Lihatlah,
anak-anak itu berlarian berebut ke kaca mobil. Mereka menadahkan tangan
mengharap belas si pengemudi. Hampir setiap malam perempatan traffic
light Jalan Pahlawan-Tanjungpura dan Imam Bonjol, itu dihiasi anak-anak
mengemis. Padahal malam sudah larut.
Mereka, anak lelaki dan perempuan mungkin putus sekolah. Bisa jadi
masih sekolah. Boleh jadi pula mereka disuruh orang tuanya mengemis.
Atau inisiatifnya sendiri memperoleh uang gampang. Yang paling
mengerikan, kalau akhirnya mereka hanyut ikutan beli lem.
Dalam penggerebekan yang kesekian kalinya oleh Polsekta Pontianak
Utara dan Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Kalbar pekan lalu di
Pemakaman Tionghoa Pontianak Utara, kondisinya menyedihkan. Bahkan
sangat memilukan hati.
Puluhan mereka asyik berkumpul kelompok per kelompok. Sedikitnya satu
kelompok lima orang. Mereka memasukkan hidung ke kantong plastik,
menghirup dalam-dalam bau lem hingga ke paru-paru, sampai terasa ke
otak!
Ada yang sudah teler terbaring dengan mata sulit dibuka, hanya kaki
dan tangan bergerak pelan. Lebih gila lagi, ada kelompok yang bercinta.
Aduh, mereka di bawah umur, anak belasan tahun baru gede. Mereka ada
yang masih sekolah dan juga putus sekolah.
Ketika digiring ke Mapolsek, beberapa anak sudah tak sadarkan diri
tenggelam dalam aroma lem yang menyengat. Polisi dan pengurus YNDN
Kalbar pun sibuk memilah mereka untuk pemeriksaan lanjutan bersama
polisi.
Ketika mulai sadar dari pengaruh lem, dalam pemeriksaan awal,
sejumlah anak yang terjaring mengakui mengisap lem itu berawal dari
coba-coba. Diawali dengan nongkrong sepulang sekolah, lalu dibujuk,
dirayu, diajak bahkan ditantang kawan-kawan bagaimana rasanya menghirup
lem.
Sebut saja si Komeng (bukan nama sebenarnya). Anak usia 13 tahun ini
setelah coba menyedot lem mengaku macam-macam. “Agak pusing dan pikiran
melayang dan rasa khayal yang tinggi,” tuturnya.
Menurut rata-rata mereka, ada efek yang tidak jelas dialami ketika
mengisap bau lem. Setelah itu ingin lagi. Mereka minta uang jajan agak
banyak atau mengemis bagi anak keluarga miskin, akhirnya mengisap lem
terjadi berulang-ulang kali malamnya.
“Saya coba-coba mengisap lem karena melihat teman, jadi saya coba dan
ingin tahu rasanya. Waktu mengisap, ada rasa yang tidak jelas yang saya
rasakan. Pusing, ngambang, dan ketika mengisap terus saya bisa mengkhayal,” ungkap Popy (nama samaran) yang masih bawah umur dan putus sekolah.
Puluhan anak-anak itu bisa bebas berkumpul dan berbuat apa saja.
Mereka sudah tergantung pada lem. Tak ada yang melarang, bertahun tiada
yang mengawasi, inilah dunia kelam mereka yang berbinar khayal, asyik.
“Di sana itu kami merasa bebas melakukan apa pun. Mau ini mau itu
tidak ada yang mencegah dan melarang, jadi kami pun kumpul setiap
harinya. Malahan kami sering bermalam di tempat kami berkumpul,” ungkap
Popy lagi.
Celakanya, akhirnya mereka malas dan enggan pergi ke sekolah. Turun
dari rumah, bawa buku, minta uang jajan, dan tujuannya ke tempat
berkumpul. Lainnya tak penting, yang penting kumpul sama teman-teman dan
ngelem, ngesek, ngepop juga (break-dance dan joget).
“Saya putus sekolah karena saya menjaga adik. Karena waktu itu ibu
saya baru melahirkan. Untuk menghibur diri saya kumpul bersama
teman-teman. Kumpul dan ngelem sudah menjadi kebiasaan saya,” tutur
gadis mungil Popy.
Ditambah telan DMP dan Code-in
Dari keterangan beberapa korban lem, tak jarang dan bahkan kerap,
ketika sudah ngelem dengan dosis tinggi juga diselingi dengan obat
anjing, yakni DMP dan Code-in (anti alergi dan penenang).
“Kami kalau sudah menelan obat itu langsung berhalusinasi. Seperti
kami ini tak jejak saat berjalan di tanah kalau sudah makan pil itu.
Tapi harus ada campurannya,” ungkap Lolipop (bukan nama sebenarnya).
Gilanya, menurut pengakuan Lolipop, pil DMP dan Code-in biasanya
dicampur dengan arak dan Adem Sari. “Kadang pil itu sampai ratusan yang
dicampurnya. Kalau minumnya sikit-sikit. Kadang juga kami ini
sekitar belasan menggunakannya di kuburan itu. Kalau dosisnya kurang,
pil itu kawan kami tambah, agar cepat bereaksi,” ungkapnya.
Lolipop mengaku tak hanya di pemakaman saja, banyak tempat dijadikan
tempat ngumpul. Bahkan teman-teman pernah minta uang sama petugas
Jembatan Timbang, kemudian dibelikan lem lagi.
“Di sana itu ada namanya Anton, dia ini tukang belikan kami pil DMP
dan Code-in. Kemudian kami bersama-sama minum obat itu, ditambah lagi
ngelem dan lain sebagainya. Jadi ini faktanya bahwa saya tidak berdua
dengan Popy saja,” tegas Lolipop yang protes pernyataan Walikota
Sutarmidji di teve lokal, lantaran disebut hanya mereka berdua saja yang
ngelem, ngesek, ngobat.
Bahkan Popy mengaku sudah dua kali berhubungan badan di pemakaman
tersebut dan tempat lain juga yang dilakukan dengan orang yang berbeda.
“Saya ini pernah mabuk lem. Kemudian saya dalam keadaan tidak sadar
saya disetubuhi bapak-bapak yang lagi sabung ayam. Kemudian saya ini
puas bermalam di sana. Jadi saya tahu kondisi di sana itu seperti apa.
Jadi jangan bilang hanya dua anak saja. Anak-anak di sana itu banyak,
baik pagi, sore, dan malam,” ungkap Popy.
Setelah dalam rangkulan YNDN Kalbar, Popy dan Lolipop mengaku telah
sadar, telah merusak diri, merusak kesehatan. “Kami berharap bisa
sekolah lagi, karena kami juga mempunyai cita-cita.”
Di tempat terpisah, Rakyat Kalbar ngobrol dengan tiga anak yang
kedapatan sedang pesta mengisap lem dan ketiganya dalam pengaruh lem.
Mereka adalah Td, 14, putus sekolah. Kemudian RD, 14, siswa SD, dan AN,
15, siswa SMK di Pontianak Utara.
TD biasa ngelem di area kuburan. Bahkan biasa tidur di situ hampir
setiap malam. “Tadi saya mau baring habis ngelem lalu ada polisi nangkap
kami. Saya jarang pulang ke rumah, karena ibu dan bapak sudah bercerai
dan semuanya nikah lagi,” ungkapnya perih terbata-bata.
TD mengaku kenal Popy dan Lolipop yang juga berusia 14 tahun kini
diamankan polisi malam sebelumnya saat razia. Ia juga mengaku biasa
menginap bersama namun tidak pernah melakukan seks.
“Saya hanya ngelem dan tidak melakukan seks, tapi yang biasa saya
lihat banyak orang-orang yang lebih besar yang biasa melakukan seks di
kuburan termasuk si Lolipop,” katanya.
Beda dengan AN, dia mengaku minum minuman keras di lokasi tersebut.
Dia mengaku banyak masalah dalam keluarganya. “Saya masih sekolah di SMK
dan kami biasa kumpul-kumpul di kuburan dengan teman-teman,” ujarnya.