atau diwakili ketua penyelenggara UN masing-masing daerah untuk penyerahan hasil.
“Jadi untuk kelulusan tingkat SMA dan SMP sederajat masih ditetapkan di pusat. Hasil UN akan digabung dengan nilai rapor yang sudah dikirim ke pusat. Hasil kelulusan secara keseluruhan 60 persen hasil UN dan 40 persen dari nilai rapor,” ujarnya.
Untuk tingkat SD, MI, dan SDLB masih ditentukan oleh kepala rayon yang ada di daerah masing-masing. Termasuk juga untuk cetak soal dulu masih dicetak di daerah.
“Saya berharap proses pengumuman kelulusan nanti berjalan lancar tanpa hambatan. Bagi yang berhasil lulus meluapkan kegembiraan dengan sewajarnya saja. Luapkanlah kegembiraan lebih kepada pendekatan syukur kita kepada Allah SWT,” imbau Sunyata.
Ia menambahkan, para siswa hendaknya mengucapkan banyak terima kasih kepada kepala sekolah dan guru yang telah membimbing, membina selama menempuh pendidikan. Tidak melakukan pawai kendaraan, coret-coret baju, dan lain sebagainya.
“Bagi siswa yang belum berhasil ini sebagai introspeksi dan evaluasi diri untuk keberhasilan tahun depan. Jangan sampai kegagalan ini menjadikan frustrasi. Tetapi jadikanlah sebagai introspeksi supaya ke depan lebih baik lagi. Tidak lulus bukan berarti gagal tetapi hanya kesuksesan yang tertunda,” katanya.
Terpisah, salah satu orang tua siswa, Juharna, berharap besar kepada anaknya supaya bisa lulus UN. Bila perlu lulus dengan nilai yang baik sehingga bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di sekolah yang berkualitas.
“Setiap orang tua pasti berharap anaknya lulus. Apalagi anak saya ini yang bungsu mempunyai semangat belajar yang tinggi. Jadi kami berharap ia bisa melanjutkan pendidikannya,” katanya optimis anaknya lulus.
Karena dari jauh hari sebelum dilaksanakan UN anaknya sudah diarahkan untuk belajar. “Kita tunggu saja pengumuman nanti. Yang jelas kita selalu berdoa bisa lulus dan mendapatkan nilai yang baik. Sehingga membanggakan orang tua,” harapnya. (kie)
Digerebek, Bidan dan Perawat Selingkuh
Serimbu – Kepolisian Sektor (Polsek) Air Besar Kabupaten Landak
menggerebek oknum bidan HY, 23, dan perawat Hd, 32, di Puskesmas Serimbu
Kecamatan Air Besar. Keduanya diduga telah berselingkuh.
Suami HY yang merupakan anggota Polri di Polsek Air Besar melaporkan
tindakan istrinya tersebut. “Suami HY adalah seorang polisi dan telah
curiga sejak empat bulan lalu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal
Polres Landak, AKP Andi Oddang.
HY yang masih berstatus bidan CPNS ini tidak berkutik ketika polisi menggerebek rumah dinas Puskesmas Serimbu, tempat berdomisili Hd, selingkuhan HY, Selasa (27/9) lalu.
“HY belum mau memberi keterangan. Belum mau bicara dengan penyidik,” ujar Andi Oddang, Kamis (29/9).
Menurut Andi, pihaknya tidak tahu apakah karena mereka (HY) rasa malu, sehingga aksi bungkam dilakukan oleh HY, sejak ia diamankan ke Mapolres Landak, bersama selingkuhannya Hd.
“Anggota menggerebek sekitar pukul 21.00 malam, tepatnya hari Selasa. Dia (HY, red) sempat mau kabur melalui pintu belakang rumah dinas puskesmas itu,” tutur Oddang.
Andi Oddang juga menerangkan, terdapat saksi melihat keduanya berintiman mesra. Dari pengakuan Hd yang merupakan PNS di puskesmas tersebut, hubungan mereka telah dilakukan sejak Mei.
“Sekarang masih proses penyelidikan, kita akan mengirim surat ke instansi terkait, dinas kesehatan, karena terkait pegawainya,” tegas Andi Oddang. (rie)
HY yang masih berstatus bidan CPNS ini tidak berkutik ketika polisi menggerebek rumah dinas Puskesmas Serimbu, tempat berdomisili Hd, selingkuhan HY, Selasa (27/9) lalu.
“HY belum mau memberi keterangan. Belum mau bicara dengan penyidik,” ujar Andi Oddang, Kamis (29/9).
Menurut Andi, pihaknya tidak tahu apakah karena mereka (HY) rasa malu, sehingga aksi bungkam dilakukan oleh HY, sejak ia diamankan ke Mapolres Landak, bersama selingkuhannya Hd.
“Anggota menggerebek sekitar pukul 21.00 malam, tepatnya hari Selasa. Dia (HY, red) sempat mau kabur melalui pintu belakang rumah dinas puskesmas itu,” tutur Oddang.
Andi Oddang juga menerangkan, terdapat saksi melihat keduanya berintiman mesra. Dari pengakuan Hd yang merupakan PNS di puskesmas tersebut, hubungan mereka telah dilakukan sejak Mei.
“Sekarang masih proses penyelidikan, kita akan mengirim surat ke instansi terkait, dinas kesehatan, karena terkait pegawainya,” tegas Andi Oddang. (rie)
Berselingkuh dengan Oknum Polisi, Digerebek Anak dan Provos
Suami Dicerai Harta Dikuras
Nl merupakan wanita yang sudah memiliki lima anak, warga Pontianak
Timur. Saking cintanya Nl dengan Brigadir Sr, dia rela menceraikan
suaminya beberapa minggu lalu.
Anak Nl yang curiga dengan ibunya, berupaya mencari tahu alasan perceraian kedua orang tuanya. Apalagi Nl sudah banyak menghabiskan hartanya hanya untuk berselingkuh.
Akhirnya perselingkuhan antara Nl dengan Brigadir Sr diketahui kedua anak wanita tersebut. Anak dan sang suami tidak langsung menuding Nl berselingkuh. Dibantu keluarganya yang lain, mereka mencari fakta perselingkuhan. Hingga akhirnya diketahui Nl dan Brigadir Sr menginap di salah satu hotel di Sungai Raya Dalam, Kubu Raya.
Bersama Provos Polda Kalbar, kedua anak Nl menggerebek ibunya berduaan di kamar hotel. Pintu hotel didobrak Provos dan kedua anak Nl. Tanpa pikir panjang dan memandang selingkuhan ibunya seorang polisi, kedua anak Nl langsung melayangkan tangannya ke wajah Brigadir Sr.
“Keluarga saya telah dihancurkan oleh laki-laki ini. Keharmonisan keluarga saya menjadi berantakan,” kesal Siska, anak Nl.
Sr dan Nl langsung digiring ke Mapolda Kalbar. Melihat ibunya berselingkuh dengan Brigadir Sr, Siska histeris dan pingsan. “Kau sudah punya anak lima, ingat anak di rumah. Kau laki-laki bajingan, sudah menghancurkan keluarga kami,” ungkap Siska berteriak.
Satpam hotel tempat pasangan mesum itu menginap mengatakan Sr dan Nl sering menginap di hotel tersebut. Namun tidak diketahui kalau keduanya berselingkuh. “Mereka memang sering pergi ke sini, Bang. Siapa tak ngamuk, kalau orang tuanya selingkuh dengan orang lain. Padahal sudah punya anak banyak,” kata satpam yang namanya enggan dikorankan.
Setelah diperiksa di Polda, kedua pasangan selingkuh itu menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Mapolresta Pontianak. Alasannya Brigadir Sr merupakan anggota Polresta Pontianak.
“Polisi itu menghancurkan keluarga kami, sampai menyuruh Mama cerai, dia juga menguras harta keluarga kami,” ungkap Hendra saat ikut menggerebek ibunya selingkuh di kamar hotel. (sul)
Anak Nl yang curiga dengan ibunya, berupaya mencari tahu alasan perceraian kedua orang tuanya. Apalagi Nl sudah banyak menghabiskan hartanya hanya untuk berselingkuh.
Akhirnya perselingkuhan antara Nl dengan Brigadir Sr diketahui kedua anak wanita tersebut. Anak dan sang suami tidak langsung menuding Nl berselingkuh. Dibantu keluarganya yang lain, mereka mencari fakta perselingkuhan. Hingga akhirnya diketahui Nl dan Brigadir Sr menginap di salah satu hotel di Sungai Raya Dalam, Kubu Raya.
Bersama Provos Polda Kalbar, kedua anak Nl menggerebek ibunya berduaan di kamar hotel. Pintu hotel didobrak Provos dan kedua anak Nl. Tanpa pikir panjang dan memandang selingkuhan ibunya seorang polisi, kedua anak Nl langsung melayangkan tangannya ke wajah Brigadir Sr.
“Keluarga saya telah dihancurkan oleh laki-laki ini. Keharmonisan keluarga saya menjadi berantakan,” kesal Siska, anak Nl.
Sr dan Nl langsung digiring ke Mapolda Kalbar. Melihat ibunya berselingkuh dengan Brigadir Sr, Siska histeris dan pingsan. “Kau sudah punya anak lima, ingat anak di rumah. Kau laki-laki bajingan, sudah menghancurkan keluarga kami,” ungkap Siska berteriak.
Satpam hotel tempat pasangan mesum itu menginap mengatakan Sr dan Nl sering menginap di hotel tersebut. Namun tidak diketahui kalau keduanya berselingkuh. “Mereka memang sering pergi ke sini, Bang. Siapa tak ngamuk, kalau orang tuanya selingkuh dengan orang lain. Padahal sudah punya anak banyak,” kata satpam yang namanya enggan dikorankan.
Setelah diperiksa di Polda, kedua pasangan selingkuh itu menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Mapolresta Pontianak. Alasannya Brigadir Sr merupakan anggota Polresta Pontianak.
“Polisi itu menghancurkan keluarga kami, sampai menyuruh Mama cerai, dia juga menguras harta keluarga kami,” ungkap Hendra saat ikut menggerebek ibunya selingkuh di kamar hotel. (sul)
Dituding Selingkuh, Penghulu Digerebek
Warga memergoki Fa di kediaman Li. Meskipun demikian, kedua pasangan
ini belum mengakui perbuatannya. Demi mencegah amuk massa yang menduga
Fa dan Li berselingkuh, akhirnya pasangan tersebut digiring warga ke
Mapolsek Barat untuk dimintai keterangannya.
Berdasarkan keterangan Man, warga Gang Kubu, perbuatan Fa dan Li telah dilakukan berulang kali. Sang lelaki bertandang ke rumah wanita dengan alasan tertentu. Terlebih saat suaminya sedang pergi ke luar daerah. Kedua pasangan ini semakin sering melakukan tindakan asusila.
“Kalau dihitung-hitung, ada tujuh kali mereka berdua di dalam rumah. Kami mulai curiga. Pasalnya suami si wanita sedang pergi ke Palembang, bekerja di sana. Sekarang kami berhasil memergokinya,” ujar Man kepada wartawan.
Man mengaku Fa bekerja sebagai penghulu di wilayah Pontianak Barat. Sedangkan Li, ibu rumah tangga yang membantu suaminya membuka warung makanan. Mereka dipergoki warga dalam kondisi tak wajar. Saat disergap, Fa sedang buka baju dan hanya menggunakan kaus dalam. Sedangkan Li tidak mengenakan pakaian, tubuhnya hanya dibaluti handuk.
“Saat kami sergap, prianya ada di dalam kamar mandi. Sedangkan si wanita menggunakan kemban di dalam kamar. Ironis lagi, keduanya telah mempunyai keluarga. Sudah jelas mereka selingkuh terhadap pasangannya,” jelas Man.
Fa mengaku mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Kedatangannya hanya untuk mengantar bingkisan. Namun selang beberapa saat kemudian ada sejumlah warga datang menyuruh keluar dari rumah.
“Kami berteman lama. Istri saya pun telah mengenal wanita itu. Karena panik, kami berusaha untuk sembunyi. Dan kami tidak melakukan apa-apa seperti yang dituduhkan warga,” jelas Fa.
Setelah melakukan perundingan di Mapolsek Pontianak Barat, Ketua RW setempat, Ismet menuturkan, untuk sementara aduan masyarakat masih dalam proses.
“Polisi mengatakan laporan akan di-BAP jika suami dari pihak wanita yang melaporkan sendiri perbuatan tersebut. Kita tunggu suaminya pulang dari Palembang dulu,” jelas Ismet. (sul)
Berdasarkan keterangan Man, warga Gang Kubu, perbuatan Fa dan Li telah dilakukan berulang kali. Sang lelaki bertandang ke rumah wanita dengan alasan tertentu. Terlebih saat suaminya sedang pergi ke luar daerah. Kedua pasangan ini semakin sering melakukan tindakan asusila.
“Kalau dihitung-hitung, ada tujuh kali mereka berdua di dalam rumah. Kami mulai curiga. Pasalnya suami si wanita sedang pergi ke Palembang, bekerja di sana. Sekarang kami berhasil memergokinya,” ujar Man kepada wartawan.
Man mengaku Fa bekerja sebagai penghulu di wilayah Pontianak Barat. Sedangkan Li, ibu rumah tangga yang membantu suaminya membuka warung makanan. Mereka dipergoki warga dalam kondisi tak wajar. Saat disergap, Fa sedang buka baju dan hanya menggunakan kaus dalam. Sedangkan Li tidak mengenakan pakaian, tubuhnya hanya dibaluti handuk.
“Saat kami sergap, prianya ada di dalam kamar mandi. Sedangkan si wanita menggunakan kemban di dalam kamar. Ironis lagi, keduanya telah mempunyai keluarga. Sudah jelas mereka selingkuh terhadap pasangannya,” jelas Man.
Fa mengaku mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Kedatangannya hanya untuk mengantar bingkisan. Namun selang beberapa saat kemudian ada sejumlah warga datang menyuruh keluar dari rumah.
“Kami berteman lama. Istri saya pun telah mengenal wanita itu. Karena panik, kami berusaha untuk sembunyi. Dan kami tidak melakukan apa-apa seperti yang dituduhkan warga,” jelas Fa.
Setelah melakukan perundingan di Mapolsek Pontianak Barat, Ketua RW setempat, Ismet menuturkan, untuk sementara aduan masyarakat masih dalam proses.
“Polisi mengatakan laporan akan di-BAP jika suami dari pihak wanita yang melaporkan sendiri perbuatan tersebut. Kita tunggu suaminya pulang dari Palembang dulu,” jelas Ismet. (sul)
Selasa, 22 Mei 2012
Calon Bidan dan Pemerkosanya akan Menikah
net
ilustrasi
Demikian dikatakan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, saat dihubungi Senin (30/1/2012).
"Rencananya, JM akan segera cabut laporannya itu, dan keluarga berencana segera menikahkan mereka dalam waktu dekat," ucap Budi.
Budi menjelaskan, laporan palsu JM tidak lagi jadi tanggung jawab pihak kepolisian. Budi pun mengaku kini pihaknya tengah berbalik mencari pasal yang bisa dijerat kepada JM karena laporan palsunya.
Dia menambahkan, untuk menjerat JM dengan pasal laporan palsu, tentu harus ada pihak yang dirugikan terkait laporan itu. Namun dalam laporan itu, pihak JM tidak menyebutkan nama siapa dugaan pelaku pemerkosaan.
"Bisa saja JM kami jerat, asalkan SU merasa dirugikan dengan laporan palsu JM," tambah Budi.(*)
JM dan Pemerkosanya Ternyata Sudah Kenal di Facebook
NET
Ilustrasi.
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto menuturkan JM pertama kali berkenalan dengan Iwing melalui situs jejaring sosial Facebook lewat teman JM.
"Jadi mereka itu sebelumnya chatting dengan temannya. Lalu ada temannya sekampung di kontak facebooknya, kemudian mereka tukar nomor hp dan setelah itu keduanya bertemu," kata Rikwanto.
Kemudian Rikwanto menjelaskan setelah bertemu, JM dan Iwing pun berjalan-jalan ke Situ Gintung, dan kemudian pergi menuju ke rumah kos rekan JM di kawasan Ciputat.
"Nah, di sanalah persetubuhan antara JM dan Iwing dimulai. Mereke menuju ke kosannya kemudian yngg punya kosannya pergi di sana dilakukan persetubuhan dalam satu malam," kata Rikwanto.
Lebih lanjut, menurut keterangan pelaku yang juga mahasiswa di salah satu Universitas di Jakarta ini, ia lakukan persetubuhan di dalam kosan sebanyak 4 kali.
Keterangan pelaku pun sangat jauh berbeda ini jauh dengan laporan JM yang mengatakan ia diperkosa di pinggir rel di kawasan Kebayoran Lama, oleh lima orang laki- laki.
Menanggapi hal ini Rikwanto mengaku akan menunggu konfirmasi dari JM usai JM kondisinya membaik setelah dirawat di Rumah Sakit.
"Jadi mereka itu sebelumnya chatting dengan temannya. Lalu ada temannya sekampung di kontak facebooknya, kemudian mereka tukar nomor hp dan setelah itu keduanya bertemu," kata Rikwanto.
Kemudian Rikwanto menjelaskan setelah bertemu, JM dan Iwing pun berjalan-jalan ke Situ Gintung, dan kemudian pergi menuju ke rumah kos rekan JM di kawasan Ciputat.
"Nah, di sanalah persetubuhan antara JM dan Iwing dimulai. Mereke menuju ke kosannya kemudian yngg punya kosannya pergi di sana dilakukan persetubuhan dalam satu malam," kata Rikwanto.
Lebih lanjut, menurut keterangan pelaku yang juga mahasiswa di salah satu Universitas di Jakarta ini, ia lakukan persetubuhan di dalam kosan sebanyak 4 kali.
Keterangan pelaku pun sangat jauh berbeda ini jauh dengan laporan JM yang mengatakan ia diperkosa di pinggir rel di kawasan Kebayoran Lama, oleh lima orang laki- laki.
Menanggapi hal ini Rikwanto mengaku akan menunggu konfirmasi dari JM usai JM kondisinya membaik setelah dirawat di Rumah Sakit.
Perkosa Remaja Korsel, Tentara AS Dihukum 10 Tahun
net
ilustrasi
Seorang tentara Amerika Serikat (AS), dijatuhi hukuman penjara selama
enam tahun oleh Pengadilan Seoul, karena memperkosa seorang gadis
remaja, pada tahun lalu.
Prajurit Kevin Robinson, 21, dinyatakan bersalah telah memperkosa seorang perempuan berusia 17 tahun, di rumah gadis itu, Seoul di bulan September, ujar seorang juru bicara pengadilan, seperti dikutip dari Channelnewsasia, Rabu (9/5/2012).
Tidak diketahui apakah ia akan mengajukan banding atas putusan itu tidak.
Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh tentara AS di Korsel, sudah berulang kali terjadi. Pada November tahun lalu pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada seorang prajurit AS, karena memperkosa seorang gadis berusia 18 tahun di kota Dongducheon, dekat perbatasan dengan Korea Utara.
Dalam kasus terbaru, seorang tentara yang masih berpangkat prajurit, mengajak seorang remaja perempuan minum-minuman keras, dan melecehkannya setelah mabuk.
Diketahui, terdapat, 28.500 tentara AS ditempatkan di Korsel, dan menjadi persoalan baru bagi penduduk Korsel, walau banyak yang melihat kehadiran mereka yang diperlukan untuk mencegah serangan dari Utara.
Prajurit Kevin Robinson, 21, dinyatakan bersalah telah memperkosa seorang perempuan berusia 17 tahun, di rumah gadis itu, Seoul di bulan September, ujar seorang juru bicara pengadilan, seperti dikutip dari Channelnewsasia, Rabu (9/5/2012).
Tidak diketahui apakah ia akan mengajukan banding atas putusan itu tidak.
Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh tentara AS di Korsel, sudah berulang kali terjadi. Pada November tahun lalu pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada seorang prajurit AS, karena memperkosa seorang gadis berusia 18 tahun di kota Dongducheon, dekat perbatasan dengan Korea Utara.
Dalam kasus terbaru, seorang tentara yang masih berpangkat prajurit, mengajak seorang remaja perempuan minum-minuman keras, dan melecehkannya setelah mabuk.
Diketahui, terdapat, 28.500 tentara AS ditempatkan di Korsel, dan menjadi persoalan baru bagi penduduk Korsel, walau banyak yang melihat kehadiran mereka yang diperlukan untuk mencegah serangan dari Utara.
Perkosa Rekan, 13 Petugas Pemadam Kebakaran Ditangkap
Tiga belas petugas pemadam kebakaran Kota Paris, Prancis, pada hari ini, Kamis (10/5/2012), ditahan polisi atas tuduhan memperkosa rekan juniornya.
Serangan seksual itu terjadi, saat mereka baru kembali dari kompetisi senam di Kota Colmar, yang terletak di wilayah Timur Prancis. Saat itu sejumlah anggota pemadam kebakaran senior, melakukan perpeloncoan kepada seorang anggota baru.
Anggota pria itu, diserang secara seksual oleh beberapa anggota pemadam senior, lalu kemudian diperkosa. Ia coba melawan, namun tak mengubah keadaan, karena ia segera dibekuk oleh anggota pemadam kebakaran lainnya.
Para pengamat menilai, insiden itu mengancam reputasi Brigade Pemadam Kebakaran Paris, yang kini 8.500 petugas pria dan wanita. (bbc)
Serangan seksual itu terjadi, saat mereka baru kembali dari kompetisi senam di Kota Colmar, yang terletak di wilayah Timur Prancis. Saat itu sejumlah anggota pemadam kebakaran senior, melakukan perpeloncoan kepada seorang anggota baru.
Anggota pria itu, diserang secara seksual oleh beberapa anggota pemadam senior, lalu kemudian diperkosa. Ia coba melawan, namun tak mengubah keadaan, karena ia segera dibekuk oleh anggota pemadam kebakaran lainnya.
Para pengamat menilai, insiden itu mengancam reputasi Brigade Pemadam Kebakaran Paris, yang kini 8.500 petugas pria dan wanita. (bbc)
Tukang Pijat Mesum Lecehkan 18 Perempuan Pelanggannya
LONDON - Seorang remaja perempuan di Utara Kota London, Inggris, mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari seorang terapis yang memijat tubuhnya.
Dalam persidangan di Pengadilan Southwark, Inggris, Kamis (10/5/2012), gadis itu mengaku dilecehkan oleh Daniel Pytlarz, di Panti Pijat Violet Clinic Body and Skincare Spa. Daniel dan istrinya adalah pemilik panti pijat tersebut.
Awalnya, gadis itu tidak berniat pergi pijat. Namun, karena ibunya sudah menyewa Daniel untuk memijat sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-17, mau tak mau gadis itu pergi ke Violet Clinic.
Setibanya di sana, ia langsung menerima layanan pijat dari Daniel, yang memulai melulurkan scrub ke seluruh tubuhnya.
Ia tidak mengerti pijatan yang ia terima merupakan bagian dari terapi. Namun, lama-lama sang gadis mulai risih, setelah Daniel menyentuh bagian sensitif tubuhnya.
"Saya benar-benar bingung, dia bertanya apakah aku menyukainya, dan aku bilang tidak. Dia berkata, maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda tidak nyaman," ungkap gadis itu, seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (10/5/2012).
Insiden itu, menurut jaksa penuntut umum (JPU) Lesley Jones, terjadi pada 17 September tahun lalu.
Nyatanya, gadis itu bukan korban pertama dari aksi mesum Daniel. Setidaknya, sebanyak 18 perempuan lain yang pernah mendapatkan pijatan Daniel, mengaku mendapat perlakuan serupa.
Menurut Lesley, Daniel mengambil keuntungan dari para perempuan yang menjadi kliennya, saat berbaring telanjang atau setengah telanjang di mejanya.
"Kami telah mendengar istilah-istilah seperti pijat seluruh tubuh, pijat tantra, dan pijat relaksasi yang mendalam. Namun, istilah eufemisme yang digunakan oleh terdakwa hanya untuk menutupi perilaku predatornya," tuturnya.
Daniel dituntut 14 tuduhan terkait pelecehan seksual, dan tujuh tuntutan serangan seksual terhadap 18 perempuan. (*)
Oknum PNS Gadungan Tiduri Siswi SMP
Ilustrasi
KEFAMENANU--YT, oknum PNS Gadungan yang menyamar sebagai petugas pemeriksa keuangan Propinsi NTT ternyata tidak hanya menipu tetapi juga meniduri anak di bawah umur. AK alias melati (14),siswi SMP, warga Desa Haulasi, Kecamatan Miomafo Barat, menjadi korban lelaki yang ditangkap di Terminal Kota Kefamenanu karena terlibat kasus penipuan kepada sejumlah pedagang kecil di daerah itu. Korban terpaksa menyerahkan kehormatanya kepada lelaki pengangguran ini karena diancam dibunuh.
Melati mengaku bertemu pelaku di rumah orang tuanya awal Maret lalu. Saat itu, kata Melati, pelaku datang ke rumah dan mengaku sebagai petugas pemeriksa keuangan. "Waktu itu dia mengaku pegawai pemeriksa keuangan di Atambua. Setelah berkenalan, dia meminta saya menjadi istrinya. Saya terpaksa mau karena dia ancam bunuh saya," kata Melati, Senin (21/5/2012).
Korban mengaku telah berulang kali berhubungan badan dengan pelaku. "Kita sudah berulang kali berhubungan badan. Mulai dari sebelum Paskah sampai sehari sebelum dia ditangkap. Kami melakukannya di rumah orangtua saya karena dia tinggal di rumah orangtua saya. Saya dan orangtua tidak berani melapor ke polisi karena dia ancam bunuh kami semua," ungkap Melati.
Kedua orangtua korban mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi perilaku pelaku karena selalu diancam.
KK, ibu kandung korban mengatakan, mereka takut melaporkan perbuatan YT kepada pihak kepolisian karena takut yang bersangkutan seorang pejabat besar."Dia larang anak saya ikut kegiatan di sekolah. Dia juga suruh anak saya berhenti sekolah. Kasihan anak saya. Dia terpaksa harus kawin padahal anak saya baru kelas satu SMP," demikian KK.
KK sangat khawatir anaknya hamil karena usianya masih sangat mudah. "Kalau bulan ini belum datang bulan berarti anak saya hamil. Dia masih kecil," kata KK.
Kasus ini sedang dalam penanganan Pihak Mapolres TTU. Sedangkan tersangka, YT sudah ditahan sejak pekan lalu karena kasus penipuan. Ketika Melapor ke Mapolres TTU, Melati yang ditemani kedua orangtuanya, petugas fasilitator WVI Kecamatan Miomafo Barat, membawa serta seluruh bukti-bukti mulai dari pakaian tersangka hingga celana dalam korban yang digunting tersangka ketika memaksa korban melakukan hubungan badan.
Kemensos Bina 12 Korban Trafficking
Sambas – Dua belas korban trafficking asal Kabupaten Sambas yang
ditangkap Polres KP3 Tanjung Priok beberapa waktu lalu, hingga sekarang
masih mendapat pembinaan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia
(Kemensos RI) di Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA).
RSPA tersebut terang Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan
Sosial (Disnakertransos) Kabupaten Sambas Arsyad SH MSi, merupakan milik
Kemensos RI.
Dijelaskan Arsyad usai mengikuti Case Conference (CC) penanganan 12 kasus anak korban trafficking asal Kabupaten Sambas belum lama di Jakarta, Kemensos merespons kasus ini. Apalagi acara CC ini dihadiri langsung Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, Ketua DPRD Sambas H Mas’ud Sulaiman, Kadisnakertransos dan Kepala BPP-KB. Selain itu, juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jendral Kementerian Sosial dan beberapa Direktur di lingkungan Kemensos.
“Acara dilanjutkan dengan peninjauan ke RSPA,” kata Arsyad kepada Equator, belum lama ini di Sambas.
Ke-12 korban trafficking berusia 16 hingga 17 tahun, di antaranya Wati binti Asadi, 16, asal Desa penyulung Kecamatan Teluk Keramat, Widiati, 16, Desa Lumbang Kramat Kecamatan Sambas, Monita, 16, Desa Kubung Kecamatan Sambas. Selain itu Lilin Astika, 17, Tuti Handayani, 16, Gustia, 17, Hariati, 16, dan Nurzainah, 16, yang berasal dari Desa Segarau Kecamatan Sambas. Sedangkan Yunita, 17, dari Desa Sepandan Kecamatan Jawai, Dewi, 17, dari Desa Sekuyang Kecamatan Sambas dan Putri Shinta, 16, asal Desa Sekumba Kecamatan Sambas.
Arsyad mengimbau, masyarakat Kabupaten Sambas yang ingin bekerja keluar negeri atau di dalam negeri agar berkoordinasi dengan kepala desa dan instansi terkait, khususnya Disnakertransos.
“Jangan mempekerjakan anak di bawah umur, termasuk di dalam negeri sesuai UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.
Menurut Arsyad, sponsor tenaga kerja yang membawa anak di bawah umur tersebut bernama Hamidah alias Farida alias Ida, yang dibawa oleh A Cong. Para tenaga kerja ini sebelumnya dijanjikan akan dipekerjakan di konveksi dan perusahaan walet milik Aphin dan Hendrik di Jakarta.
“Akibat peristiwa ini, Aphin dan Hendrik ditahan Polisi KP3 Tanjung Priok yang curiga dengan banyaknya anak gadis di kediamannya. Sedangkan A Cong dan Farida masih buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” tandasnya. (edo)
Dijelaskan Arsyad usai mengikuti Case Conference (CC) penanganan 12 kasus anak korban trafficking asal Kabupaten Sambas belum lama di Jakarta, Kemensos merespons kasus ini. Apalagi acara CC ini dihadiri langsung Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, Ketua DPRD Sambas H Mas’ud Sulaiman, Kadisnakertransos dan Kepala BPP-KB. Selain itu, juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jendral Kementerian Sosial dan beberapa Direktur di lingkungan Kemensos.
“Acara dilanjutkan dengan peninjauan ke RSPA,” kata Arsyad kepada Equator, belum lama ini di Sambas.
Ke-12 korban trafficking berusia 16 hingga 17 tahun, di antaranya Wati binti Asadi, 16, asal Desa penyulung Kecamatan Teluk Keramat, Widiati, 16, Desa Lumbang Kramat Kecamatan Sambas, Monita, 16, Desa Kubung Kecamatan Sambas. Selain itu Lilin Astika, 17, Tuti Handayani, 16, Gustia, 17, Hariati, 16, dan Nurzainah, 16, yang berasal dari Desa Segarau Kecamatan Sambas. Sedangkan Yunita, 17, dari Desa Sepandan Kecamatan Jawai, Dewi, 17, dari Desa Sekuyang Kecamatan Sambas dan Putri Shinta, 16, asal Desa Sekumba Kecamatan Sambas.
Arsyad mengimbau, masyarakat Kabupaten Sambas yang ingin bekerja keluar negeri atau di dalam negeri agar berkoordinasi dengan kepala desa dan instansi terkait, khususnya Disnakertransos.
“Jangan mempekerjakan anak di bawah umur, termasuk di dalam negeri sesuai UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.
Menurut Arsyad, sponsor tenaga kerja yang membawa anak di bawah umur tersebut bernama Hamidah alias Farida alias Ida, yang dibawa oleh A Cong. Para tenaga kerja ini sebelumnya dijanjikan akan dipekerjakan di konveksi dan perusahaan walet milik Aphin dan Hendrik di Jakarta.
“Akibat peristiwa ini, Aphin dan Hendrik ditahan Polisi KP3 Tanjung Priok yang curiga dengan banyaknya anak gadis di kediamannya. Sedangkan A Cong dan Farida masih buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” tandasnya. (edo)
Trafficking ke Timur Tengah Digagalkan
Depsos Serahkan 12 Anak ke Pemkab Sambas
“Kedua belas anak ini dipekerjakan dan akan dikirim ke Timur Tengah,”
kata dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, Bupati Sambas, ketika serah
terima dari Depsos.
Kedua belas anak ini sebelumnya diamankan Polres KP3 Tanjung Priok di Jakarta dan selanjutnya dibawa ke penampungan untuk dibina di Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA) milik Kemensos RI.
Menurut Juliarti, begitu mendapat laporan adanya anak umur asal Kabupaten Sambas yang dipekerjakan di Jakarta akan dibawa ke Timur Tengah, Pemkab Sambas cepat merespons. “Kita upayakan ketika itu untuk menjemput anak-anak ini agar dipulangkan ke Kabupaten Sambas,” kata Juliarti.
Tetapi, untuk memulangkannya bukanlah hal mudah dikarenakan banyak prosedur yang harus dilakukan. Makanya difasilitasi Depsos dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos RI. Sebanyak 12 anak itu merupakan warga Kecamatan Sambas, Sebawi dan Kecamatan Teluk Keramat.
“Mereka diamankan aparat hukum di tempat berbeda. Sembilan orang di antaranya ditangkap di Pelabuhan Tanjung Priok, sedangkan sisanya ditangkap petugas saat bekerja di sebuah perusahaan sarang burung walet di Jakarta,” kata Juliarti pada kegiatan yang dihadiri Kadisnakertransos, Kepala BPP-KB, serta keluarga korban dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Sambas.
Mereka yang berhasil diselamatkan dari tindakan bermodus trafficking asal Kecamatan Sambas adalah Widiati binti Aspawi, 16, Lilin Astika binti Iskandar, 17, Tuti Handayani binti Abdul Muin, 15, Gustia binti Juhani, 16, Nirta binti Masa, 16, Dewi binti Durasib, 17, Haryati binti Marto, dan Narzaina binti Karnim.
Sedangkan asal Kecamatan Teluk Keramat antara lain Wati binti Asadi, 15, Monita binti Arbain, 16, dan Putri Shinta binti Burhanudin. Asal Kecamatan Sebawi, Yunita Alias Ayu binti Adi.
Setelah memberikan sambutannya, Juliarti menyalami satu per satu anak tersebut seraya mengingatkan agar berhati-hati menerima pekerjaan dan tidak mudah percaya dengan tawaran yang menggiurkan.
“Sebaiknya lanjutkan sekolah, karena usia adik-adik ini seharusnya masih dalam proses pendidikan,” kata Juliarti.
Ia meminta kepada pihak orangtua untuk memerhatikan pendidikan anak-anaknya. (edo)
Kedua belas anak ini sebelumnya diamankan Polres KP3 Tanjung Priok di Jakarta dan selanjutnya dibawa ke penampungan untuk dibina di Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA) milik Kemensos RI.
Menurut Juliarti, begitu mendapat laporan adanya anak umur asal Kabupaten Sambas yang dipekerjakan di Jakarta akan dibawa ke Timur Tengah, Pemkab Sambas cepat merespons. “Kita upayakan ketika itu untuk menjemput anak-anak ini agar dipulangkan ke Kabupaten Sambas,” kata Juliarti.
Tetapi, untuk memulangkannya bukanlah hal mudah dikarenakan banyak prosedur yang harus dilakukan. Makanya difasilitasi Depsos dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos RI. Sebanyak 12 anak itu merupakan warga Kecamatan Sambas, Sebawi dan Kecamatan Teluk Keramat.
“Mereka diamankan aparat hukum di tempat berbeda. Sembilan orang di antaranya ditangkap di Pelabuhan Tanjung Priok, sedangkan sisanya ditangkap petugas saat bekerja di sebuah perusahaan sarang burung walet di Jakarta,” kata Juliarti pada kegiatan yang dihadiri Kadisnakertransos, Kepala BPP-KB, serta keluarga korban dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Sambas.
Mereka yang berhasil diselamatkan dari tindakan bermodus trafficking asal Kecamatan Sambas adalah Widiati binti Aspawi, 16, Lilin Astika binti Iskandar, 17, Tuti Handayani binti Abdul Muin, 15, Gustia binti Juhani, 16, Nirta binti Masa, 16, Dewi binti Durasib, 17, Haryati binti Marto, dan Narzaina binti Karnim.
Sedangkan asal Kecamatan Teluk Keramat antara lain Wati binti Asadi, 15, Monita binti Arbain, 16, dan Putri Shinta binti Burhanudin. Asal Kecamatan Sebawi, Yunita Alias Ayu binti Adi.
Setelah memberikan sambutannya, Juliarti menyalami satu per satu anak tersebut seraya mengingatkan agar berhati-hati menerima pekerjaan dan tidak mudah percaya dengan tawaran yang menggiurkan.
“Sebaiknya lanjutkan sekolah, karena usia adik-adik ini seharusnya masih dalam proses pendidikan,” kata Juliarti.
Ia meminta kepada pihak orangtua untuk memerhatikan pendidikan anak-anaknya. (edo)
Jangan Pekerjakan Anak Bawah Umur
Yusran berharap para orangtua jeli dan tidak mudah terpengaruh
apabila ada tawaran kerja yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak
jelas statusnya. Apalagi bila anak masih di bawah umur. Kecuali,
tegasnya, ada keterangan khusus dari Dinas Tenaga Kerja dan
disosialisasikan secara langsung.
“Kita harus waspada terhadap mempekerjakan anak di bawah umur. Sehingga kasus trafficking yang mengintai kita dapat diantisipasi,” kata Yusran, belum lama ini.
Dengan adanya kasus pemulangan anak di bawah umur asal Kabupaten Sambas oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos, merupakan peringatan bagi kita agar selalu waspada dan mengingatkan anak-anak untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan bekerja keluar negeri.
“Apabila ada pencari tenaga kerja di Kecamatan Sambas yang menawarkan pekerjaan tanpa surat dari instansi terkait, segera laporkan ke aparat hukum terdekat,” imbaunya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 12 anak di bawah umur dipulangkan ke Kabupaten Sambas. Mereka yang berasal dari Kecamatan Sambas yaitu Widiati binti Aspawi, 16, Lilin Astika binti Iskandar, 17, Tuti Handayani binti Abdul Muin, 15, Gustia binti Juhani, 16, Nirta binti Masa, 16, Dewi binti Durasib, 17, Haryati binti Marto, dan Narzaina binti Karnim.
Sedangkan Wati binti Asadi, 15, Monita binti Arbain, 16, dan Putri Shinta binti Burhanudin dipulangkan ke Kecamatan Teluk Keramat, serta Yunita alias Ayu binti Adi asal Kecamatan Sebawi.
Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH saat acara serah terima 12 anak di bawah umur dari Kemensos pernah mengimbau, masyarakat yang ingin bekerja keluar negeri atau di dalam negeri agar berkoordinasi bersama kepala desa dan instansi terkait, khususnya Disnakertransos.
“Masyarakat maupun perusahaan diminta tidak mempekerjakan anak di bawah umur, baik di dalam negeri sesuai UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sehingga kasus trafficking dapat dicegah dan ditekan. Peran serta masyarakat sangat besar dalam menyampaikan informasi ini,” kata Yusran mengutip pernyataan Bupati Sambas. (edo)
“Kita harus waspada terhadap mempekerjakan anak di bawah umur. Sehingga kasus trafficking yang mengintai kita dapat diantisipasi,” kata Yusran, belum lama ini.
Dengan adanya kasus pemulangan anak di bawah umur asal Kabupaten Sambas oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos, merupakan peringatan bagi kita agar selalu waspada dan mengingatkan anak-anak untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan bekerja keluar negeri.
“Apabila ada pencari tenaga kerja di Kecamatan Sambas yang menawarkan pekerjaan tanpa surat dari instansi terkait, segera laporkan ke aparat hukum terdekat,” imbaunya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 12 anak di bawah umur dipulangkan ke Kabupaten Sambas. Mereka yang berasal dari Kecamatan Sambas yaitu Widiati binti Aspawi, 16, Lilin Astika binti Iskandar, 17, Tuti Handayani binti Abdul Muin, 15, Gustia binti Juhani, 16, Nirta binti Masa, 16, Dewi binti Durasib, 17, Haryati binti Marto, dan Narzaina binti Karnim.
Sedangkan Wati binti Asadi, 15, Monita binti Arbain, 16, dan Putri Shinta binti Burhanudin dipulangkan ke Kecamatan Teluk Keramat, serta Yunita alias Ayu binti Adi asal Kecamatan Sebawi.
Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH saat acara serah terima 12 anak di bawah umur dari Kemensos pernah mengimbau, masyarakat yang ingin bekerja keluar negeri atau di dalam negeri agar berkoordinasi bersama kepala desa dan instansi terkait, khususnya Disnakertransos.
“Masyarakat maupun perusahaan diminta tidak mempekerjakan anak di bawah umur, baik di dalam negeri sesuai UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sehingga kasus trafficking dapat dicegah dan ditekan. Peran serta masyarakat sangat besar dalam menyampaikan informasi ini,” kata Yusran mengutip pernyataan Bupati Sambas. (edo)
Aksi Trafficking NTT Digagalkan di Pontianak
Pontianak – Kepolisian Sektor (Polsek)
Pontianak Utara mengamankan Wel, 30, pelaku yang telah memperdayai
sembilan orang korbannya yang hendak dipekerjakan secara ilegal di
negeri jiran, Malaysia. Aksi trafficking itu digagalkan, Selasa (6/12)
di Jalan Kebangkitan Batu Layang.
“Mereka tidak mempunyai passport untuk berangkat ke Jiran. Satu orang di antaranya sebagai koordinator keberangkatan ke Malaysia. Koordinatornya pernah bekerja selama 2 tahun 7 bulan,” kata Kompol Saiful Alam SIK, Kapolsek Pontianak Utara.
Kesembilan korban adalah Yance, 21, Anacih Vikusa, 25, Jitron, 29, Marten Banu, 30, Danil, 23, Noh, 30, Andreas, 20, I Hudola, 17. “Wel mendapat biaya dari bosnya di Malaysia untuk membawa para korban ini ke Malaysia,” ujar Saiful.
Sembilan orang korban itu membatalkan perjalanannya menuju Malaysia. Sedangkan pelaku mendekam di sel tahanan Mapolsek Pontianak Utara untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.
Dalam aksi itu terungkap tipu daya Wel mengiming-iming upah gaji besar di salah satu perkebunan sawit di Malaysia. Mereka berangkat dari NTT melalui jalur udara tanpa dokumen-dokumen resmi, hingga sampai di Pontianak.
Menurut Saiful, pengungkapan kasus ini hasil laporan masyarakat. “Kita cek TKP. Kemudian langsung menelusuri. Mereka akan bekerja di PT Soing Sarawak Malaysia,” kata dia.
Ketika kepada korban dan pelaku ditanya dokumennya, mereka tidak mempunyai ketentuan-ketentuan yang menyangkut surat-surat imigrasi maupun dinas departemen ketenagakerjaan.
Segala administrasi ditanggung oleh bosnya melalui Wel, termasuk makanan. Nantinya biaya tersebut akan dipotong setelah sembilan korban bekerja. “Ini sangat bahaya. Apabila terjadi yang menyangkut tentang hukum, mereka sulit untuk mendapat pembelaan dari negara Indonesia,” kata Saiful.
Saiful memaparkan, sembilan korban akan dipulangkan ke daerah asalnya. Nantinya akan diberikan penyuluhan terlebih dulu. “Pelaku yang membawanya akan kita kenakan proses sesuai ketentuan pasal 103 huruf C Undang-undang No 9 tahun 2004 tentang persyaratan perlindungan TKI. Ancaman hukuman 5 tahun,” ujarnya. (sul)
“Mereka tidak mempunyai passport untuk berangkat ke Jiran. Satu orang di antaranya sebagai koordinator keberangkatan ke Malaysia. Koordinatornya pernah bekerja selama 2 tahun 7 bulan,” kata Kompol Saiful Alam SIK, Kapolsek Pontianak Utara.
Kesembilan korban adalah Yance, 21, Anacih Vikusa, 25, Jitron, 29, Marten Banu, 30, Danil, 23, Noh, 30, Andreas, 20, I Hudola, 17. “Wel mendapat biaya dari bosnya di Malaysia untuk membawa para korban ini ke Malaysia,” ujar Saiful.
Sembilan orang korban itu membatalkan perjalanannya menuju Malaysia. Sedangkan pelaku mendekam di sel tahanan Mapolsek Pontianak Utara untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.
Dalam aksi itu terungkap tipu daya Wel mengiming-iming upah gaji besar di salah satu perkebunan sawit di Malaysia. Mereka berangkat dari NTT melalui jalur udara tanpa dokumen-dokumen resmi, hingga sampai di Pontianak.
Menurut Saiful, pengungkapan kasus ini hasil laporan masyarakat. “Kita cek TKP. Kemudian langsung menelusuri. Mereka akan bekerja di PT Soing Sarawak Malaysia,” kata dia.
Ketika kepada korban dan pelaku ditanya dokumennya, mereka tidak mempunyai ketentuan-ketentuan yang menyangkut surat-surat imigrasi maupun dinas departemen ketenagakerjaan.
Segala administrasi ditanggung oleh bosnya melalui Wel, termasuk makanan. Nantinya biaya tersebut akan dipotong setelah sembilan korban bekerja. “Ini sangat bahaya. Apabila terjadi yang menyangkut tentang hukum, mereka sulit untuk mendapat pembelaan dari negara Indonesia,” kata Saiful.
Saiful memaparkan, sembilan korban akan dipulangkan ke daerah asalnya. Nantinya akan diberikan penyuluhan terlebih dulu. “Pelaku yang membawanya akan kita kenakan proses sesuai ketentuan pasal 103 huruf C Undang-undang No 9 tahun 2004 tentang persyaratan perlindungan TKI. Ancaman hukuman 5 tahun,” ujarnya. (sul)
Dua Nak Dare Sambas Gagal Dijual
Ngabang – Jajaran Polres Landak menggagalkan penjualan tenaga kerja
ilegal ke Malaysia. Terungkapnya kasus trafficking tersebut ketika
petugas melakukan razia kendaraan di depan Mapolres Landak, Kamis
(24/11).
Dua tenaga kerja wanita (TKW) asal Sekura, Kabupaten Sambas, berhasil
digagalkan dalam operasi tersebut. TKW tersebut berinisial MU, 18, dan
RP, 18, yang akan dibawa menuju Malaysia sebagai tenaga kerja. Kedua
wanita tersebut dikirim Aris Muhamad Taruna bekerja sama dengan A Cin
warga Seriaman, Malaysia.
Menurut pangkuan Aris, dia disuruh mencari tenaga kerja wanita dengan upah cukup besar. Satu kepala Aris akan diberi 1.000 ringgit. Di samping itu semua biaya dari pembuatan KTP dan paspor kedua tenaga kerja tersebut dibiayai A Cin. “Kita masih melakukan penyelidikan terhadap Aris,” kata AKP Andi Oddang SIk, Kasat Reskrim Polres Landak, Kamis (24/11).
Dikatakan Aris, kedua TKW, MU dan RP yang dibawanya akan digaji 550 ringgit per bulan. Sedangkan Aris akan mendapatkan untung satu kepala 500 ringgit di luar biaya administrasi.
MU dan RP akan dipulangkan kepada orangtuanya di Sekura apabila selesai dilakukan pemeriksaan. Untuk sementara kedua wanita tersebut masih diamankan di Polres Landak.
“Saat ini kami masih melakukan penyelidikan secara intensif guna melacak kasus ini. Karena masih ada pelaku lain yang masih berkeliaran. Saya berharap agar pihak-pihak yang membuat paspor dan KTP lebih selektif lagi, sehingga tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu,” tegas Andi. (tar)
Menurut pangkuan Aris, dia disuruh mencari tenaga kerja wanita dengan upah cukup besar. Satu kepala Aris akan diberi 1.000 ringgit. Di samping itu semua biaya dari pembuatan KTP dan paspor kedua tenaga kerja tersebut dibiayai A Cin. “Kita masih melakukan penyelidikan terhadap Aris,” kata AKP Andi Oddang SIk, Kasat Reskrim Polres Landak, Kamis (24/11).
Dikatakan Aris, kedua TKW, MU dan RP yang dibawanya akan digaji 550 ringgit per bulan. Sedangkan Aris akan mendapatkan untung satu kepala 500 ringgit di luar biaya administrasi.
MU dan RP akan dipulangkan kepada orangtuanya di Sekura apabila selesai dilakukan pemeriksaan. Untuk sementara kedua wanita tersebut masih diamankan di Polres Landak.
“Saat ini kami masih melakukan penyelidikan secara intensif guna melacak kasus ini. Karena masih ada pelaku lain yang masih berkeliaran. Saya berharap agar pihak-pihak yang membuat paspor dan KTP lebih selektif lagi, sehingga tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu,” tegas Andi. (tar)
Langganan:
Postingan (Atom)