Ucapan

SELAMAT DATANG DI BLOG SUARA ENGGANG POST!

Selasa, 22 Mei 2012

Calon Bidan dan Pemerkosanya akan Menikah

 

Calon Bidan dan Pemerkosanya akan Menikah
net
ilustrasi

JAKARTA -Akibat suka sama suka hingga berhubungan badan, lalu membuat laporan palsu ke polisi dengan mengaku diperkosa, JM  dan SU direncanakan akan melangsungkan pernikahan seusai laporan JM terkait dugaan pemerkosaan dicabut.
Demikian dikatakan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, saat dihubungi Senin (30/1/2012).
"Rencananya, JM akan segera cabut laporannya itu,  dan keluarga berencana segera menikahkan mereka dalam waktu dekat," ucap Budi.
Budi menjelaskan, laporan palsu JM tidak lagi jadi tanggung jawab pihak kepolisian. Budi pun mengaku kini pihaknya tengah berbalik mencari pasal yang bisa dijerat kepada JM karena  laporan palsunya.
Dia menambahkan, untuk menjerat JM dengan pasal laporan palsu, tentu  harus ada pihak yang  dirugikan terkait laporan itu. Namun dalam laporan itu, pihak JM tidak menyebutkan nama siapa dugaan pelaku pemerkosaan.
"Bisa saja JM kami jerat, asalkan SU merasa dirugikan dengan laporan palsu JM," tambah Budi.(*)

JM dan Pemerkosanya Ternyata Sudah Kenal di Facebook


JM dan Pemerkosanya Ternyata Sudah Kenal di Facebook
NET
Ilustrasi. 
 

JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto menuturkan JM  pertama kali berkenalan dengan Iwing melalui situs jejaring sosial Facebook lewat  teman JM.
"Jadi mereka itu sebelumnya chatting dengan temannya. Lalu  ada temannya sekampung di kontak facebooknya, kemudian mereka tukar nomor hp dan setelah itu keduanya bertemu," kata Rikwanto.
Kemudian Rikwanto menjelaskan setelah bertemu,  JM dan Iwing pun berjalan-jalan ke Situ Gintung, dan kemudian pergi menuju ke rumah kos rekan JM di kawasan Ciputat.
"Nah, di sanalah persetubuhan antara JM dan Iwing dimulai. Mereke menuju ke kosannya kemudian yngg punya kosannya pergi di sana dilakukan persetubuhan dalam satu malam," kata Rikwanto.
Lebih lanjut, menurut keterangan pelaku yang juga mahasiswa di salah satu Universitas di Jakarta ini, ia lakukan persetubuhan di dalam kosan  sebanyak 4 kali.
Keterangan pelaku pun sangat jauh berbeda ini jauh dengan laporan JM yang mengatakan ia diperkosa di pinggir rel di kawasan Kebayoran Lama, oleh lima orang laki- laki.
Menanggapi hal ini Rikwanto mengaku akan menunggu konfirmasi dari JM usai JM kondisinya membaik setelah dirawat di Rumah Sakit.

Perkosa Remaja Korsel, Tentara AS Dihukum 10 Tahun


Perkosa Remaja Korsel, Tentara AS Dihukum 10 Tahun
net
ilustrasi
Seorang tentara Amerika Serikat (AS), dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun oleh Pengadilan Seoul, karena memperkosa seorang gadis remaja, pada tahun lalu.

Prajurit Kevin Robinson, 21, dinyatakan bersalah telah memperkosa seorang perempuan berusia 17 tahun, di rumah gadis itu, Seoul di bulan September, ujar seorang juru bicara pengadilan, seperti dikutip dari Channelnewsasia, Rabu (9/5/2012).

Tidak diketahui apakah ia akan mengajukan banding atas putusan itu tidak.

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh tentara AS di Korsel, sudah berulang kali terjadi. Pada November tahun lalu pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada seorang prajurit AS, karena memperkosa seorang gadis berusia 18 tahun di kota Dongducheon, dekat perbatasan dengan Korea Utara.

Dalam kasus terbaru, seorang tentara yang masih berpangkat prajurit, mengajak seorang remaja perempuan minum-minuman keras, dan melecehkannya setelah mabuk.

Diketahui, terdapat, 28.500
tentara AS ditempatkan di Korsel, dan menjadi persoalan baru bagi penduduk Korsel, walau banyak yang melihat kehadiran mereka yang diperlukan untuk mencegah serangan dari Utara.

Perkosa Rekan, 13 Petugas Pemadam Kebakaran Ditangkap



Tiga belas petugas pemadam kebakaran Kota Paris, Prancis, pada hari ini, Kamis (10/5/2012), ditahan polisi atas tuduhan memperkosa rekan juniornya.

Serangan seksual itu terjadi, saat mereka baru kembali dari kompetisi senam di Kota Colmar, yang terletak di wilayah Timur Prancis. Saat itu sejumlah anggota pemadam kebakaran senior, melakukan perpeloncoan kepada seorang anggota baru.

Anggota pria itu, diserang secara seksual oleh beberapa anggota pemadam senior, lalu kemudian diperkosa. Ia coba melawan, namun tak mengubah keadaan, karena ia segera dibekuk oleh anggota pemadam kebakaran lainnya.
Para pengamat menilai, insiden itu mengancam reputasi Brigade Pemadam Kebakaran Paris, yang kini 8.500 petugas pria dan wanita. (bbc)

Tukang Pijat Mesum Lecehkan 18 Perempuan Pelanggannya


Tukang Pijat Mesum Lecehkan 18 Perempuan Pelanggannya


LONDON - Seorang remaja perempuan di Utara Kota London, Inggris, mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari seorang terapis yang memijat tubuhnya.
Dalam persidangan di Pengadilan Southwark, Inggris, Kamis (10/5/2012), gadis itu mengaku dilecehkan oleh Daniel Pytlarz, di Panti Pijat Violet Clinic Body and Skincare Spa. Daniel dan istrinya adalah pemilik panti pijat tersebut.
Awalnya, gadis itu tidak berniat pergi pijat. Namun, karena ibunya sudah menyewa Daniel untuk memijat sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-17, mau tak mau gadis itu pergi ke Violet Clinic.
Setibanya di sana, ia langsung menerima layanan pijat dari Daniel, yang memulai melulurkan scrub ke seluruh tubuhnya.
Ia tidak mengerti pijatan yang ia terima merupakan bagian dari terapi. Namun, lama-lama sang gadis mulai risih, setelah Daniel menyentuh bagian sensitif tubuhnya.
"Saya benar-benar bingung, dia bertanya apakah aku menyukainya, dan aku bilang tidak. Dia berkata, maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda tidak nyaman," ungkap gadis itu, seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (10/5/2012).
Insiden itu, menurut jaksa penuntut umum (JPU) Lesley Jones, terjadi pada 17 September tahun lalu.
Nyatanya, gadis itu bukan korban pertama dari aksi mesum Daniel. Setidaknya, sebanyak 18 perempuan lain yang pernah mendapatkan pijatan Daniel, mengaku mendapat perlakuan serupa.
Menurut Lesley, Daniel mengambil keuntungan dari para perempuan yang menjadi kliennya, saat berbaring telanjang atau setengah telanjang di mejanya.
"Kami telah mendengar istilah-istilah seperti pijat seluruh tubuh, pijat tantra, dan pijat relaksasi yang mendalam. Namun, istilah eufemisme yang digunakan oleh terdakwa hanya untuk menutupi perilaku predatornya," tuturnya.
Daniel dituntut 14 tuduhan terkait pelecehan seksual, dan tujuh tuntutan serangan seksual terhadap 18 perempuan. (*)

Oknum PNS Gadungan Tiduri Siswi SMP

Oknum PNS Gadungan Tiduri Siswi SMP

Ilustrasi





KEFAMENANU--YT, oknum PNS Gadungan yang menyamar sebagai petugas pemeriksa keuangan Propinsi NTT ternyata tidak hanya menipu tetapi juga meniduri anak di bawah umur. AK alias melati  (14),siswi SMP,  warga Desa Haulasi, Kecamatan Miomafo Barat, menjadi korban lelaki yang ditangkap di Terminal Kota Kefamenanu karena terlibat kasus penipuan kepada sejumlah pedagang kecil di daerah itu. Korban terpaksa menyerahkan kehormatanya kepada lelaki pengangguran ini  karena diancam dibunuh.
Melati mengaku bertemu pelaku  di rumah orang tuanya awal Maret lalu. Saat itu, kata Melati, pelaku datang ke rumah dan mengaku sebagai petugas pemeriksa keuangan.  "Waktu itu dia mengaku pegawai pemeriksa keuangan di Atambua. Setelah berkenalan, dia meminta saya menjadi istrinya. Saya terpaksa mau karena dia ancam bunuh saya," kata Melati, Senin (21/5/2012).
Korban mengaku telah berulang kali berhubungan badan dengan pelaku. "Kita sudah berulang kali berhubungan badan. Mulai dari sebelum Paskah sampai sehari sebelum dia ditangkap. Kami melakukannya di rumah orangtua saya karena dia tinggal di rumah orangtua saya. Saya dan orangtua tidak berani melapor ke polisi karena dia ancam bunuh kami semua," ungkap Melati.
Kedua orangtua korban mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi perilaku pelaku karena selalu diancam.
KK,  ibu kandung korban mengatakan, mereka takut melaporkan perbuatan YT kepada pihak kepolisian karena takut yang bersangkutan seorang pejabat besar."Dia larang anak saya ikut kegiatan di sekolah. Dia juga suruh anak saya berhenti sekolah. Kasihan anak saya. Dia terpaksa harus kawin padahal anak saya baru kelas satu SMP," demikian KK.
KK sangat khawatir anaknya hamil karena usianya masih sangat mudah. "Kalau bulan ini belum datang bulan berarti anak saya hamil. Dia masih kecil," kata KK.
Kasus ini sedang dalam penanganan Pihak Mapolres TTU. Sedangkan tersangka, YT sudah ditahan sejak pekan lalu karena kasus penipuan. Ketika Melapor ke Mapolres TTU, Melati yang ditemani kedua orangtuanya, petugas fasilitator WVI Kecamatan Miomafo Barat, membawa serta seluruh bukti-bukti mulai dari pakaian tersangka hingga celana dalam korban yang digunting  tersangka ketika memaksa korban melakukan hubungan badan.

Kemensos Bina 12 Korban Trafficking

Sambas – Dua belas korban trafficking asal Kabupaten Sambas yang ditangkap Polres KP3 Tanjung Priok beberapa waktu lalu, hingga sekarang masih mendapat pembinaan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) di Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA).
RSPA tersebut terang Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Kabupaten Sambas Arsyad SH MSi, merupakan milik Kemensos RI.
Dijelaskan Arsyad usai mengikuti Case Conference (CC) penanganan 12 kasus anak korban trafficking asal Kabupaten Sambas belum lama di Jakarta, Kemensos merespons kasus ini. Apalagi acara CC ini dihadiri langsung Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, Ketua DPRD Sambas H Mas’ud Sulaiman, Kadisnakertransos dan Kepala BPP-KB. Selain itu, juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jendral Kementerian Sosial dan beberapa Direktur di lingkungan Kemensos.
“Acara dilanjutkan dengan peninjauan ke RSPA,” kata Arsyad kepada Equator, belum lama ini di Sambas.
Ke-12 korban trafficking berusia 16 hingga 17 tahun, di antaranya Wati binti Asadi, 16, asal Desa penyulung Kecamatan Teluk Keramat, Widiati, 16, Desa Lumbang Kramat Kecamatan Sambas, Monita, 16, Desa Kubung Kecamatan Sambas. Selain itu Lilin Astika, 17, Tuti Handayani, 16, Gustia, 17, Hariati, 16, dan Nurzainah, 16, yang berasal dari Desa Segarau Kecamatan Sambas. Sedangkan Yunita, 17, dari Desa Sepandan Kecamatan Jawai, Dewi, 17, dari Desa Sekuyang Kecamatan Sambas dan Putri Shinta, 16, asal Desa Sekumba Kecamatan Sambas.
Arsyad mengimbau, masyarakat Kabupaten Sambas yang ingin bekerja keluar negeri atau di dalam negeri agar berkoordinasi dengan kepala desa dan instansi terkait, khususnya Disnakertransos.
“Jangan mempekerjakan anak di bawah umur, termasuk di dalam negeri sesuai UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.
Menurut Arsyad, sponsor tenaga kerja yang membawa anak di bawah umur tersebut bernama Hamidah alias Farida alias Ida, yang dibawa oleh A Cong. Para tenaga kerja ini sebelumnya dijanjikan akan dipekerjakan di konveksi dan perusahaan walet milik Aphin dan Hendrik di Jakarta.
“Akibat peristiwa ini, Aphin dan Hendrik ditahan Polisi KP3 Tanjung Priok yang curiga dengan banyaknya anak gadis di kediamannya. Sedangkan A Cong dan Farida masih buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” tandasnya. (edo)

Trafficking ke Timur Tengah Digagalkan

Depsos Serahkan 12 Anak ke Pemkab Sambas

Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH
Muhammad Ridho
Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH menandatangani serah terima anak di bawah umur yang dipekerjakan asal Kabupaten Sambas dari Kemensos RI, Selasa (15/11)
 
Sambas – Departemen Sosial (Depsos) RI melalui Depsos Provinsi Kalbar dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos beserta rombongan menyerahkan 12 anak perempuan di bawah umur yang merupakan korban trafficking kepada Pemkab Sambas, Selasa (15/11) di Aula Kantor Bupati Sambas.
“Kedua belas anak ini dipekerjakan dan akan dikirim ke Timur Tengah,” kata dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, Bupati Sambas, ketika serah terima dari Depsos.
Kedua belas anak ini sebelumnya diamankan Polres KP3 Tanjung Priok di Jakarta dan selanjutnya dibawa ke penampungan untuk dibina di Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA) milik Kemensos RI.
Menurut Juliarti, begitu mendapat laporan adanya anak umur asal Kabupaten Sambas yang dipekerjakan di Jakarta akan dibawa ke Timur Tengah, Pemkab Sambas cepat merespons. “Kita upayakan ketika itu untuk menjemput anak-anak ini agar dipulangkan ke Kabupaten Sambas,” kata Juliarti.
Tetapi, untuk memulangkannya bukanlah hal mudah dikarenakan banyak prosedur yang harus dilakukan. Makanya difasilitasi Depsos dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos RI. Sebanyak 12 anak itu merupakan warga Kecamatan Sambas, Sebawi dan Kecamatan Teluk Keramat.
“Mereka diamankan aparat hukum di tempat berbeda. Sembilan orang di antaranya ditangkap di Pelabuhan Tanjung Priok, sedangkan sisanya ditangkap petugas saat bekerja di sebuah perusahaan sarang burung walet di Jakarta,” kata Juliarti pada kegiatan yang dihadiri Kadisnakertransos, Kepala BPP-KB, serta keluarga korban dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Sambas.
Mereka yang berhasil diselamatkan dari tindakan bermodus trafficking asal Kecamatan Sambas adalah Widiati binti Aspawi, 16, Lilin Astika binti Iskandar, 17, Tuti Handayani binti Abdul Muin, 15, Gustia binti Juhani, 16, Nirta binti Masa, 16, Dewi binti Durasib, 17, Haryati binti Marto, dan Narzaina binti Karnim.
Sedangkan asal Kecamatan Teluk Keramat antara lain Wati binti Asadi, 15, Monita binti Arbain, 16, dan Putri Shinta binti Burhanudin. Asal Kecamatan Sebawi, Yunita Alias Ayu binti Adi.
Setelah memberikan sambutannya, Juliarti menyalami satu per satu anak tersebut seraya mengingatkan agar berhati-hati menerima pekerjaan dan tidak mudah percaya dengan tawaran yang menggiurkan.
“Sebaiknya lanjutkan sekolah, karena usia adik-adik ini seharusnya masih dalam proses pendidikan,” kata Juliarti.
Ia meminta kepada pihak orangtua untuk memerhatikan pendidikan anak-anaknya. (edo)

Jangan Pekerjakan Anak Bawah Umur

Camat Sambas Yusran, Bupati Sambas Juliarti Djuhardi Alwi
Muhammad Ridho
Camat Sambas Yusran di hadapan Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, berjanji mensosialisasikan bahaya trafficking dalam setiap kegiatan di wilayah kerjanya
 
Sambas – Camat Sambas Yusran SSos mengimbau masyarakat agar tidak mengizinkan anaknya yang masih di bawah umur untuk bekerja. Ajakan ini disampaikan menyikapi keberhasilan Polsek KP3 Tanjung Priok menggagalkan pengiriman 12 anak perempuan yang diduga akan dipekerjakan keluar negeri.
Yusran berharap para orangtua jeli dan tidak mudah terpengaruh apabila ada tawaran kerja yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak jelas statusnya. Apalagi bila anak masih di bawah umur. Kecuali, tegasnya, ada keterangan khusus dari Dinas Tenaga Kerja dan disosialisasikan secara langsung.
“Kita harus waspada terhadap mempekerjakan anak di bawah umur. Sehingga kasus trafficking yang mengintai kita dapat diantisipasi,” kata Yusran, belum lama ini.
Dengan adanya kasus pemulangan anak di bawah umur asal Kabupaten Sambas oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Kemensos, merupakan peringatan bagi kita agar selalu waspada dan mengingatkan anak-anak untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan bekerja keluar negeri.
“Apabila ada pencari tenaga kerja di Kecamatan Sambas yang menawarkan pekerjaan tanpa surat dari instansi terkait, segera laporkan ke aparat hukum terdekat,” imbaunya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 12 anak di bawah umur dipulangkan ke Kabupaten Sambas. Mereka yang berasal dari Kecamatan Sambas yaitu Widiati binti Aspawi, 16, Lilin Astika binti Iskandar, 17, Tuti Handayani binti Abdul Muin, 15, Gustia binti Juhani, 16, Nirta binti Masa, 16, Dewi binti Durasib, 17, Haryati binti Marto, dan Narzaina binti Karnim.
Sedangkan Wati binti Asadi, 15, Monita binti Arbain, 16, dan Putri Shinta binti Burhanudin dipulangkan ke Kecamatan Teluk Keramat, serta Yunita alias Ayu binti Adi asal Kecamatan Sebawi.
Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH saat acara serah terima 12 anak di bawah umur dari Kemensos pernah mengimbau, masyarakat yang ingin bekerja keluar negeri atau di dalam negeri agar berkoordinasi bersama kepala desa dan instansi terkait, khususnya Disnakertransos.
“Masyarakat maupun perusahaan diminta tidak mempekerjakan anak di bawah umur, baik di dalam negeri sesuai UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sehingga kasus trafficking dapat dicegah dan ditekan. Peran serta masyarakat sangat besar dalam menyampaikan informasi ini,” kata Yusran mengutip pernyataan Bupati Sambas. (edo)

Aksi Trafficking NTT Digagalkan di Pontianak

Sembilan orang korban trafficking asal NTT dibawa ke Polsek Pontianak Utara
sembilan orang korban trafficking asal NTT dibawa ke Polsek Pontianak Utara, Selasa (6/12)
 
Pontianak – Kepolisian Sektor (Polsek) Pontianak Utara mengamankan Wel, 30, pelaku yang telah memperdayai sembilan orang korbannya yang hendak dipekerjakan secara ilegal di negeri jiran, Malaysia. Aksi trafficking itu digagalkan, Selasa (6/12) di Jalan Kebangkitan Batu Layang.
“Mereka tidak mempunyai passport untuk berangkat ke Jiran. Satu orang di antaranya sebagai koordinator keberangkatan ke Malaysia. Koordinatornya pernah bekerja selama 2 tahun 7 bulan,” kata Kompol Saiful Alam SIK, Kapolsek Pontianak Utara.
Kesembilan korban adalah Yance, 21, Anacih Vikusa, 25, Jitron, 29, Marten Banu, 30, Danil, 23, Noh, 30, Andreas, 20, I Hudola, 17. “Wel mendapat biaya dari bosnya di Malaysia untuk membawa para korban ini ke Malaysia,” ujar Saiful.
Sembilan orang korban itu membatalkan perjalanannya menuju Malaysia. Sedangkan pelaku mendekam di sel tahanan Mapolsek Pontianak Utara untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.
Dalam aksi itu terungkap tipu daya Wel mengiming-iming upah gaji besar di salah satu perkebunan sawit di Malaysia. Mereka berangkat dari NTT melalui jalur udara tanpa dokumen-dokumen resmi, hingga sampai di Pontianak.
Menurut Saiful, pengungkapan kasus ini hasil laporan masyarakat. “Kita cek TKP. Kemudian langsung menelusuri. Mereka akan bekerja di PT Soing Sarawak Malaysia,” kata dia.
Ketika kepada korban dan pelaku ditanya dokumennya, mereka tidak mempunyai ketentuan-ketentuan yang menyangkut surat-surat imigrasi maupun dinas departemen ketenagakerjaan.
Segala administrasi ditanggung oleh bosnya melalui Wel, termasuk makanan. Nantinya biaya tersebut akan dipotong setelah sembilan korban bekerja. “Ini sangat bahaya. Apabila terjadi yang menyangkut tentang hukum, mereka sulit untuk mendapat pembelaan dari negara Indonesia,” kata Saiful.
Saiful memaparkan, sembilan korban akan dipulangkan ke daerah asalnya. Nantinya akan diberikan penyuluhan terlebih dulu. “Pelaku yang membawanya akan kita kenakan proses sesuai ketentuan pasal 103 huruf C Undang-undang No 9 tahun 2004 tentang persyaratan perlindungan TKI. Ancaman hukuman 5 tahun,” ujarnya. (sul)

Dua Nak Dare Sambas Gagal Dijual

Ngabang – Jajaran Polres Landak menggagalkan penjualan tenaga kerja ilegal ke Malaysia. Terungkapnya kasus trafficking tersebut ketika petugas melakukan razia kendaraan di depan Mapolres Landak, Kamis (24/11).
Dua tenaga kerja wanita (TKW) asal Sekura, Kabupaten Sambas, berhasil digagalkan dalam operasi tersebut. TKW tersebut berinisial MU, 18, dan RP, 18, yang akan dibawa menuju Malaysia sebagai tenaga kerja. Kedua wanita tersebut dikirim Aris Muhamad Taruna bekerja sama dengan A Cin warga Seriaman, Malaysia.
Menurut pangkuan Aris, dia disuruh mencari tenaga kerja wanita dengan upah cukup besar. Satu kepala Aris akan diberi 1.000 ringgit. Di samping itu semua biaya dari pembuatan KTP dan paspor kedua tenaga kerja tersebut dibiayai A Cin. “Kita masih melakukan penyelidikan terhadap Aris,” kata AKP Andi Oddang SIk, Kasat Reskrim Polres Landak, Kamis (24/11).
Dikatakan Aris, kedua TKW, MU dan RP yang dibawanya akan digaji 550 ringgit per bulan. Sedangkan Aris akan mendapatkan untung satu kepala 500 ringgit di luar biaya administrasi.
MU dan RP akan dipulangkan kepada orangtuanya di Sekura apabila selesai dilakukan pemeriksaan. Untuk sementara kedua wanita tersebut masih diamankan di Polres Landak.
“Saat ini kami masih melakukan penyelidikan secara intensif guna melacak kasus ini. Karena masih ada pelaku lain yang masih berkeliaran. Saya berharap agar pihak-pihak yang membuat paspor dan KTP lebih selektif lagi, sehingga tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu,” tegas Andi. (tar)

Kondisi Memburuk, Dirujuk ke Soedarso

Tidak Ada Kejelasan dengan Imigrasi
 
Sera terbaring lemas di RSUD Soedarso
Syamsul Arifin
Sera terbaring lemas di RSUD Soedarso
 
Pontianak – Melihat kondisi kesehatan Sera, 17, semakin memburuk, Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) dan Dinas Sosial (Dinsos) Kalbar membawanya ke RSUD Soedarso.
TKW yang diduga menjadi korban kekerasan seksual di Malaysia itu kini harus menjalani pengobatan serius di RSUD Soedarso. Sera diduga menderita penyakit TBC. Tubuhnya lemas dan tidak berdaya. Sebelumnya wanita tersebut dirawat di Rumah Sakit Khusus (RSK) Kalbar Jalan Alianyang.
Kondisi kesehatan Sera semakin memburuk karena tidak mau makan. Wanita tersebut seperti orang kebingungan, bahkan tidak mau berbicara. Maka tubuhnya lemas dan fisiknya lemah. Perawat di RSK Kalbar tidak berhasil berkomunikasi dengan Sera.
Sesampai di Soedarso, wanita yang tubuhnya semakin kurus dan wajahnya selalu menatap dinding di balik tirai juga tidak mau bicara. Karena sikapnya itu, YNDN dan Dinsos sulit untuk melacak keberadaan keluarga Sera.
“Hasil pemeriksaan yang dilaporkan ke YNDN dari pihak rumah sakit jiwa, Sera mengalami penyakit TBC. Bahkan petugas sempat panik melihat kondisinya yang semakin sekarat. Apalagi tidak mau makan sama sekali, itu yang membuat panik,” ungkap Devi Tiomana, Dirut YNDN, Minggu (13/5).
Devi mengatakan, YNDN dan Dinsos terus berusaha mencari tahu keluarga Sera. Namun dari paspor dengan KTP yang sudah dipalsukan oleh orang tidak bertanggung jawab, menyulitkan untuk melacak keluarga Sera.
“Kami juga mencari tahu dari alamat KTP dan juga tempat tanggal lahir yang tertera di paspor, tetapi masyarakat tidak ada yang mengetahuinya,” ungkap Devi.
Devi mengaku sudah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian untuk membantu mencari tahu alamat TKW yang sedang kritis itu. “Kami harap polisi berhasil menemukan keluarganya. Begitu juga dengan orang yang membuat paspornya. Menjadi pertanyaan besar, kenapa imigrasi menerima orang yang alamatnya palsu. Berarti tidak ada kejelasan di pihak imigrasi. Parahnya lagi, paspor diterbitkan di Pontianak,” jelas Devi. (sul)

Lagi, Kekerasan Seksual Menohok TKW Kita

Sera dalam perawatan di RSK Provinsi Sungai Bangkong
Syamsul Arifin
Sera dalam perawatan di RSK Provinsi Sungai Bangkong
Pontianak
 – 
Biadab! Seorang lagi tenaga kerja wanita (TKW) jadi korban kekerasan seksual di Sarawak, Malaysia Timur, dibuang di Jalan Kom Yos Sudarso dalam kondisi mengenaskan.
“Korban diduga mengalami kekerasan seksual yang luar biasa sehingga mengalami tekanan jiwa, traumatis, dan rasa takut berlebihan. Dari hasil pemeriksaan sementara, terdapat banyak luka di kemaluannya,” ungkap Dirut Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Kalbar, Kamis (10/5).
Dari penelusuran Equator, gadis kecil yang kini terbaring lemas dirawat di Rumah Sakit Provinsi di Jalan Alianyang Kota Pontianak. Perempuan asal Bengkayang yang bernama Sera diduga usianya masih di bawah umur kendati pada paspornya tertera kelahiran 1983. Diduga usia Sera dipalsukan saat pembuatan dokumen serta paspor.
“Dia ditemukan setelah diturunkan dari mobil berplat Malaysia, Minggu (6/5) malam, dalam kondisi mengenaskan. Gadis itu ketakutan melihat orang dan juga kesakitan,” tutur seorang warga sekitar lokasi ditemukan.
Pertama ditemukan, warga mulanya tidak menduga Sera mengalami stres berat dan luka-luka pada alat kelaminnya. Setelah tampak mencurigakan, akhirnya warga membawanya ke Polsek Pontianak Barat.
“Di Polsek dia dalam kondisi histeris, takut melihat orang, kesakitan. Karena diperiksa identitasnya adalah TKW, kemudian diserahkan ke YNDN,” tambahnya.
Dijelaskan Devi, malam itu juga Sera dilarikan ke RS Khusus Provinsi (Bekas Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong) dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Kendati badannya lemas, pandangannya kosong dan ketakutan, dia kerap meronta-ronta jika melihat orang tak dikenalnya. “Jadi, dari hasil pemeriksaan sementara dia mengalami kekerasan seksual yang tak tertanggungkan,” ujar Devi.
Menurutnya, TKW yang dibuang begitu saja dan telantar ini tidak jelas alamatnya, baik dari paspor maupun KTP-nya. “Pada KTP alamatnya di Kubu Raya, tetapi kelahirannya Bengkayang. Pihak YNDN sudah melakukan crosscheck KTP yang dibuat di Kubu Raya. Namun warga tidak mengetahui orangnya, bahkan tidak ada yang mengenalnya,” ujar Devi.
Dapat dipastikan, baik KTP maupun identitas dalam paspornya dipalsukan. Belum jelas apakah dilakukan oleh perusahaan pengerah tenaga kerja (PJTKI) yang resmi atau oleh calo TKI yang banyak memakan korban.
Dari tangan TKW itu ditemukan uang 77 Ringgit dan 20 sen serta pakaian dalam koper. “Ada beberapa pakaian dan snack. Kami duga dia korban trafficking. Meskipun paspor tertulis atas nama Sera kelahiran Bengkayang tahun 1983, namun dari fisiknya diperkirakan di bawah 17 tahun,” kata Devi.
Melihat cap dari paspornya, korban masuk dan berada di Malaysia selama dua tahun lalu dengan paspor kunjungan, bukan paspor kerja. Begitu juga paspor yang dicap imigrasi.
“Pihak kami akan membantu korban ini mencarikan keluarganya, karena sampai saat ini belum jelas alamatnya. Kecuali korban tidak trauma, akan lebih mudah. Sebelum dirawat di RSK Pontianak, korban sempat dirawat di Puskesmas Entikong,” katanya.
Sementara itu, Supardi, Kasubag TU RSK Provisi, mengatakan pasien diterima dari Depsos yang meminta untuk dirawat dengan kondisi depresi berat. “Sekarang korban sudah mendingan dari hari sebelumnya. Ada luka akibat kekerasan di bagian tubuhnya,” katanya.
Berbeda dari hari pertama saat masuk RSK, selain tubuhnya lemas dan ketakutan, kemarin lumayan membaik dan tidak berontak seperti hari-hari sebelumnya. “Sudah agak baikan, tetapi ia masih takut dengan orang yang tidak dikenalnya,” ungkapnya. (sul)

Sera Ditemukan Orang Tuanya

Orang tua Pronika (Sera)
Syamsul Arifin
Orang tua Pronika alias Sera menunjukkan koran Equator yang memuat anaknya
 
Pontianak –Setelah membaca Harian Equator, akhirnya Suma, 56, dan Magdalena, 54, warga asal Tulang Betung, Desa Sungai Tambang, Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau menemukan Pronika Wati, 17, buah hatinya.
Pronika Wati merupakan tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. Wanita tersebut mengubah namanya menjadi Sera untuk membuat paspor di Imigrasi Pontianak. Selain itu memalsukan alamatnya di dalam paspor.
“Saya yakin itu anak saya. Tetapi saya juga masih ragu, karena nama dan alamatnya tak sesuai dengan kartu keluarga (KK) kami. Saya yakin itu anak saya setelah melihat foto di paspornya dan di Koran Equator,” kata Magdalena, ibunda Pronika ketika ditemui wartawan Equator di Sekretariat Yayasan Nusantara Dian Nanda (YNDN), Jalan Ampera, Minggu (20/5).
Pronika berangkat ke Malaysia untuk bekerja ketika berusia 13 tahun. Dia diajak Yus dan diiming-imingi akan mendapatkan uang banyak dan juga berpakaian serbabaru kalau bekerja ke Malaysia. Kemudian Yus menyerahkannya ke Son, rekannya, agar mengurus paspor.
“Awalnya Yus yang juga masih ada hubungan keluarga dengan kami mengajak Pronika bekerja ke Malaysia. Namun kami sekeluarga tidak setuju, karena usia Pronika masih kecil,” ungkap Magdalena.
Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Yus membawa Pronika menemui Son. Kemudian Pronika berangkat ke Malaysia.
“Waktu itu saya sedang menoreh getah. Saat pulang Pronika sudah tidak ada. Kata tetangga, anak saya itu dijemput di jalan raya. Saat itu juga kami dengar kabar Pronika berangkat kerja ke Malaysia menjadi pengasuh anak,” ujar Suma, ayah Pronika yang didampingi Magdalena serta Halian, adik Pronika.
Setelah mengetahui anaknya berangkat ke Malaysia, Suma dan keluarganya berupaya mencarinya. Sayangnya, usaha mereka sia-sia. Meskipun telah menanyakan keberadaan Pronika ke Kantor Imigrasi Entikong, Sanggau.
“Kami akhirnya pasrah menunggu Pronika pulang dengan sendirinya. Meskipun begitu, kami terus melakukan komunikasi dengan Yus, orang yang membawanya ke Malaysia,” ungkap Suma.
Kepada wartawan Equator di kantor YNDN, Magdalena yang tak henti-hentinya menangis itu memotong pembicaraan suaminya dan mengatakan ingat terus dengan Pronika, salah satu anak perempuannya. Berbagai upaya sudah dilakukannya untuk mencari Pronika, bahkan minta bantuan orang pintar.
“Saudara Pronika ada enam, dia anak nomor lima. Kami hanya bisa berdoa agar anak saya kembali dengan selamat,” ujar Magdalena.
Akhirnya Pronika bertemu dengan kedua orang tuanya. Suma dihubungi keluarganya yang melihat foto Pronika di koran Harian Equator terbitan Sabtu (19/5) lalu. Saat itu Suma sedang membantu tetangganya yang akan melaksanakan pesta pernikahan.
“Setelah mendapatkan kabar keberadaan Pronika di RSUD Soedarso dan ditangani YNDN, kami lapor ke polisi dan berangkat ke Pontianak. Kami menuju alamat YNDN dan minta antar ke RSUD Soedarso,” ungkap Suma.
Pronika yang berganti nama menjadi Sera merupakan TKW telantar yang mengalami kekerasan fisik di Malaysia. Hingga saat ini wanita tersebut masih dirawat di RSUD Soedarso Pontianak. Pronika alias Sera mengalami depresi berat dan gangguan psikologis.
“Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini. Saya dan keluarga akan melaporkan kasus ini ke pihak berwajib,” papar Suma.
Yus yang merupakan keluarga dari istrinya sudah tidak ada di kediamannya. Bahkan warga yang berada di sekelilingnya tidak mengetahui keberadaannya.
“Kami akan cari dia sampai ketemu. Kami akan kasih dia pelajaran. Karena anak saya yang dibawanya, hanya bisa kembali stres. Itu pun sudah delapan tahun meninggalkan kami keluarganya,” tegas Suma.
Dirut YNDN Devi Theomana mengatakan Sera alias Pronika Wati hingga saat ini masih menjalani perawatan intensif di ruangan yang bisa dikatakan terlarang di RSUD Soedarso.
“Dia masih belum sembuh, bahkan dia tidak mau bicara. Meskipun dia masih belum sembuh, pihak kami akan membawanya melapor ke polda besok, Selasa (21/5), agar orang yang membawanya ke Malaysia diproses hukum,” ungkap Devi. (sul)

Senin, 21 Mei 2012

Oknum Guru Ngaji Gagahi 4 Siswi SMA Diduga Pakai Ilmu Hipnotis



 

BLANGPIDIE - Prilaku guru mengaji yang satu ini benar-benar tak pantas ditiru. Pasalnya, ia bukan mengajarkan ilmu agama, melainkan cara berbuat mesum. Sial bagi empat siswi SMA, jadi pelampiasan nafsu seks pelaku. Beruntung aksi kemarin terungkap, MM (58) pun melenggang ke dalam jeruji besi.

Menurut keterangan dihimpun Metro Aceh (Grup JPNN), empat korban kini dalam kondisi trauma. Mereka sama sekali tak sadar jika sudah dicabuli.

"Sudah 4 siswi yang melapor kepada kami, pelaku juga sudah kita amankan di Mapolres Abdya, untuk proses lebih lanjut. Kami terus mendalami kasus ini kemungkinan masih ada korban lain," kata Kapolres Abdya AKBP Eko Budi Susilo S.Ik melalui Kasat Reskrim Iptu Marzuki, Minggu (20/5).

Dugaan perbuatan asusila terungkap, ketika ada kejadian kesurupan yang sering menimpa siswi-siswi sebuah SMA Negeri di Abdya. Merasa tidak nyaman dengan hal tersebut, Kepala sekolah bersama dengan guru coba cari tahu "dalang" di balik kejadian.

Hingga ada seorang pengajar menerima laporan dari pemilik warung, yang berjualan di sekolah. Ia menyatakan ada satu siswi yang fisik dan aktifitasnya berubah dari biasanya setelah bertemu MM.

Penasaran, guru tersebut kemudian memanggil siswi yang dimaksud. Setelah dimintai keterangan, korban mengaku telah dicabuli MM. Karena dirinya pernah meminta tolong kepada pelaku, supaya pacarnya yang sudah putus bisa kembali. Ia percaya kepada si guru bejad tersebut, lantaran ada temannya yang berhasil saat meminta tolong hal serupa.

Ketika korban mendatangi MM dan menceritakan masalahnya, kakek bau tanah ini kemudian menyuruh korban menunggu di kantin miliknya. Kebetulan TKP juga berada di dalam komplek sekolah korban. Mereka lantas bertemu seusai jam belajar selesai.

Setelah keduanya bertemu, korban merasa tidak berdaya walaupun dalam keadaan sadar. Saat itu pula, pemilik kantin yang juga mengajar mengaji itu meraba-raba tubuhnya, hingga berujung seperti layaknya berhubungan intim .

Terakhir diketahui, perlakuan bejat itu juga pernah dilakukan kepada tiga siswi lainnya dengan beragam modus. Bahkan menurut sumber, ada korban langsung disuruh MM mendatangi rumahnya.

Terkait kasus tersebut, Kasat Reskrim Polres Abdya Iptu Marzuki, dihubungi Metro Aceh pada Minggu (20/5) siang membenarkan. "Tersangka kita amankan di komando, untuk menghindari amuk massa. Mengenai korban-korban lainnya masih kita lacak," jelas Kasat. (ria)

Ibu Jual Anak Jadi PSK



 
BANDUNG - Id (40) seorang ibu, tega menjual anaknya sendiri SE ke pulau Sumatera untuk dijadikan penghibur lelaki hidung belang. Warga kampung Murci RT 04/02 Desa Cilampeni Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung itu diadukan kakak iparya ke polisi.

Semalam saat Bandung Ekspres (Grup JPNN) menemui keluarga di Kampung Murci, membenarkan telah kehilangan anggota keluarganya. Namun yang mereka tahu SE meniggalkan rumah karena alasan bekerja. Hal itu diakui ayah tiri SE Anung (45) kepada wartawan.

Dengan disaksikan Iman (40), saudara SE, Anung menjelaskan. Dia mengaku SE bekerja sejak beberapa Minggu lalu. Bahkan belum lama ini SE  menikah dengan seorang pria yang juga warga Katapang.  Namun dari pernikahan tersebut tidak berlangsung lama. Akibatnya dia diduga frustasi. "Saya tidak tahu Se perginya sudah berapa lama. Namun yang saya tahu SE pergi dari rumah untuk bekerja," kata Anung.

Dia menjelaskan SE merupakan anak istrinya, Ida, hasil pernikahan dengan lelaki lain. Sedangkan dengan dia, Ida memilikianak dua yakni Silvi (12) dan Salman (2). Ida, kata Anung, tidak pernah banyak bicara soal anaknya itu. Selain itu Anung juga enggan banyak bertanya kepada Ida terkait anaknya itu.

"Saya dirumah tidak terlalu banyak bicara dengan istri saya. Karena juga takut dikatakan yang bukan-bukan. Untuk itulah saya gak tahu kemana perginya anaknya saya yang bernama SE itu. Pokoknya semenjak menikah itu dan katanya cerai saya juga tidak tahu," papar Anung.

Dari hubungannya yang kurang harmonis diantara keluarga itu Anung pun mengaku kehilangan informasi terkait anak tirinya itu. Dia mengatakan dengan kabar dari Bandung Ekspres membuat keluarga itu kaget. Karena selama ini Ida tidak pernah kemana-mana, bahkan bisa dikatakan banyak diam diri di rumahnya. "Istri saya tidak kemana-mana kok, dia ada di rumah," katanya.

Di tempat terpisah, Kapolres Bandung AKBP Sandi Nugroho mengatakan pihaknya sudah mendengar tentang jaringan pelaku human trafficking di Kabupaten Bandung. Pihaknya mengaku masih melakukan penyelidikan atas hal tersebut.

"Memang laporannya telah masuk kepada kami. Tapi masih belum jelas, sehingga kami saat ini masih melakukan pendalaman dengan terus memantau perkembangannya," katanya.

SE, lanjutnya, diduga menjadi korban perdagangan manusia atau human trafficking. Dia diperdaya dan dipaksa menjadi wanita penghibur di tempat hiburan malam di Lubuk Linggau Sumatera Selatan.

Awalnya, SE dijanjikan bekerja sebagai pelayan toko di Jakarta. Namun, ternyata dia malah dibawa ke Sumatera dan dipaksa menjadi wanita penghibur. Kakak ipar SE, Dadang  sudah melaporkan kejadian yang menimpa adik iparnya itu ke Polres Bandung

SE (17) yang dipaksa jadi wanita penghibur di sebuah tempat hiburan malam, kaget. Di tempatnya bekerja, ternyata ada perempuan yang senasib dengannya dan juga berasal dari Kabupaten Bandung.

SE mengatakan selain dirinya, ada seorang temannya yang juga berasal Warung Lobak Desa Gandasari Kecamatan Katapang PI. SE mengatakan kondisi PI pun tidak kebih baik dari dirinya.

"Kalau Vi, dia baru datang. Dia juga sama merasa terjebak dengan pekerjaan ini. Kalau dia awalnya memang mau mencari kerja, dikiranya bukan pekerjaan seperti ini. Celakanya, berdasarkan kabar dari orang-orang di sini, mereka mau mendatangkan lagi gadis-gadis dari Kabupaten Bandung, saya harap itu tidak terjadi kasihan cukup saya saja yang menderita," paparnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, SE, dijual oleh ibunya, Ida warga Kampung Muara Ciwidey Desa Cilampeni Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung. SE yang merasa dipaksa jadi wanita penghibur lalu menghubungi suaminya dan menceritakan semua kejadian buruk yang menimpanya.

Dadang mengatakan, perempuan yang dipaksa bekerja di tempat hiburan malam di Sumatera Selatan menduga merupakan korban human trafficking atau perdagangan manusia.

Dadang yang merupakan kakak dari Septiadi (20), suami SE, mengatakan dirinya sudah melaporkan kejadian yang menimpa adik iparnya itu ke Polres Bandung pada 13 Mei lalu. Pihaknya, lanjut Dadang, saat ini masih menunggu janji dari orang tua SE yang akan membawa anaknya pulang.

"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Polres Bandung. Kami khawatir, dia ini menjadi korban trafficking, tapi kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ini yang bisa kami lakukan hanya menunggu dia hingga 2 bulan kemudian, sesuai janji orang tuanya. Kami hanya ingin dia pulang," ujar Dadang. (gun)

Kenal Cowok Lewat Fb, Cewek Batam Terjaring di Kamar Indekos

Tujuh Pasangan Mesum Diamankan
Pasangan mesum indekosan Jalan Johar
Syamsul Arifin
Pasangan cowok Pontianak dan cewek Batam yang terjaring di indekosan Jalan Johar
 
Pontianak –  Satpol PP Kota Pontianak mengamankan tujuh pasangan mesum dan dua warga tanpa identitas ketika merazia indekosan di wilayah Pontianak Kota, Rabu (16/5).
Petugas Satpol PP merazia indekosan dan penginapan di Jalan Johar, Podomoro, dan penginapan di Kompleks Pontianak Mal, Jalan Teuku Umar.
Petugas gabungan Satpol PP, Polri, dan TNI itu menemukan pasangan mesum bukan suami istri berada sekamar. Rata-rata mereka yang terjaring masih berusia remaja. Para pasangan mesum itu diangkut ke mobil Satpol PP. Mereka dibawa ke kantor Satpol PP untuk dilakukan pendataan dan dikenakan tindak pidana ringan.
Saat dilakukan pendataan, ada pasangan mesum yang mengaku berkenalan via Facebook. Mereka sering chatting, pasangan pria warga Pontianak dan wanitanya warga Batam. Akhirnya wanita yang kecantol dengan pemuda tersebut datang ke Pontianak dan menginap sekamar di indekos Jalan Johar.
Wanita berinisial Yn, 20, mengaku datang ke Pontianak, selain bertemu Tri, pria yang dikenalnya melalui Facebook, juga untuk mencari pekerjaan.
“Saya baru datang sekitar dua minggu lalu ke Pontianak. Namun saya sudah sering ke sini dan ngekos,” ungkap Yn.
Yn mengaku datang ke Pontianak ingin mencari pekerjaan dan juga ingin bertemu dengan kekasihnya. “Orang tua saya sudah tahu kalau saya mau main ke Pontianak. Tapi hingga saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. KTP masih dalam proses di daerah Batam,” ungkapnya.
Sementara Tri warga Pontianak Kota pasangan Yn mengatakan ingin membantu Yn untuk mencarikan pekerjaan. Namun hingga saat ini masih belum mendapatkannya. “Saya kerja sebagai instalatir listrik, sambil membantu Yn mencari pekerjaan. Saya di indekosannya hanya menumpang menginap,” kilah Tri.
Kabid Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Pontianak Kus Pancadiarto mengatakan razia tersebut merupakan razia rutin untuk menegakkan Perda Tibum. Selain itu menindaklanjuti laporan dari masyarakat tentang adanya keresahan atas maraknya penginapan di Kota Pontianak yang dijadikan tempat mesum.
“Kita lakukan sebagai langkah penegakan perda. Mereka yang terjaring razia akan dikenakan tipiring,” ungkap Kus.
Pemilik penginapan ada kewajiban menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Artinya tidak menyediakan penginapan sebagai tempat melakukan perbuatan mesum. Selain itu pemilik penginapan atau indekos harus mengikuti aturan, menjaga jangan sampai tempat indekos menampung orang-orang yang tidak memiliki identitas ataupun bukan suami istri.
Terkait dengan orang yang menginap atau menyewa indekos, diimbau untuk dapat menaati peraturan dan tidak melakukan pelanggaran yang dapat meresahkan masyarakat.
“Dari seluruh warga yang kita jaring tersebut akan dilakukan pembinaan dan dikenakan tipiring, sehingga membuat efek jera. Terhadap pemilik indekos, kita akan lakukan koordinasi dengan dinas terkait untuk dapat memberikan peringatan,” papar Kus. (sul)

Diancam Santet, Perawan Dijebol

Sungai Raya – Takut diancam akan disantet jika tidak melayani nafsu bejat pacarnya, NN, 16, terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada Bd, 23, yang baru menjadi kekasihnya selama setahun terakhir.
Gadis Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kubu Raya itu menceritakan, keperawanannya direnggut pada Desember 2011 lalu. Saat itu dirinya dipaksa melayani nafsu bejat Bd karena mendapatkan ancaman.
Kejadian tersebut terus berlangsung hingga sampai lima kali hingga Mei 2012. Tak tahan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Bd, akhirnya Nn melaporkan pacarnya ke Polsek Sungai Raya.
“Ketika mau berangkat sekolah, saya dicegat Bd di depan Gang Wonodadi Jalan Adisucipto, Kubu Raya. Saya dipaksa ikut ke rumahnya di Gang Ringin Sari 1, Jalan Adisucipto. Kemudian saya dipaksa melayani dia lagi di rumahnya dengan di bawah ancaman dia. Bahkan, Bd mengancam mau menyantet saya, Bd juga bilang mau membunuh saya jika tidak melayaninya,” kata NN ditemui wartawan di Polsek Sungai Raya, kemarin.
Beruntung datang salah seorang rekan Bd ke rumahnya, sehingga NN berkesempatan untuk melarikan diri melalui pintu belakang. “Ada temannya datang ke rumah dan saya langsung kabur lewat pintu belakang. Saya langsung pulang ke rumah dan melaporkan kejadian ini ke polisi. Dia kemungkinan tidak terima, karena sebulan yang lalu saya putuskan. Sehingga dia menjadi marah seperti ini. Dia bahkan menampar saya ketika saya tidak mau melayani dia di rumahnya,” jelas NN.
Saat melayani nafsu bejat Bd, gadis tersebut masih mengenakan seragam sekolah. Bahkan ketika melaporkan Bd ke Polsek Sungai Raya, juga mengenakan seragam sekolah. Wajahnya lesu dan lemas setelah melayani nafsu Bd.
“Saya sudah tiga kali memutuskan dia, namun sampai hari ini dia tidak mau. Saya dengan dia jarang bertemu, karena dia kerja di luar kota terus. Saya mau dia dihukum seberat-beratnya, karena saya tidak terima perlakuan yang dilakukannya kepada saya,” kesal NN.
Kapolsek Sungai Raya AKP Jajang SKom mengatakan ketika mendapat laporan, anggota Polsek Sungai Raya langsung mencari pelaku di rumahnya. Bd akhirnya diringkus polisi. Kemudian pelaku langsung diamankan ke Polsek Sungai Raya.
“Kasus ini dilimpahkan ke Polresta Pontianak, karena di polsek tidak ada bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Pelaku juga diserahkan ke Polresta Pontianak untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sementara korban akan memberikan keterangan di sana, karena di polresta ada polwan yang akan meminta keterangan lebih lanjut kepada korban,” ungkapnya.
AKP Jajang menjelaskan, selama tahun 2012, sudah ada tiga laporan mengenai pemerkosaan yang terjadi di wilayah hukum Polsek Sungai Raya. Semuanya diserahkan ke Polresta Pontianak, karena di polresta memiliki bagian yang berwenang. (oen)

Guru dan Bidan Digerebek

Dua Hari Ngamar di Hotel
 
Sanggau – Asyik berduaan di kamar salah satu hotel di jantung Kota Sanggau selama dua hari, Alf, 27, guru honorer dan Os, 24, bidan yang bertugas di desa di Meliau, digerebek Satpol PP Sanggau, Jumat (11/5) sekitar pukul 21.00.
Penggerebekan dua sejoli ini dilakukan setelah petugas Satpol PP mendapatkan laporan dari salah seorang keluarga bidan cantik itu. Keluarganya meminta petugas Satpol PP melakukan penggerebekan karena ulah mereka selama ini telah meresahkan keluarga.
Petugas Satpol PP menggunakan mobil patroli langsung meluncur ke hotel. Ketika pintu diketok petugas, dibuka pria yang bekerja sebagai guru honorer. Sedangkan pasangannya bidan desa sedang berbaring di tempat tidur hotel di kamar tersebut.
Pasangan tersebut kaget ketika yang masuk ke kamar mereka rombongan pria yang berseragam Satpol PP. Kedua pasangan tersebut berusaha menyembunyikan tabiatnya. Tanpa banyak bicara, petugas menggelandang pasangan itu ke kantor Satpol PP.
Di hadapan petugas Satpol PP, Os si bidan desa mengaku masih berstatus Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tujuannya datang ke Sanggau untuk mengurusi persiapan untuk prajabatan. Selain itu ia berkelit tidak mengetahui bahwasanya menginap sekamar dengan bukan pasangan dilarang.
Lain halnya pengakuan Alf si guru honorer, dia mengaku sudah meminta izin kepada orang tua si bidan. Namun pernyataannya dibantah salah seorang kerabat bidan yang baru tiba dari Meliau. Ternyata bidan desa itu sudah PNS penuh dan mengantongi Surat Keputusan (SK).
“Dia (Os) itu sudah PNS. SK-nya sudah ada, kalau tak salah sudah dua tahun ini. Mana ada minta izin kepada orang tua, mereka pergi begitu saja,” ujar salah seorang wanita yang mengaku bibi si bidan di kantor Satpol PP, kemarin.
Kepala Satpol PP Drs H Chairudin Rais MSi mengungkapkan, berdasarkan keterangan keluarga Os, wanita tersebut sudah tiga hari tak pulang dan menginap di salah satu hotel. Khusus untuk si bidan akan dilakukan pembinaan. Terkait dengan persoalan hubungan keduanya, akan diserahkan ke pihak keluarga.
“Kita melaksanakan pembinaan, kan data-data mereka sudah kita catat. Untuk urusan hubungan, kita serahkan dengan keluarga mereka,” jelas Chairudin. (SrY)

Mimpi Besar Bung Karno dan Kemerdekaan Ekonomi Indonesia



 
Dulu saya sering heran kalo liat SPBU macem Shell, Petronas dan SPBU asing lainnya yang berjajar di pinggir jalan, mereka berdagang tapi nggak ada yang beli, apa mereka untung? Tapi kenapa mereka membangun gedung yang megah walaupun pelangganya nyaris dikatakan kosong melompong, tak ada mobil yang mau belok ke SPBU asing yang cuman jualan Pertamax. Kini saya baru mengerti ternyata itu diskon atas investasi yang mereka lakukan, lalu bagaimana mereka bisa yakin berbisnis di Indonesia, ternyata mereka memang udah tau arah perkembangan ekonomi politik kita sekarang, regulasi minyak kita mengarah pada Pasar Bebas, Pemerintah lebih suka menjual premium ke pasar spekulasi NYMEX, ketimbang nyalurin ke rakyatnya sendiri. Jadi saya paham bagaimana kemudian 40 perusahaan asing memegang beslit lisensi 20.000 hak pembangunan SPBU, ini artinya nanti bakal ada 800.000 SPBU asing bermain di pasaran distribusi ritel.
Rupanya kita harus belajar ‘Ilmu Sinyalemen, Ilmu Pertanda’. Adanya SPBU asing, regulasi yang dipermainkan dan trik-trik politik dagang yang dikenalkan ke ruang publik adalah bagian besar penggiringan ekonomi Indonesia ke dalam pasar bebas yang mendikte ruang ekonomi rakyat. Untuk memahami ini dan memeriksa kenapa bangsa kita jadi budak asing dan bego begini tak mengerti bagaimana membangun pasar sendiri, kita juga harus mengerti sejarah, dulu di tahun 1960 Bung Karno mengundang Chaerul Saleh, Achmadi, Djuanda Kartawidjaja, Ibnu Soetowo dan Jenderal Nasution ke Istana Negara pada suatu pagi, mereka ngobrol tentang politik minyak bumi nasional. “Aku ingin Permina menjadi Perusahaan minyak raksasa, perusahaan yang mampu berdikari, mampu menopang perekonomian Indonesia, Permina bisa digunakan sebagai alat pertama dalam membangun ekonomie Indonesia, seluruh perusahaan minyak asing yang ada di Indonesia ini saya tekan harus bantu Permina, selain bisa ngebor minyak sendiri, membangun rafinerij-nya (rafinerij =kilang, bahasa Belanda), juga mampu membangun jaringan distribusinya, dari situ kemudian terbentuk Pasar bangsa sendiri”. Bung Karno adalah Presiden RI yang terobsesi membangun perekonomian Indonesia yang kuat, Indonesia mampu membangun pasar-pasarnya sendiri, perekonomiannya harus dipegang “Orang Indonesia sebagai Panglima” seperti yang ia bilang pada Dasa’at ketika ia didatangi Dasa’at yang baru saja pulang dari kunjungan bisnis di Amerika Serikat dan membawakan dasi serta parfum Shalimar, parfum kesukaan Bung Karno : “Heh, Dasa’at aku ini bermimpi membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang bisa membangun seluruh jaringan pasar-pasarnya sendiri di semua kota, seluruh perdagangan dipegang orang Indonesia, pendek kata “Orang Indonesia harus jadi Panglima atas ekonomie Indonesia”. Itulah mimpi Bung Karno, dan ia bertarung dalam mimpi itu. Ia bikin Revolusi, ia jungkir balikken keadaan. Bung Karno bilang “Kebudayaan yang Berkepribadian, akan menyokong kesejahteraan, ia bukan sadja penjumbang peradaban dunia, tapi djuga penjumbang ekonomie bagi bangsanja” Bung Karno berkata itu kemudian benar adanya, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea Selatan mampu menjadikan produk budaya mereka sebagai sumber ekonomie besar yang menyumbang kesejahteraan bangsanya.
Tindakan Bung Karno jelas nggak disenengin boss-boss besar perusahaan minyak asing, apalagi Bung Karno berhasil rebut Irian Barat, gertak Imperialis Inggris, bilang ke Malaysia, “Revolusi Indonesia adalah lonceng kematian imperialisme” dalam ancamannya ke Malaysia Bung Karno berpidato yang konteks-nya amat berjangkauan panjang “sebab het wezen atau inti daripada imperialisme adalah, membuat bangsa-bangsa tidak berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip inti imperialisme ialah membuat bangsa-bangsa memerlukan barang-barang bikinan imperialis, memerlukan persenjataan pihak imperialis, memerlukan bantuan pihak imperialis” Disini Bung Karno sudah memperkirakan bahwa pada akhirnya akan ada bentuk NeoImperialisme dalam bentuk Modal yang membuat bangsa-bangsa ‘lemah modal’ bergantung pada bangsa ‘kuat modal’.
Keberanian Bung Karno ini kemudian bikin marah boss-boss minyak asing, apalagi Bung Karno bisa rebut Irian Barat dengan diplomasi gertak tanpa harus menembakkan sebiji rudal-pun. Setelah Irian Barat takluk, Negara barat pun menggunakan taktik intelijen dan kontra intelijen buat ngadepin Bung Karno, akhirnya Bung Karno jatuh beneran di tahun 1967. Dia diinternir, setelah kejatuhan Bung Karno masih ada Ibnu Sutowo yang mati-matian masih pegang amanat Bung Karno bikin Permina besar, semasa awal Orde Baru nama Permina diganti jadi Pertamina, Suharto sendiri belum menemukan orang sehebat Ibnu Sutowo yang bermodalkan hanya tambang minyak tua di Pangkalan Brandan dengan empat meja dan lima kursi serta tiga sepeda bisa membangun kilang minyak terbesar di Asia. Saat itu Ibnu berambisi menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak raksasa, sebagai pendorong ekonomi nasional, semua lini industri dimasuki Pertamina untuk memancing perekonomian swasta bergerak, mulai dari Real Estate, Pangan sampai pada Rumah Sakit, dibawah jaringan Pertamina. Ibnu juga berani maen spekulasi, ia bangun LNG, gas cair yang ditertawakan pembesar Jepang, tapi Ibnu berhasil dengan spekulasi itu, lalu Ibnu dijebak pada pembatalan pinjaman jangka panjang, Ibnu dituduh korupsi, Pak Harto juga takut bila Ibnu besar maka akan mudah membiayai lawan-lawan politiknya, saat itu rivaal Suharto masih kuat dan awalnya mereka dulu atasan Suharto seperti Nasution, Bung Hatta atau Sri Sultan HB IX, Suharto juga takut dengan anak buahnya yang naik daun macam Jenderal Mitro, Jenderal Jusuf ataupun Jenderal Ali Moertopo, semua adalah ancaman Suharto dalam merebut Istana Merdeka dari tangan Suharto. Mundurnya Ibnu Sutowo, juga berarti hancurnya rencana besar minyak nasional yang berencana bukan saja sebagai Perusahaan Minyak terbesar di Asia, tapi Perusahaan Minyak terbesar di dunia.
Kini saya hanya mengelus dada, melihat SPBU-SPBU asing itu menguasai pinggir-pinggir jalan raya, bahkan untuk menguasai pasar retail saja orang Indonesia tidak bisa menjadi Panglima-nya. Kini orang Indonesia dipaksa beli Pertamax oleh pemerintahan budak asing ini, padahal persediaan Premium masih berlimpah, Pemerintah hanya ingin jual Premium ke pasar spekulasi, banyak orang Indonesia susah karena didikte atas kemauan Pasar Bebas. Benar kata Bung Hatta di masa lampau di tahun 1954 ketika berpidato di depan Pabrik Tekstil milik pengusaha Indonesia yang baru aja diresmikan sendiri oleh Bung Hatta “Apalah arti Kemerdekaan bila orang Indonesia tak punya hak-hak ekonomie-nya?